Advertisement

Sosok di Balik Suksesnya Alek Batagak Pangulu Pasukuan Koto Nan Salapan Kamang Hilia (27–28 Desember 2025)

AKTAMEDIA.COM, BUKITTINGGI – Alek Batagak Pangulu merupakan salah satu peristiwa adat terbesar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Ia bukan sekadar seremoni pengangkatan gelar, tetapi juga momentum kebangkitan marwah kaum, penguatan nilai adat, serta peneguhan kembali peran niniak mamak dalam membimbing anak kemenakan.

Hal itulah yang tergambar jelas dalam pelaksanaan alek Batagak Pangulu Pasukuan Koto Nan Salapan di Kamang Hilia pada tanggal 27–28 Desember 2025. Sebuah alek yang tidak hanya sukses secara pelaksanaan, tetapi juga sarat makna, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur adat Minangkabau.

Gagasan yang Menggerakkan

Di balik kesuksesan alek ini, berdiri sosok yang menjadi penggerak awal, yaitu Dr. Novi Irwan, S.Pd., M.Pd., Ketua Pasukuan Koto Nan Salapan yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Agam.

Baca Juga :

Wagub Uda Vasco Hadiri Acara Batagak Pangulu Di Kamang Hilia

Gagasan untuk mengadakan alek Batagak Pangulu tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari kegelisahan adat—keinginan untuk mambangkik tarandam, mangkikkan nan tabanam. Dalam sebuah wirid bulanan pasukuan, beliau menyampaikan usulan agar Pasukuan Koto Nan Salapan kembali menghidupkan alek besar tersebut.

Usulan ini mendapat respon yang luar biasa dari niniak mamak dan seluruh anggota pasukuan. Semangat kebangkitan adat yang selama ini terpendam seakan menemukan momentumnya.

Panitia sebagai Penggerak Lapangan

Untuk merealisasikan gagasan tersebut, dibentuklah kepanitiaan yang diketuai oleh Imam Razi Datuak Pangulu Mudo, seorang tokoh muda yang sebelumnya dikenal dengan gelar Imam Batuah. Sosok ini menjadi kunci dalam pelaksanaan teknis di lapangan.

Bersama tim panitia dan dukungan penuh dari bundo kanduang, Imam Razi menggerakkan seluruh elemen pasukuan. Mereka tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi juga membangun semangat kolektif di tengah masyarakat.

Persiapan dilakukan dengan sangat matang. Selama hampir satu tahun penuh, rapat-rapat pemantapan dilaksanakan secara rutin setiap bulan. Posko kegiatan dipusatkan di Jalan Basimpang, di rumah orang tua Imam Razi Datuak Pangulu Mudo, yang menjadi pusat koordinasi sekaligus tempat lahirnya berbagai keputusan penting.

Dinamika Kaum: Riak yang Tak Terelakkan

Sebagaimana lazimnya sebuah alek besar, perjalanan menuju pelaksanaan tidak selalu berjalan mulus. Di internal kaum, muncul riak-riak dan dinamika, terutama terkait penentuan siapa yang akan diangkat menjadi datuak.

Hal ini merupakan sesuatu yang wajar dalam adat, karena gelar datuak bukan hanya simbol, tetapi juga amanah besar yang menyangkut kepemimpinan kaum.

Namun di sinilah terlihat kepiawaian seorang Imam Razi. Dengan pengalaman organisasi dan pendekatan yang bijaksana, ia mampu meredam potensi konflik. Ia tidak memaksakan kehendak, tetapi membuka ruang musyawarah, mencari mufakat, dan menghadirkan solusi yang dapat diterima bersama.

Riak yang semula berpotensi menjadi perpecahan, justru berubah menjadi kekuatan yang mempererat hubungan antar anggota kaum.

Strategi Efisiensi: Alek Besar Tanpa Beban Berat

Salah satu keunggulan dari alek ini adalah keberhasilan panitia dalam mengelola biaya secara efisien. Dalam banyak kasus, alek Batagak Pangulu seringkali menjadi beban berat bagi kaum, bahkan tidak jarang memicu persoalan ekonomi seperti penggadaian sawah atau penjualan harta pusaka.

Namun hal tersebut tidak terjadi dalam alek ini.

Panitia menerapkan prinsip efisiensi tanpa mengurangi nilai adat. Berbagai kebutuhan seperti spanduk, pakaian datuak, konsumsi gotong royong, hingga administrasi di Kerapatan Adat Nagari dikelola secara terencana dan transparan.

Seorang mamak kepala waris mengungkapkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh kaum sangat ringan. Mereka hanya menanggung kebutuhan di rumah masing-masing seperti mangarumahan buek arek serta gotong royong pembuatan gaba-gaba.

Pendekatan ini tidak hanya meringankan beban, tetapi juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi seluruh anggota kaum.

Gotong Royong yang Hidup Kembali

Lebih dari sekadar efisiensi, alek ini berhasil menghidupkan kembali nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau.

Setiap anggota kaum berpartisipasi secara spontan. Ada yang menyumbang tenaga, ada yang memberikan materi, dan ada pula yang membantu dalam bentuk pemikiran. Tidak ada paksaan, semua bergerak atas dasar rasa memiliki.

Inilah yang menjadi kekuatan utama dari alek Batagak Pangulu Pasukuan Koto Nan Salapan—kebersamaan yang lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan.

Dukungan dan Kehadiran Tokoh Penting

Keberhasilan alek ini semakin lengkap dengan kehadiran tokoh-tokoh penting, termasuk Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai tamu kehormatan, tetapi juga sebagai bentuk pengakuan terhadap pentingnya pelestarian adat dan budaya Minangkabau.

Momentum ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kamang Hilia, sekaligus memperkuat posisi adat dalam kehidupan sosial.

Makna Lebih Dalam dari Sebuah Alek

Alek Batagak Pangulu ini bukan sekadar pengangkatan gelar, tetapi juga simbol kebangkitan nilai-nilai adat. Ia menjadi pengingat bahwa adat bukanlah sesuatu yang usang, melainkan pedoman hidup yang tetap relevan.

Dalam alek ini terlihat jelas bahwa:

Kepemimpinan adat masih dihormati

Musyawarah masih menjadi jalan utama penyelesaian masalah

Gotong royong masih menjadi kekuatan sosial

Kebersamaan masih menjadi fondasi utama kehidupan kaum

Inspirasi untuk Masa Depan

Pengalaman Pasukuan Koto Nan Salapan ini memberikan pelajaran berharga bagi nagari dan pasukuan lain. Bahwa alek besar tidak harus identik dengan biaya besar. Dengan manajemen yang baik, kepemimpinan yang bijak, serta kebersamaan yang kuat, segala tantangan dapat diatasi.

Alek ini menjadi bukti bahwa ketika niniak mamak, bundo kanduang, dan anak kemenakan bersatu, maka adat akan tetap tegak berdiri.

Keberhasilan alek Batagak Pangulu Pasukuan Koto Nan Salapan Kamang Hilia adalah hasil dari sinergi banyak pihak—dari penggagas, panitia, niniak mamak, hingga seluruh anggota kaum.

Semoga segala usaha, tenaga, dan pengorbanan yang telah diberikan menjadi amal jariah di sisi Allah SWT. Dan semoga alek ini menjadi tonggak kebangkitan adat yang terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *