AKTAMEDIA.COM, PADANG – Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, pengangkatan seorang datuak bukan sekadar seremoni biasa. Ia adalah peristiwa adat yang sarat makna, simbol kehormatan, serta pengukuhan kepemimpinan dalam kaum. Prosesi ini lazimnya diwujudkan dalam bentuk baralek datuak yang dilaksanakan secara nagari, melibatkan banyak pihak, serta menuntut kesiapan lahir dan batin—terutama dari segi finansial.
Namun dalam perkembangan zaman, muncul satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan: baralek datuak kini sering menjadi ujian berat bagi kekuatan ekonomi kaum.
1. Rangkaian Biaya: Dari Adat ke Beban Nyata
Dalam praktiknya, baralek datuak tidak lepas dari berbagai komponen pembiayaan, di antaranya:
1. Iuran kepada panitia baralek nagari
Sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan bersama, kaum wajib memenuhi ketentuan yang telah disepakati oleh panitia.
2. Biaya mangarumahan buek arek
Ini merupakan bentuk penghormatan dan penyambutan kepada datuak yang akan diangkat, yang melibatkan persiapan rumah dan jamuan.
3. Biaya gotong royong
Termasuk pembuatan gaba-gaba, pemasangan marawa, hingga spanduk sebagai simbol kemeriahan dan identitas adat.
4. Pakaian kebesaran datuak
Seorang datuak harus tampil dengan pakaian adat lengkap: baju, celana hitam, serta deta sebagai simbol kepemimpinan.
5. Biaya penjemputan datuak
Terutama bila datuak diangkat melalui pihak istri, maka diperlukan prosesi penjemputan yang melibatkan dua pihak: rumah datuak dan rumah pihak istri, yang keduanya sama-sama memerlukan biaya.
Jika dijumlahkan, keseluruhan kebutuhan ini bisa mencapai ±50 juta rupiah, bahkan lebih, tergantung skala acara. Biaya tersebut umumnya ditanggung melalui iuran dari masing-masing keluarga dalam kaum.
2. Ketika Sumber Kaum Tidak Lagi Memadai
Pada masa lalu, beban seperti ini relatif dapat ditopang oleh keberadaan harta pusaka kaum, seperti sawah dan ladang. Hasil dari pengelolaan bersama ini menjadi penyangga ekonomi untuk berbagai kepentingan adat, termasuk baralek datuak.
Namun hari ini, kondisi itu banyak berubah:
Sawah dan ladang tidak lagi produktif seperti dulu
Sebagian telah digarap secara individual, bukan kolektif
Bahkan ada yang sudah tidak bisa lagi digadaikan
Akibatnya, beban pembiayaan bergeser ke individu-individu dalam kaum, yang tidak semuanya memiliki kemampuan ekonomi yang sama.
Di sinilah muncul persoalan:
Apakah adat tetap harus dijalankan dengan standar lama, sementara kemampuan kaum sudah berbeda?
3. Antara Marwah dan Mudarat
Dalam adat Minangkabau, marwah atau kehormatan kaum memang sangat dijunjung tinggi. Pengangkatan datuak adalah simbol kebesaran, sehingga pelaksanaannya diupayakan sebaik mungkin.
Namun adat juga mengajarkan kebijaksanaan:
> “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”
“Sakali aia gadang, sakali tapian barubah”
Artinya:
Adat harus berjalan seiring dengan nilai-nilai agama
Keadaan boleh berubah, dan adat pun dapat menyesuaikan
Jika pelaksanaan adat justru menimbulkan:
Utang yang memberatkan
Tekanan sosial dalam kaum
Bahkan konflik internal
Maka perlu dipertanyakan:
Apakah marwah yang dijaga, atau gengsi yang dipaksakan?
4. Musyawarah: Kunci Menyelaraskan Adat dan Realitas
Solusi dari persoalan ini bukan dengan meninggalkan adat, melainkan mengembalikan adat kepada semangat aslinya, yaitu musyawarah dan kebijaksanaan.
Beberapa langkah yang dapat ditempuh:
a. Menentukan skala baralek secara realistis
Tidak semua unsur harus dilaksanakan secara besar-besaran. Yang utama adalah prosesi inti, bukan kemewahan tampilan.
b. Memilah antara kewajiban dan pelengkap
Wajib: pengangkatan datuak, pakaian adat, prosesi inti
Pelengkap: dekorasi berlebihan, spanduk besar, konsumsi yang melampaui kebutuhan
c. Sistem iuran yang adil
Iuran tidak harus sama rata, tetapi disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota kaum.
d. Melibatkan perantau
Jika memungkinkan, perantau dapat dilibatkan sebagai bentuk partisipasi, namun tetap tanpa paksaan.
e. Menjaga harta pusaka
Harta pusaka tidak seharusnya dikorbankan untuk kebutuhan seremonial sesaat. Ia adalah penopang masa depan kaum.
5. Menjaga Adat Tanpa Mengorbankan Kaum
Baralek datuak adalah kebanggaan, tetapi juga amanah. Jangan sampai karena ingin menjaga kehormatan di mata orang lain, kaum justru terpuruk dalam kesulitan ekonomi.
Perlu disadari bahwa:
Adat bukan untuk membebani, tetapi untuk memuliakan
Kebersamaan lebih penting daripada kemewahan
Keberlanjutan kaum lebih utama daripada satu kali perayaan.
Diuji secara finansial dalam baralek datuak adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari di zaman sekarang. Namun ujian itu sekaligus menjadi cermin: apakah kaum mampu menyikapi adat dengan bijaksana, atau justru terjebak dalam formalitas tanpa makna.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kaum itu sendiri.
> Lebih baik baralek sederhana tapi bermakna,
daripada baralek besar namun meninggalkan beban berkepanjangan.
Karena sejatinya, marwah adat tidak diukur dari besarnya biaya,
melainkan dari kebijaksanaan dalam menjaganya.














Leave a Reply