AKTAMEDIA.COM, TEHERAN – Abolhassan Banisadr memang sering disebut sebagai “Presiden Iran yang dikudeta.” Namun secara sejarah, peristiwa yang terjadi sebenarnya bukan kudeta militer, melainkan pemakzulan politik oleh parlemen Iran yang didukung oleh Pemimpin Tertinggi Iran saat itu.
Berikut fakta sebenarnya:
1. Presiden pertama setelah Revolusi Iran
Setelah Iranian Revolution, Iran berubah dari kerajaan menjadi republik Islam.
Pada 26 Januari 1980, Banisadr memenangkan pemilihan presiden pertama Iran.
Ia dianggap dekat dengan pemimpin revolusi Ruhollah Khomeini dan memperoleh sekitar 75% suara rakyat.
Namun hubungan keduanya kemudian memburuk.
2. Konflik dengan ulama dan partai penguasa
Sebagai presiden, Banisadr memiliki pandangan yang relatif lebih demokratis dan tidak sepenuhnya setuju dengan dominasi ulama dalam politik Iran.
Masalah yang muncul antara lain:
konflik dengan Partai Republik Islam yang dikuasai ulama garis keras
perselisihan mengenai kontrol militer
ketegangan selama Iran–Iraq War
Akhirnya ia kehilangan dukungan politik di parlemen.
3. Dimakzulkan oleh parlemen (bukan kudeta militer)
Pada 21 Juni 1981, parlemen Iran secara resmi memakzulkan Banisadr dengan alasan “ketidakmampuan politik”.
Keputusan ini kemudian disetujui oleh Khomeini, sehingga Banisadr diberhentikan dari jabatan presiden.
Artinya secara formal:
bukan kudeta militer
tetapi pemecatan melalui proses politik oleh parlemen.
4. Melarikan diri dari Iran
Setelah dimakzulkan:
Banisadr bersembunyi beberapa waktu.
Ia kemudian kabur ke Prancis menggunakan pesawat militer yang dibajak oleh pendukungnya.
Sejak 1981 ia hidup dalam pengasingan di Prancis hingga wafat tahun 2021.
✅ Kesimpulan:
Abolhassan Banisadr bukan dikudeta secara militer.
Ia dimakzulkan oleh parlemen Iran pada 1981 karena konflik politik dengan ulama dan pemimpin tertinggi Iran.
Setelah itu ia melarikan diri dan hidup di pengasingan.

















Leave a Reply