Advertisement

Selat Hormuz Hanyalah Celah Sempit Antara Iran Dan Oman

AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Di peta dunia, Selat Hormuz hanyalah celah sempit antara Iran dan Oman. Namun bagi ekonomi global, ia adalah urat nadi energi. Hampir seperlima minyak dunia mengalir melalui jalur ini setiap hari. Karena itu, setiap bayangan konflik di sana segera mengguncang pasar dan politik internasional.

Amerika Serikat sebenarnya memiliki kekuatan militer besar di kawasan. Markas Naval Support Activity Bahrain menjadi pusat operasi armada yang menjaga Teluk Persia, sementara pangkalan udara seperti Al Udeid Air Base dan Al Dhafra Air Base menopang kekuatan udara dan logistiknya. Namun dominasi militer tidak selalu berarti kendali mutlak. Hormuz adalah selat sempit. Jalur tanker hanya beberapa kilometer lebarnya. Dalam ruang sekecil itu, strategi berubah.

Iran tidak perlu menandingi armada Amerika. Cukup menciptakan risiko—ranjau laut, rudal pesisir, drone, atau serangan kapal cepat. Tujuannya bukan memenangkan perang laut, melainkan membuat jalur pelayaran terasa terlalu berbahaya. Dalam perdagangan global, ketakutan sering lebih kuat daripada kekuatan. Jika risiko meningkat, kapal berhenti berlayar, premi asuransi melonjak, dan pasar energi langsung bereaksi.

Amerika Serikat tentu mampu membuka kembali jalur itu. Tetapi operasi militer besar sulit dilakukan. Karena pangkalan militer AS yang tadinya penjaga selat Hormuz sudah hancur dirudal Iran. Kapal induk yang tadinya hadir, kini menjauh dari medan tempur. Kawatir eskalasi meluas. Kalau kena rudal Iran, itu bisa bahaya. Karena di perut kapal induk itu ada nuklir yang cukup meluluh lantakan seluruh negara teluk termasuk Makah dan Madinah.

Selat Hormuz mengajarkan satu hal sederhana: dalam geopolitik modern, kekuatan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang mampu bertempur dengan efisien dan smart. Itu yang tidak dimiliki oleh AS dan Israel. Karena Hormuz ( aset ) di depan hidung yang menyangkut kepentingan global tidak sanggup mereka jaga. Apapun cakap AS tentang perang ini, jelas AS loser kala selat Hormuz berhasil di blokade Iran.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *