AKTAMEDIA.COM, TANGERANG – Ketika anak memasuki fase menjelang pernikahan, peran ayah Muslim bukan hanya sebagai pemberi restu, tetapi sebagai fasilitator kematangan emosional yang menentukan kualitas rumah tangga masa depan.
🧠 Kematangan Emosional: Pilar Pernikahan yang Terlupakan
Kematangan emosional mencakup kemampuan mengelola perasaan, memahami perspektif orang lain, dan mengambil keputusan secara dewasa. Dalam tinjauan sistematis oleh Islamiah et al. (2023), ditemukan bahwa “keterlibatan ayah dalam pengasuhan emosional memiliki dampak signifikan terhadap regulasi emosi anak, terutama dalam fase transisi menuju dewasa.”
Dalam tradisi Islam, nilai-nilai seperti rahmah (kasih sayang), hikmah (kebijaksanaan), dan amanah (tanggung jawab) menjadi fondasi etis dalam membimbing anak. Sugandhi et al. (2021) menekankan bahwa pendekatan bimbingan pranikah berbasis nilai kenabian mampu meningkatkan kesiapan mental dan spiritual anak secara menyeluruh.
⚖️ Bimbingan vs. Kemandirian: Menemukan Titik Seimbang
Ayah Muslim sering kali menghadapi dilema antara memberikan arahan dan membiarkan anak menentukan pilihannya sendiri. Studi oleh Ramdani et al. (2023) menunjukkan bahwa “dukungan sosial dari ayah, dikombinasikan dengan religiusitas, memiliki korelasi positif terhadap kesiapan menikah anak muda.”
Khotimah & Mujiono (2025) menambahkan bahwa ayah yang memahami psikologi pendidikan Islam cenderung lebih mampu membentuk anak yang mandiri secara emosional, tanpa kehilangan arah spiritual. Pendekatan ini mencakup komunikasi terbuka, pemberian tanggung jawab bertahap, dan pembiasaan menyelesaikan konflik secara Islami.
🕌 Tantangan Sosial dan Perubahan Paradigma
Dalam masyarakat Indonesia yang masih dipengaruhi budaya patriarki, peran ayah sering kali terbatas pada aspek finansial. Namun, Asiah et al. (2025) mengungkap bahwa tren pengasuhan Islami mulai bergeser ke arah yang lebih partisipatif dan reflektif, di mana ayah mulai mengambil peran aktif dalam pembentukan karakter dan spiritualitas anak.
💡 Rekomendasi Praktis
- Pelatihan Ayah Berbasis Masjid Program parenting Islami yang melibatkan ayah dalam simulasi pranikah dan diskusi nilai-nilai keluarga.
- Model Bimbingan Propetik Meneladani metode Rasulullah ﷺ dalam mendidik anak melalui dialog terbuka dan pemberian tanggung jawab bertahap.
- Kolaborasi Ayah-Anak Mendorong ayah menjadi mitra emosional anak dalam proses memilih pasangan dan membangun visi keluarga.
✨ Penutup Reflektif
Menjelang pernikahan, anak membutuhkan lebih dari sekadar restu; mereka membutuhkan kehadiran ayah yang mampu menjadi cermin kedewasaan, penopang spiritual, dan sumber ketenangan. Maka, peran ayah Muslim bukan hanya sebagai penjaga nilai, tetapi sebagai fasilitator kematangan emosional yang akan menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana S3 Prodi Hukum Keluarga Islam UIN Suska Riau
📚 Daftar Pustaka
Islamiah, N., Breinholst, S., & Esbjørn, B. H. (2023). The role of fathers in children’s emotion regulation development: A systematic review. Infant and Child Development, e2397.
Sugandhi, N. M., Yusuf, S., Nurihsan, J., & Riyadi, A. R. (2021). Islamic premarital guidance and counseling to enhance students’ readiness to marriage. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 11(2).
Ramdani, N. S., Herawati, T., & Musthofa. (2023). The effect of religiosity and social support on marriage readiness in the young adult age group. Journal of Consumer and Family Sciences, 2(3), 270–280.
Khotimah, A. N., & Mujiono. (2025). Kesiapan menikah dalam perspektif psikologi pendidikan Islam. Tsaqofah: Jurnal Penelitian Guru Indonesia, 5(5), 4307–4319.
Asiah, N., Fitriani, I., Baharudin, & Fatimah, R. N. (2025). Research trends on Islamic family parenting: A bibliometric literature review. Psikis: Jurnal Psikologi Islami, 11(1), 110–125.
















Leave a Reply