Advertisement

16 Tahun Mauleh Gunjai Sastra Lisan Alua Pasambahan Sang Maestro Muhammad Effendi Sutan Simarajo

AKTAMEDIA.COM, BUKITTINGGI – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, keberadaan tradisi lisan seringkali berada di persimpangan antara bertahan atau perlahan ditinggalkan. Namun di Nagari Magek, denyut kehidupan adat masih terasa kuat. Salah satu wujud nyata dari kekuatan itu adalah tetap hidup dan berkembangnya seni pasambahan, sebuah tradisi bertutur yang sarat makna dalam budaya Minangkabau.

Pasambahan bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Ia adalah seni menyampaikan pesan adat melalui petatah-petitih yang tersusun rapi, penuh kiasan, dan mengandung filosofi mendalam. Dalam setiap acara adat—baik itu kematian, pernikahan, maupun batagak pangulu—pasambahan hadir sebagai media komunikasi resmi yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, penghormatan, serta tatanan sosial masyarakat Minangkabau.

Namun, di balik keindahan pasambahan, tersimpan tantangan besar: tidak semua orang mampu melakukannya. Dibutuhkan proses belajar yang panjang, latihan yang tekun, serta bimbingan dari seorang guru yang benar-benar memahami alua (alur) dan makna di balik setiap untaian kata. Tanpa itu, pasambahan akan kehilangan ruhnya.

Kesadaran akan pentingnya pelestarian inilah yang mendorong Muhammad Effendi Sutan Simarajo untuk mengambil peran strategis. Selama lebih kurang 16 tahun, beliau secara konsisten membina, melatih, dan membuka ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mendalami seni pasambahan dan parundiangan adat.

Bertempat di kediaman beliau di Jorong Koto Kaciak, kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap malam Minggu. Suasana latihan berlangsung sederhana namun penuh makna. Para peserta duduk melingkar, menyimak, mencatat, lalu mencoba mempraktikkan pasambahan dengan penuh kesungguhan. Di sinilah ilmu diturunkan, bukan hanya melalui teori, tetapi juga melalui rasa dan pengalaman.

Yang menarik, peserta yang datang tidak hanya dari kalangan remaja. Banyak pula orang dewasa bahkan yang telah berkeluarga turut bergabung. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya adat tidak mengenal batas usia. Pasambahan menjadi ruang pertemuan lintas generasi, tempat nilai-nilai diwariskan secara langsung dari guru kepada murid.

Sebagai seorang yang berasal dari suku Koto kaum Datuak Simarajo, dedikasi Muhammad Effendi Sutan Simarajo tidak bisa dilepaskan dari latar belakang dan tanggung jawab moralnya sebagai bagian dari pemangku adat. Apa yang beliau lakukan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah bentuk pengabdian untuk menjaga marwah adat Minangkabau.

Perjalanan beliau dalam dunia pasambahan berakar dari didikan seorang guru besar, Suardi Datuak Junjungan (alm). Sosok ini dikenal sebagai juaro dan pitunggua di Kamang Hilia, yang telah melahirkan banyak generasi hebat dalam bidang pasambahan. Dari tangan beliau, dasar-dasar alua pasambahan ditanamkan dengan kuat.

Tidak berhenti di situ, Muhammad Effendi Sutan Simarajo kemudian mengembangkan ilmunya dengan memadukan berbagai versi pasambahan dari daerah lain. Hal ini menjadikan gaya pasambahan yang diajarkannya lebih kaya, fleksibel, namun tetap berakar pada nilai-nilai adat yang asli.

Selama 16 tahun perjalanan tersebut, hasilnya mulai tampak. Banyak generasi muda di Nagari Magek yang kini mampu tampil dalam acara adat, membawakan pasambahan dengan percaya diri dan penuh penghayatan. Mereka tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga penerus tradisi.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi wadah diskusi adat salingka nagari. Berbagai persoalan adat dibahas bersama, dicarikan solusi, dan dipahami secara kolektif. Dengan demikian, fungsi kegiatan ini tidak hanya sebagai tempat belajar seni, tetapi juga sebagai ruang memperkuat pemahaman adat secara menyeluruh.

Apa yang dilakukan oleh Muhammad Effendi Sutan Simarajo sejatinya adalah membangun “gunjai”—denyut kehidupan bagi sastra lisan Minangkabau. Di tengah tantangan zaman, beliau memastikan bahwa pasambahan tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup, berkembang, dan relevan.

Pasambahan adalah identitas. Ia mencerminkan jati diri masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Melalui upaya yang konsisten dan penuh keikhlasan, warisan ini terus dijaga agar tidak hilang ditelan waktu.

Dan selama masih ada sosok-sosok seperti Muhammad Effendi Sutan Simarajo, harapan itu akan selalu ada—bahwa pasambahan akan tetap berkumandang, mengalun indah dalam setiap prosesi adat, dan menjadi penanda bahwa adat Minangkabau tetap hidup di hati masyarakatnya.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *