Advertisement

RAHMAH EL YUNUSIYAH: Pelita dan Pejuang Kemerdekaan dari Minang

AKTAMEDIA, Pekanbaru – 7 Juli 2025 — Di tengah dominasi kaum pria dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, muncul tokoh wanita tangguh yang dari Sumatra Barat menjadi pelopor pendidikan perempuan dan gerakan nasional—Rahmah El Yunusiyah. Lahir pada 26 Oktober 1900, Rahmah bukan hanya pendiri sekolah agama perempuan pertama di nusantara, tetapi juga pejuang kemerdekaan yang aktif dalam revolusi fisik, diplomasi pendidikan, dan politik masa awal republik.

Siapa sebenarnya sosok di balik perjuangan gigih ini? Apa sepak terjangnya dalam memerdekakan bangsa dan memperjuangkan hak perempuan di tengah tantangan tradisional dan kolonialisme?

1. Latar Belakang, Pendidikan, dan Awal Karier

Rahmah lahir di Bukit Surungan, Padang Panjang, dari keluarga ulama. Ayahnya, Muhammad Yunus al‑Khalidiyah, seorang qadi terkemuka, dan ibunya Rafi’ah merupakan keturunan ulama Haji Miskin—tokoh reformasi Islam abad ke-19 . Dia dibesarkan dengan tradisi belajar agama sejak kecil, namun juga membaca tulisan abangnya, Zainuddin Labay El Yunusy, yang membangkitkan minatnya terhadap pendidikan dan reformasi Islam .

Meski tidak menempuh pendidikan formal tinggi, Rahmah mampu menulis Arab dan Latin. Ia belajar langsung dari para ulama lokal dan bahkan menerima pelatihan kebidanan di rumah sakit Padang Panjang .

2. Mendirikan Diniyah Putri—Sekolah Perempuan Pertama

Pada 1 November 1923, Rahmah mendirikan Diniyah Putri, sekolah agama khusus perempuan pertama di Indonesia . Sekolah ini awalnya berlokasi di masjid, dengan 71 murid putri belajar agama, bahasa Arab, sains dasar, dan keterampilan sederhana . Awalnya banyak kritik dan penolakan dari masyarakat yang memandang pendidikan tinggi tidak pantas bagi perempuan . Namun Rahmah konsisten membangunnya hingga mampu menampung 500 siswa pada akhir 1930-an .

Murid seperti Rasuna Said bahkan lahir dari Diniyah Putri, menjadi aktivis nasional dan membantu menjadikan sekolah ini pusat pendidikan perempuan .

3. Kontribusi Saat Pendudukan Jepang

Di masa pendudukan Jepang, Rahmah memimpin Haha No Kai, organisasi perempuan yang membantu perwira Giyūgun di Padang Panjang . Dia mendampingi sekitar 100 muridnya mengungsi saat situasi mulai genting, serta menyediakan makanan dan tempat aman bagi mereka . Bila terjadi kecelakaan kereta di Padang Panjang, ia menjadikan sekolahnya sebagai rumah sakit darurat .

4. Peran Aktif di Revolusi Nasional

Segera setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Rahmah mengibarkan bendera Merah Putih di halaman sekolah sebelum bendera itu menyebar luas di Sumatera Barat . Pada 12 Oktober 1945, ia mendirikan unit logistik TKR Padang Panjang, membantu TKR menyediakan makanan, obat-obatan, dan alat sederhana . Ia juga membantu pengadaan senjata melalui jaringan sekolah dan komunitasnya .

Akibat aktivitas revolusionernya, Rahmah ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949, menjalani hukuman tahanan rumah dan tahanan kota selama delapan bulan .

5. Politik, DPR, dan PRRI

Pasca-kemerdekaan, Rahmah bergabung dengan partai Masyumi. Dipilih sebagai anggota DPR mewakili Sumatera Tengah (1955–1958), ia memperjuangkan pendidikan perempuan dan agama di parlemen .

Ia juga terlibat dalam gerakan lokal, mendukung banteng PRRI di Sumatera Tengah sebagai bagian dari desakan desentralisasi era Soekarno. Ia sempat bergabung dengan Dewan Banteng dan ikut bergerilya bersama tokoh PRRI lainnya. Aktivitasnya ini membuatnya tidak hadir lagi di DPR dan sempat ditangkap pada 1961, lalu dibebaskan melalui amnesti .

6. Penghormatan Akademik dan Inovasi Pendidikan Perempuan

Pada 1955, saat Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj mengunjungi Diniyah Putri, ia begitu terkesan dengan kualitas sekolah ini . Pada 1957, Rahmah diundang ke Mesir dan dianugerahi gelar kehormatan “Syekhah”—perempuan pertama yang menerima gelar tersebut di Al-Azhar .

Keberhasilan ini membuka peluang untuk pembukaan fakultas perempuan (Kulliyatul Banat) di Al-Azhar, terinspirasi dari model Diniyah Putri .

Pada 1967, universitas perempuan Islam pertama di Sumatera Barat (sekarang Fakultas Tarbiyah dan Dawa’ Diniyah Putri) diresmikan berkat dorongan Rahmah .

7. Warisan dan Penghargaan

Rahmah El Yunusiyah wafat pada 26 Februari 1969 di Padang Panjang dan dimakamkan di kompleks asrama Diniyah Putri . Makamnya kini dilindungi sebagai situs budaya penting .

Pada 13 Agustus 2013, ia menerima secara anumerta Bintang Mahaputera Adipradana, penghargaan tertinggi dari negara atas jasa di bidang pendidikan dan kemanusiaan .

Rahmah El Yunusiyah adalah contoh nyata bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi alat kebangkitan bangsa—lebih lagi pada kaum perempuan. Ia membuktikan bahwa sekolah perempuan bisa menjadi basis perjuangan dan diplomasi, serta katalis perubahan budaya dan sosial. Dari bosan terbatas, ia mendobrak tradisi; dari wartawan lokal, ia menjadi narator perubahan dunia.

Jejaknya membentang dari kelas-kelas Diniyah Putri, dapur-dapur logistik TKR, hingga aula parlemen dan forum Islam internasional. Ia adalah revolusioner perempuan yang tidak hanya berkelahi dengan penjajah, tetapi juga dengan patriarki dan kesadaran kelas. Ia juga diplomat tanpa gelar resmi, tetapi dengan konsep sejarah dan keberagaman yang lebih luas.

Generasi sekarang dapat belajar dari cara Rahmah membangun model perubahan: dengan pendidikan, moral, dan keteguhan hati. Sebab, kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajah, tetapi juga membebaskan pikiran dan potensi manusia, terutama anak perempuan di masyarakat.

📚 Sumber Rujukan

Wikipedia Indonesia – Rahmah El Yunusiyah (kelahiran, Diniyah Putri, TKR, DPR, gelar Syekhah)

Wikipedia Inggris – Rahmah el Yunusiyah (pendidikan awal, aktivitas Jepang & revolusi)

Kompas Stori – *Rahmah El Yunusiyah, Tokoh Emansipasi Wanita…*

Masjid Raya Sumbar – peran pendidikan dan revolusi

Repository IAIN Syekhnurjati – skripsi tentang peran kemerdekaan

Good News from Indonesia – peran teladan perempuan

ResearchGate – biografi panjang dan gerakan pendidikan

Aditya Baso
Author: Aditya Baso

Newbie

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *