Advertisement

Cinta Seorang Nan Ba Bako ke Lawang: Ir. H. Sjakdin Darminta, Dt. Rajo Budi

AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Dalam perjalanan hidup seorang Pengusaha sukses, tidak semua orang mampu kembali memberi arti bagi kampung asalnya.
Namun bagi Sjakdin Darminta, kampung bako di Pemerintahan Nagari Lawang bukan sekadar tempat asal-usul keluarga. Lawang adalah bagian dari hati dan pikirannya.

Dari rantau yang jauh, beliau selalu memikirkan bagaimana nagari itu bisa maju, bagaimana pertanian berkembang, pendidikan tumbuh, adat terjaga, dan generasi mudanya memiliki masa depan yang lebih baik.

Anak Bako yang Tak Pernah Melupakan Lawang
Walaupun kehidupannya banyak dijalani di perantauan, beliau dikenal sebagai babako ka Lawang, yang berarti garis ayahnya berasal dari Lawang. Karena itu, hubungan batin beliau dengan nagari tersebut sangat kuat.

Bagi masyarakat Lawang, beliau bukan sekadar seorang perantau sukses. Ia adalah anak bako yang tetap memikirkan kampungnya, yang selalu ingin melihat Lawang berkembang dan maju.
Kiprah di Dunia Usaha

Dalam perjalanan hidupnya, beliau dikenal sebagai pengusaha di bidang perkebunan melalui perusahaan PT Tasma Puja yang beroperasi di wilayah Kampar.
Selain menjalankan usaha, beliau juga aktif dalam organisasi dunia usaha nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), khususnya dalam kelompok kerja yang berkaitan dengan sektor perkebunan kelapa sawit.
Pengalaman dan jaringan luas yang beliau miliki di dunia usaha kemudian banyak dimanfaatkan untuk membantu pembangunan kampung halaman.

“Perhatian Besar pada Pertanian Lawang”

Salah satu perhatian terbesar beliau adalah pertanian, terutama komoditas tebu Lawang yang sejak lama menjadi salah satu hasil utama nagari tersebut.
Beliau bahkan menghubungkan masyarakat Lawang dengan para peneliti dari Universitas Andalas di Padang untuk melakukan penelitian terhadap:
-air tebu Lawang
-gula tebu
-kacang tanah Lawang
Beliau juga memberikan berbagai saran mengenai metode baru dalam penanaman tebu, agar hasilnya lebih baik dan lebih produktif. Metode yang beliau sarankan tersebut kemudian mulai diterapkan oleh masyarakat, dan hingga sekarang banyak petani yang mengikuti cara penanaman tersebut.
Cita-cita beliau sangat jelas….bagaimana hasil utama tebu Lawang dapat meningkat kualitasnya dan suatu hari dikenal hingga ke ranah dunia.

“Peran melalui Yayasan Beasiswa Keluarga Lawang”

Di perantauan, beliau juga aktif dalam organisasi keluarga dan perantau Lawang di Jakarta yaitu Yayasan Beasiswa Keluarga Lawang (YBKL).
Melalui yayasan ini, beliau bersama para pengurus lainnya berusaha membantu masyarakat Lawang terutama dalam bidang pendidikan dan sosial.
Salah satu hasil nyata dari kegiatan tersebut adalah ketika bangunan SD Ketaping yang sudah lama tidak digunakan dan dalam keadaan rusak berhasil dihidupkan kembali. Melalui kerja sama para pengurus YBKL, bangunan tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi sekolah taman kanak-kanak, yang kini dikenal sebagai TK Negeri Lawang.
Hal ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian beliau terhadap pendidikan generasi muda di kampung halaman.

“Kontribusi bagi Adat dan Pembangunan Nagari”

Kepedulian beliau terhadap kampung halaman juga terlihat dari banyaknya bantuan yang beliau berikan kepada masyarakat Lawang, di antaranya:
membantu rehabilitasi berat Balai Kerapatan Adat Nagari Lawang
membantu pembangunan dan rehab berat Kantor Wali Nagari Lawang dan Tigo Balai
membantu pembangunan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA)
membantu berbagai sarana ibadah
Bantuan beliau terhadap sarana keagamaan tidak hanya diberikan di Lawang, tetapi juga di Pekanbaru dan Jakarta.

“Memelihara Rumah Gadang Kaum”

Sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap akar adatnya, beliau juga membantu rehabilitasi berat Rumah Gadang kaum ayahnya di Lawang, yang dikenal sebagai Rumah Gadang Tek La.
Kini rumah gadang tersebut tidak hanya menjadi milik kaum keluarga, tetapi juga digunakan untuk berbagai acara adat besar, termasuk kegiatan pasukuan Tanjuang Nan Salapan di Lawang seperti batagak pangulu.

“Gelar Adat sebagai Bentuk Penghargaan”

Melihat begitu besar perhatian dan pengabdian beliau kepada kampung bako di Lawang, para tokoh adat bersama unsur masyarakat akhirnya sepakat memberikan penghargaan adat kepada beliau.
Beliau kemudian dianugerahi gelar Datuk Rajo Budi sebagai bentuk apresiasi masyarakat Lawang atas segala jasa dan perhatian beliau kepada kampuang bako.
Gelar tersebut diberikan melalui kesepakatan berbagai unsur masyarakat dan tokoh adat di Lawang.

“Masa Sakit namun Tetap Memikirkan Lawang”

Sekitar tahun 2014, kondisi kesehatan beliau mulai menurun. Sejak saat itu beliau tidak lagi dapat bergerak bebas seperti sebelumnya dan lebih banyak berada di rumahnya di Jakarta.
Namun walaupun dalam keadaan sakit, pikiran beliau tetap tertuju kepada Lawang.

Ketika para tokoh Lawang datang bersilaturahmi menjenguk beliau di Jakarta, terlihat jelas bahwa beliau sangat senang menerima kedatangan mereka. Walaupun lidah beliau sudah sulit berbicara, dari ekspresi wajah dan gerakan tangannya terlihat bahwa beliau tetap memikirkan satu hal….
Bagaimana Lawang harus maju…
Semangat beliau tidak pernah padam, seolah beliau lupa bahwa dirinya sedang sakit.

Wafat
Tokoh perantau yang dermawan ini akhirnya wafat pada 13 Februari 2022 di Jakarta, dalam usia sekitar 87 tahun.
Kepergian beliau meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga, masyarakat Lawang, dan banyak orang yang pernah merasakan kebaikannya.

Apa yang telah beliau lakukan untuk kampung bako di Lawang sangatlah banyak. Tidak semuanya dapat dituliskan dalam satu catatan singkat ini.

Namun satu hal yang pasti, beliau telah menunjukkan bahwa kesuksesan di rantau tidak membuat seseorang melupakan asal-usulnya.
Beliau memikirkan pertanian, pendidikan, adat, keagamaan, serta kemajuan nagari. Banyak sarana dan gagasan yang beliau berikan demi kemajuan kampung halaman.

Karena itu tidak berlebihan jika masyarakat Lawang menyebut beliau sebagai:
“Hamba Pilihan.”
Seseorang yang oleh Allah diberikan kelebihan rezeki, kesempatan, dan hati yang lapang untuk berbuat bagi orang banyak.
Pantaskah beliau disebut Hamba Pilihan?
Bagi masyarakat Lawang yang merasakan langsung kebaikan beliau, jawabannya tentu: ya.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *