AKTAMEDIA.COM, Pekanbaru – 7 Juli 2025 — Di tengah gemuruh perlawanan terhadap kolonialisme yang berlangsung sejak awal abad ke-19, muncul figur-figur berwibawa yang membawa semangat reformasi sosial dan keagamaan. Salah satu di antaranya adalah Haji Miskin, seorang ulama Minangkabau yang pulang dari Mekkah dengan maksud memurnikan praktik keagamaan yang kemudian menjadi motor lahirnya Gerakan Padri. Melalui ide radikalnya yang mengacu kepada ajaran Wahhabi, ia menyalakan semangat kebangkitan spiritual sekaligus membuka jalan bagi perlawanan terhadap Belanda.
Haji Miskin berperan tidak hanya sebagai guru spiritual, tetapi juga sebagai pembaharu sosial, pelopor gerakan pendidikan, dan pelita awal pemberontakan rakyat Minangkabau. Siapa ia, apa gagasan-gagasannya, dan bagaimana sepak terjangnya dalam menggerakkan perubahan yang membentuk jejak sejarah nasional?
—
1. Kepulangan dari Mekkah dan Ideologi Wahhabi
Menurut sejarah, Haji Miskin lahir sekitar tahun 1778 di Pandai Sikek, Luhak Agam, Sumatera Barat. Ia menuntut ilmu di Mekkah dan Al‑Azhar, Kairo, yang membuatnya terserap oleh pemikiran Wahhabisme—aliran pemurnian Islam yang menentang bidʿah, syirik, dan praktik keagamaan yang dianggap menyimpang .
Sepulang dari Tanah Suci sekitar tahun 1803, Haji Miskin tergugah melihat praktik keagamaan masyarakat Minang yang dipenuhi perjudian, minuman keras, dan penyembahan berhala lokal. Bersama dua ulama—Haji Piobang dan Haji Sumanik—ia membentuk kelompok yang dikenal sebagai “Tiga Orang Haji“, pelopor transformasi sosial yang intensif dan radikal .

2. Awal Gerakan dan Konflik dengan Kaum Adat
Dalam upayanya memperbarui masyarakat, Haji Miskin kerap berkhotbah di kampung halamannya, dan kemudian membentuk struktur dakwah yang sistematis bersama Tuanku Nan Renceh—yang dikenal sebagai komunitas Harimau Nan Salapan, delapan tokoh ulama penggerak reformasi agama .
Metode yang dipilihnya tidak hanya retorika, namun juga tindakan nyata seperti pembakaran balai adat dan tempat perjudian, semata-mata sebagai simbol penolakan praktik bidʿah. Aksi ini membuatnya diprotes keras dan terusir dari Pandai Sikek, hingga akhirnya ia menetap di Kamang dan kota-kota lainnya di Agam .
—
3. Transisi Gerakan Agama ke Perlawanan Politik
Konflik antara kaum Padri—yang dipandang sebagai kaum puritan—dengan kaum Adat yang mempertahankan budaya lokal, memuncak dalam peperangan berskala besar yang dikenal sebagai **Perang Padri (1803–1838)** .
Awalnya, pertarungan ini bersifat internal. Namun setelah kaum Adat bersekutu dengan Belanda pada 1821, konflik berubah menjadi perang nasional melawan penjajah. Perjuangan Haji Miskin dan sohibnya memberikan fondasi ideologis dan struktural bagi kelompok Padri, yang kelak dipimpin sang murid, Tuanku Imam Bonjol .
—
4. Peran Militer dan hubungan dengan Turki-Utsmani
Beberapa literatur mengungkapkan bahwa Haji Miskin dan dua ulama lainnya sempat bergabung dengan tentara Turki-Utsmani, bahkan terlibat dalam perang lawan Napoleon di Mesir γύta 1798. Ia disebut menjadi ahli tempur berkuda atau “hermit” dalam pasukan Ottoman, sebelum kembali ke Minangkabau membawa pengalaman militer.
Meskipun klaim ini kontroversial—disebut kurang didukung catatan formal—hal ini menunjukkan betapa kompleks dan monumental langkah yang dilakukan Haji Miskin: dari akademik ke militer, dari spiritual ke politik.
—
5. Warisan dan Penghargaan
Haji Miskin wafat sekitar 1811 (menurut satu sumber) atau sebelum puncak Perang Padri, dan dimakamkan di kawasan Agam, Pandai Sikek .
Meskipun belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, namanya tetap hidup melalui pesantren, bank syariah, dan budaya lokal. Buku karya Christine Dobbin menyebut:
> “Haji Miskin… pembela Islam dan penentang Belanda… ulama puritan yang tegas pendirian—patut menjadi panutan” .
—
Haji Miskin adalah contoh awal tokoh yang menjembatani agama, perjuangan, dan politik. Ia memulai perubahan spiritual yang kemudian mengalir ke pola perjuangan nasional. Kebijakan ekstremnya terhadap budaya lokal—walau kontroversial—dianggap alas legitimasi moral untuk melawan segala bentuk penindasan, termasuk oleh penjajah Belanda.
Meski hidupnya singkat dan langkahnya kontroversial, semangat revolusioner Haji Miskin telah menyala sebagai api awal Perang Padri—refleksi dari kesatuan ideal antara iman dan tindakan, yang kemudian mewarnai perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Hadir di ranah spiritual dan militansi, Haji Miskin menegaskan bahwa reformasi agama dan resistensi politik bisa berjalan seiring. Generasi masa kini dapat melihatnya sebagai cermin konsekuensi nilai moral dalam politik, serta pentingnya membangun kemerdekaan dengan landasan intelektual dan spiritual.
—
📚 Sumber Referensi
1. Wikipedia Indonesia – Haji Miskin, Tiga Orang Haji, Haji Sumanik
2. Banuaminang – Sejarah Singkat Haji Miskin
3. Langgam.id – Gerakan Padri dan Peranan Tiga Haji
4. Kompas.com – Sejarah Perang Padri
5. Tirto.id – Imajinasi Atas Makkah yang Memantik Perang Padri
6. Deddy Arsya – Api di Tangan Haji Miskin
7. Wikipedia English – Padri Wars
8. Sumber lokal – KiprahKita; Minangel – Tentara Minangeli Mengalahkan Napoleon
















Aditya Baso
Great 👍