Advertisement

Ini Alasan Sebenarnya Kenapa Gunung Marapi Jadi ‘Kiblat’ Asal Usul Minang

AKTAMEDIA.COM, BUKITTINGGI – Selama ini, banyak orang hanya melihat Gunung Marapi sebagai salah satu gunung api paling aktif di Sumatera. Namun, bagi masyarakat Minangkabau, gunung setinggi 2.891 mdpl ini lebih dari sekadar fenomena alam. Marapi adalah “titik nol” peradaban, simbol identitas, dan kiblat sejarah yang tak tergantikan.

Mengapa gunung ini begitu dikeramatkan dalam ingatan kolektif urang awak? Ternyata ada alasan mendalam di balik statusnya sebagai pusat asal-usul Minangkabau.

1. Rahasia di Balik “Telur Itik”
Dalam teks klasik Tambo Minangkabau, terdapat penggalan kisah yang ikonik: “Dari mano titiak palito, di baliak telong nan batali. Dari mano asa niniak moyang kito, dari lereang Gunuang Marapi.”

Legenda menyebutkan bahwa ketika dunia dilanda banjir besar, puncak Gunung Marapi adalah daratan pertama yang muncul, yang kala itu hanya terlihat sebesar “telur itik”. Sultan Maharajo Dirajo, yang diyakini sebagai putra Alexander Agung (Iskandar Zulkarnain), berlabuh di sana. Seiring surutnya air, kehidupan mulai berkembang. Mitos ini secara simbolis menempatkan Marapi sebagai sumber kehidupan (paku alam) bagi masyarakatnya.

2. Pariangan: Nagari Tertua di Dunia
Alasan praktis mengapa Marapi menjadi kiblat adalah keberadaan Nagari Pariangan. Terletak tepat di lereng Marapi, Pariangan diakui sebagai nagari tertua. Di sinilah sistem pemerintahan berbasis musyawarah dan pembagian wilayah adat (Luhak) pertama kali dirumuskan.

Pariangan bukan sekadar desa biasa; ia adalah laboratorium budaya. Dari sinilah konsep Luhak nan Tigo (Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluh Kota) lahir, sebelum akhirnya masyarakat Minangkabau merantau ke berbagai penjuru mata angin.

3. Simbol Kedaulatan dan Filosofi Alam
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap kisah Marapi hanyalah dongeng semata. Padahal, bagi orang Minang, Marapi adalah perwujudan filosofi “Alam Takambang Jadi Guru”.

Gunung ini menjadi pengingat tentang asal-usul yang satu. Ke mana pun orang Minang merantau—baik ke Malaysia, Jakarta, hingga Eropa—mereka akan selalu menoleh ke Marapi sebagai simbol kepulangan dan akar budaya. Statusnya sebagai “kiblat” menegaskan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, adat dan silsilah tidak boleh dilupakan.

4. Marapi dalam Sumpah Sati Bukik Marapalam
Pentingnya posisi Marapi juga dipertegas dalam peristiwa bersejarah Sumpah Sati Bukik Marapalam. Perjanjian ini merumuskan hubungan harmonis antara adat dan agama (Islam). Lokasi pengambilan sumpah yang berada di kawasan pegunungan ini semakin mengukuhkan Marapi sebagai saksi bisu bersatunya identitas keislaman dan keadatan orang Minang.

Kesimpulan
Gunung Marapi bukan sekadar tumpukan batu dan abu vulkanik. Ia adalah jantung dari memori sejarah sebuah bangsa yang besar. Menjadikan Marapi sebagai “kiblat” adalah cara orang Minangkabau menghargai proses, menghormati leluhur, dan menjaga agar obor kebudayaan tetap menyala meski zaman terus berganti.

Jadi, jika Anda berdiri di kaki Gunung Marapi hari ini, ingatlah bahwa Anda tidak sedang menatap sebuah gunung biasa, melainkan sedang menatap awal mula dari sebuah peradaban yang kaya.

#SejarahSumbar #UrangAwak

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *