Advertisement

Ketika Pucuk Bermasalah, Bagaimana Bungka Menyikapinya?

AKTAMEDIA.COM, PADANG – Ungkapan “ketika pucuk bermasalah, bagaimana bungka menyikapinya” bisa dimaknai sebagai kiasan dalam adat dan kehidupan sosial Minangkabau.

Pucuk → pemimpin / orang di atas (ninik mamak, penghulu, atau yang dituakan)

Bungka (pangkal) → anggota kaum / masyarakat di bawahnya

Maknanya: ketika yang di atas mengalami masalah (moral, keputusan, atau kepemimpinan), bagaimana sikap yang di bawah?

Sikap yang “patuik” menurut adat:

1. Tidak membiarkan, tapi juga tidak melawan secara liar
Dalam adat Minangkabau, segala sesuatu berjalan “bajanjang naiak, batanggo turun”. Artinya, persoalan harus diselesaikan melalui jalur yang benar, bukan dengan emosi atau pembangkangan.

2. Mengingatkan dengan cara beradat
Bungka punya kewajiban moral untuk mengingatkan pucuk, tapi dengan:

bahasa yang santun

tidak mempermalukan

melalui musyawarah

Pepatah sejalan:

> “Kato nan ampek, kato nan sapatah, indak mancari musuah.”

3. Menggunakan musyawarah (duduak basamo)
Masalah pucuk bukan masalah pribadi saja, tapi bisa berdampak ke kaum. Maka diselesaikan dengan:

rapat kaum

melibatkan orang bijak

mencari mufakat

4. Menjaga marwah bersama
Walau pucuk bermasalah, bungka tetap menjaga nama baik kaum. Tidak membuka aib keluar sebelum diselesaikan di dalam.

5. Jika perlu, dilakukan pembenahan struktur
Kalau pucuk tidak lagi layak:

bisa dilakukan teguran keras secara adat

bahkan penggantian (melalui mekanisme adat)

Karena dalam prinsip adat:

> “Pucuak nan ka patah, batang nan ka tumbang, indak buliah dibiakan marusuak kampuang.”

Intinya:

Bungka tidak boleh diam, tapi juga tidak boleh bertindak sembarangan.
Sikap terbaik adalah bijak, beradat, dan bermusyawarah—demi menjaga keseimbangan antara hormat kepada pucuk dan tanggung jawab kepada kaum.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *