AKTAMEDIA.COM – Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Swt. Yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan Kafilah Dakwah pada bulan Ramadan 1447 H. Kami, mahasiswa ADI Riau Tahun Ajaran 2025/2026, mendapat amanah untuk melaksanakan kegiatan dakwah di Desa Parit Baru, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar.
Kegiatan ini bukan sekadar menjalankan program pengabdian, tetapi juga menjadi perjalanan yang penuh makna. Selama berada di tengah masyarakat, kami belajar memahami kondisi lingkungan, membangun kedekatan dengan warga, serta menyampaikan nilai-nilai Islam dengan hikmah dan kelembutan. Berbagai pengalaman, tantangan, dan pelajaran yang kami peroleh selama kegiatan tersebut menjadi bekal yang sangat berharga.
Melalui tulisan ini, kami ingin mengajak pembaca menyusuri jejak perjalanan dakwah kami di pinggiran Kampar, mulai dari persiapan yang dilakukan, tantangan yang dihadapi di lapangan, hingga ikhtiar yang ditempuh dalam menghadapi setiap tantangan tersebut.
Langkah Awal: Persiapan Kafilah Dakwah
Persiapan Kafilah Dakwah dimulai pada awal Februari 2026. Sebagai bekal sebelum terjun ke tengah masyarakat, kami, mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Riau, mengikuti pembekalan berupa latihan ceramah. Setiap mahasiswa diminta menyusun naskah ceramah sesuai tema yang telah ditentukan oleh masing-masing dari kami, kemudian menyampaikannya secara bergantian di hadapan pembimbing dan teman-teman.
Tema yang disampaikan pun beragam, di antaranya tentang pentingnya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, keutamaan memperbanyak amal saleh, serta motivasi untuk meningkatkan semangat beribadah. Selama kurang lebih dua pekan, kami terus berlatih agar mampu menyampaikan materi dakwah dengan baik, jelas, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Menjelang hari keberangkatan, kami mulai mempersiapkan pakaian, perlengkapan pribadi, serta kebutuhan selama berada di lokasi kafilah. Sebelum berangkat, kami juga mendapat pembekalan, motivasi, dan nasihat dari para asatiz, di antaranya Ustaz Zainuddin, Ustaz Nurdin, Pak Masta, dan para pembimbing lainnya. Nasihat yang mereka sampaikan menjadi bekal berharga bagi kami agar senantiasa menjaga niat, mengedepankan akhlak, serta berdakwah dengan penuh hikmah dan keikhlasan. Pembekalan tersebut menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri dalam menjalankan amanah dakwah di tengah masyarakat.
Jejak Tantangan di Lapangan
Pada tanggal 18 Februari 2026, kami tiba di Desa Parit Baru, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Perjalanan dari Kampus ADI Riau menuju lokasi memakan waktu sekitar satu setengah jam. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, kondisi beberapa ruas jalan yang kurang baik membuat perjalanan kami cukup menantang.
Setibanya di desa sekitar pukul 18.27 WIB, kami langsung menuju TPQ Baitul Qur’an Al-Fatih yang menjadi tempat tinggal kami selama kegiatan berlangsung. Setelah itu, kami melaksanakan salat Magrib berjamaah di Masjid Babul Ihsan yang letaknya tidak jauh dari TPQ. Usai beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri, kami kembali ke masjid untuk melaksanakan salat Isya dan tarawih bersama masyarakat.
Malam pertama menjadi pengalaman yang cukup berkesan. Kami mendapati bahwa pelaksanaan salat tarawih di masjid tersebut berjumlah 23 rakaat. Selain itu, bacaan bilal yang digunakan juga berbeda dengan yang selama ini kami pelajari. Perbedaan tersebut menjadi pelajaran bagi kami bahwa keberagaman praktik yang tidak bertentangan dengan syariat merupakan bagian dari khazanah umat Islam yang perlu dihormati.
Beberapa hari kemudian, kami mulai menyusun program kegiatan bersama. Setelah berdiskusi, kami menyepakati dua program utama, yaitu kegiatan tahfiz pada pagi hari dan praktik ibadah pada siang hari sekitar pukul 14.00 WIB. Anak-anak menyambut program tersebut dengan penuh antusias. Untuk memudahkan pembelajaran, mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur’an sehingga proses pembinaan dapat berjalan lebih efektif.
Ikhtiar dan Hikmah dalam Menghadapi Tantangan
Selama berada di Desa Parit Baru, kami merasakan sambutan yang sangat hangat dari masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar TPQ. Menjelang waktu berbuka puasa, mereka sering mengantarkan makanan, minuman, hingga buah-buahan untuk kami. Kebaikan tersebut membuat kami merasa diterima sebagai bagian dari keluarga mereka.
Sebagai bentuk rasa syukur, kami berusaha membalas perhatian tersebut dengan memberikan roti kepada beberapa warga. Tanggapan mereka pun beragam. Ada yang menerimanya dengan senang hati, namun ada pula yang menolak dengan halus karena merasa kamilah yang lebih membutuhkan. Sikap tersebut mengajarkan kami tentang ketulusan berbagi dan kepedulian terhadap sesama.
Di sisi lain, kami juga menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan air untuk berwudu dan keperluan sehari-hari. Karena keterbatasan tersebut, kami sempat memanfaatkan Sungai Kampar yang berada tidak jauh dari tempat tinggal kami. Saat hendak menuju sungai sambil membawa perlengkapan, seorang warga bertanya mengenai tujuan kami. Setelah mengetahui kesulitan yang kami alami, beliau dengan sukarela membantu memasangkan selang dari rumahnya menuju tempat tinggal kami sehingga kebutuhan air kami dapat terpenuhi.
Peristiwa sederhana itu meninggalkan kesan yang mendalam. Kami belajar bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang membangun hubungan yang baik dengan masyarakat. Kebaikan, kepedulian, dan semangat saling membantu yang kami rasakan selama berada di Desa Parit Baru menjadi pelajaran berharga yang akan selalu kami kenang.
Tak terasa, masa pengabdian kami di Desa Parit Baru telah sampai di penghujungnya. Sebelum kembali ke Asrama, kami berkumpul untuk berbuka puasa bersama di rumah Kak Yulia yang menjadi pembimbing kami selama di lokasi . Momen sederhana tersebut menjadi kesempatan bagi kami untuk berkumpul kembali bersama para asatiz yang sejak awal telah memberikan pembekalan, motivasi, dan arahan selama kegiatan Kafilah Dakwah.
Pada malam harinya, setelah salat Isya dan tarawih berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan Tabligh Akbar yang disampaikan oleh Ustaz Nurdin Abdul Halim dengan tema Nuzulul Qur’an. Melalui tausiah tersebut, kami diingatkan kembali akan kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup serta pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan.
Rangkaian kegiatan Kafilah Dakwah ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Kami belajar bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang membangun kedekatan, menumbuhkan kepedulian, serta belajar dari kehidupan masyarakat. Semoga setiap langkah yang telah kami lakukan menjadi amal saleh yang diterima oleh Allah Swt., dan semoga silaturahmi yang telah terjalin tetap terjaga meskipun masa pengabdian telah usai.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dipublish sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Jurnalistik.
ADI Riau 2025-2026
1. Indra Cahya Saputra
2. Raudhaotul Jannah
3. Rizki Nurrahman
Dosen Pengampuh : Ammastafakide Zainal S.Si















Leave a Reply