Advertisement

Karhutla Kalimantan Meluas, Kabut Asap Ganggu Aktivitas dan Kesehatan Warga

AKTAMEDIA.COM –  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Kondisi tersebut diperparah cuaca yang kering dan terbatasnya curah hujan, terutama di kawasan lahan gambut yang rentan terbakar. Kabut asap akibat karhutla kini mulai mengganggu aktivitas masyarakat sekaligus menimbulkan dampak terhadap kesehatan.Karhutla Kalimantan Meluas, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kalimantan

Kabut asap dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah seperti Banjarbaru dan Liang Anggang di Kalimantan Selatan serta Sampit dan Palangka Raya di Kalimantan Tengah. Di beberapa lokasi, asap membuat jarak pandang menurun hingga mengganggu aktivitas warga dan lalu lintas.

Di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, asap dari kebakaran lahan gambut bahkan membuat warna langit berubah kekuningan. Warga juga mulai mengeluhkan bau menyengat, iritasi mata, hingga gangguan saluran pernapasan.

Dampak kesehatan turut menjadi perhatian. BPBD Kalimantan Tengah melaporkan sebanyak 66.679 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat di tengah kondisi karhutla dan kabut asap yang terjadi di wilayah tersebut.

Sementara itu, pemerintah terus memperkuat penanganan karhutla melalui operasi terpadu yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kementerian Kehutanan, BNPB, BMKG, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan hingga masyarakat.

Sedikitnya 12.880 personel gabungan dikerahkan untuk menangani karhutla di tiga provinsi prioritas. Rinciannya, 1.410 personel berada di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan.

Petugas di lapangan melakukan pemantauan titik panas, patroli, pemeriksaan lokasi, pemadaman darat, pembasahan dan pendinginan lahan, hingga penyekatan area terbakar untuk mencegah api kembali meluas.

Penanganan juga diperkuat dengan dukungan udara. Di Kalimantan Tengah, pemerintah mengerahkan lima unit helikopter untuk operasi water bombing serta satu unit pesawat untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pembangunan dan pengaktifan sumur bor turut dilakukan untuk mempercepat penyediaan air di wilayah yang sulit mendapatkan sumber air permukaan.

Berdasarkan pemutakhiran Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, selama 17–19 Agustus 2026 terdeteksi 750 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Perkembangan hotspot dan kondisi kabut asap terus dipantau karena situasinya dapat berubah mengikuti lokasi kebakaran, arah angin, serta kondisi atmosfer.

Pemerintah mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker ketika berada di luar rumah, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko paparan asap sekaligus membantu mempercepat penanganan karhutla.

Alika Zahra
Author: Alika Zahra

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *