AKTAMEDIA.COM, BUKITTINGGI – Dalam khazanah pepatah Minangkabau, setiap ungkapan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan pengalaman panjang masyarakat dalam memahami watak manusia. Salah satu pepatah yang tajam namun halus dalam menyindir perilaku sosial adalah:
“Urang tapuji sangkuik pauk, urang taupek lapeh-lapeh.”
Pepatah ini, meski singkat, menyimpan makna mendalam tentang relasi manusia—tentang pujian, kepentingan, dan ketulusan yang sering kali tidak berjalan seiring.
—
Makna Filosofis di Balik Pepatah
Secara harfiah, pepatah ini menggambarkan dua pihak:
Orang yang dipuji ternyata “tersangkut lauk” — terikat oleh kepentingan tertentu
Orang yang memuji hanya “menepuk lepas-lepas” — tidak sungguh-sungguh, tanpa tanggung jawab
Makna simboliknya sangat jelas:
Pujian sering kali tidak berdiri di atas ketulusan, melainkan dibungkus oleh kepentingan tersembunyi. Sementara itu, orang yang memberi pujian pun belum tentu benar-benar peduli; bisa jadi hanya sekadar basa-basi atau alat untuk mencapai tujuan tertentu.
—
Pujian sebagai Alat, Bukan Nilai
Dalam kehidupan sosial, pujian sering dianggap sebagai bentuk penghargaan. Namun pepatah ini mengingatkan bahwa pujian bisa berubah menjadi alat manipulasi.
Tidak sedikit orang yang:
Memuji untuk mendapatkan keuntungan
Menyanjung untuk mendekati kekuasaan
Mengangkat seseorang demi kepentingan pribadi atau kelompok
Di sisi lain, orang yang dipuji sering kali:
Terlena oleh kata-kata manis
Merasa dirinya benar tanpa evaluasi
Terjebak dalam lingkaran kepentingan yang tidak disadari
Di sinilah letak “sangkuik pauk”—ketika pujian membuat seseorang terikat, tidak lagi bebas berpikir jernih.
—
Budaya Basa-Basi dan Ketidakjujuran Sosial
Pepatah ini juga menyentil budaya basa-basi yang berlebihan. Dalam banyak situasi, orang memuji bukan karena benar-benar mengagumi, tetapi karena:
Tidak enak hati
Ingin menjaga hubungan
Takut dianggap tidak sopan
Akibatnya, lahirlah pujian yang “lapeh-lapeh”—tidak punya bobot, tidak punya komitmen, bahkan bisa menyesatkan.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka:
Nilai kejujuran menjadi kabur
Kritik yang membangun menjadi langka
Kualitas individu dan kelompok sulit berkembang
—
Relevansi dalam Kehidupan Modern
Meski berasal dari tradisi lama, pepatah ini justru semakin relevan di era sekarang, terutama di dunia:
Politik → pujian digunakan untuk membangun citra, bukan kebenaran
Media sosial → sanjungan mudah diberikan, tetapi sering dangkal dan tidak tulus
Lingkungan kerja → apresiasi kadang sarat kepentingan karier
Di dunia digital, “urang taupek lapeh-lapeh” bisa berupa:
Komentar positif tanpa makna
Dukungan semu yang hilang saat dibutuhkan
Popularitas yang tidak diiringi kualitas
Sementara “urang tapuji sangkuik pauk” terlihat pada:
Mereka yang terjebak dalam citra
Kehilangan jati diri karena ingin terus dipuji
Bergantung pada validasi orang lain
—
Pelajaran Moral yang Dapat Diambil
Pepatah ini mengajarkan beberapa prinsip penting dalam hidup:
1. Jangan mudah terlena oleh pujian
Pujian bukan selalu cerminan kebenaran. Kadang justru menjadi jebakan yang halus.
2. Nilai ketulusan, bukan sekadar kata-kata
Perhatikan tindakan, bukan hanya ucapan.
3. Berani jujur, meski tidak selalu menyenangkan
Kejujuran lebih bernilai daripada pujian kosong.
4. Jaga integritas diri
Jangan biarkan diri “tersangkut” oleh kepentingan yang membungkus pujian.
—
Penutup: Antara Sanjungan dan Kesadaran Diri
“Urang tapuji sangkuik pauk, urang taupek lapeh-lapeh” bukan sekadar kritik, tetapi juga peringatan. Ia mengajak kita untuk lebih bijak dalam melihat hubungan sosial: tidak semua yang manis itu tulus, dan tidak semua yang memuji itu peduli.
Dalam dunia yang penuh dengan kata-kata indah, justru keteguhan hati dan kejernihan pikiran menjadi kunci. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak kita dipuji yang menentukan nilai diri, tetapi seberapa jujur kita menjalani hidup tanpa terikat oleh kepentingan.














Leave a Reply