Advertisement

“Taragak Pulang”: Lagu Rindu yang Menjelma Jadi Suara Perantau di Hari Raya

AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Setiap kali Idul Fitri tiba, ada satu lagu yang hampir selalu terdengar di berbagai sudut—dari terminal, bus antar kota, hingga linimasa media sosial. Lagu itu adalah “Taragak Pulang”, karya Dira Sati yang dibawakan bersama Dira, Eja, dan Abdi. Sejak dirilis pada 2021, lagu ini menjelma bukan sekadar karya musik, tetapi menjadi representasi emosional bagi jutaan perantau, khususnya dari Minangkabau.

Popularitasnya tidak datang secara kebetulan. “Taragak Pulang” lahir dari ruang batin yang sangat dekat dengan realitas sosial masyarakat Minangkabau—yakni tradisi merantau. Dalam budaya ini, merantau bukan hanya perjalanan ekonomi, tetapi juga perjalanan pembuktian diri. Seorang laki-laki Minang, dalam banyak pandangan adat, dianggap belum “jadi” sebelum ia meninggalkan kampung halaman untuk mencari pengalaman dan keberhasilan di negeri orang.

Namun, di balik semangat merantau, tersimpan kerinduan yang tak pernah benar-benar hilang.

Rindu yang Ditanam Waktu

Lirik awal lagu ini langsung membawa pendengarnya pada suasana batin seorang perantau:

> “Alah batahun rantau manjadi labuahan hiduik
Tabayang kampuang tampek bamain maso dulunyo…”

Bertahun-tahun hidup di rantau membuat kenangan masa kecil di kampung menjadi semakin hidup dalam ingatan. Kampung bukan sekadar tempat, tetapi ruang emosional—tempat pertama kali mengenal dunia, keluarga, dan jati diri.

Rindu dalam lagu ini bukan rindu yang sederhana. Ia adalah rindu yang “manahun”—bertahun-tahun dipendam, hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Rindu yang hadir siang dan malam, perlahan menggerus batin, namun tetap harus ditahan demi tujuan hidup di rantau.

Antara Harapan dan Tanggung Jawab

Salah satu bagian paling kuat dari lagu ini adalah ketika tokoh “denai” (aku) berbicara kepada ibunya:

> “Oh, mandeh kanduang, usah risaukan denai di siko
Kok lai untuang suratan Tuhan ka bakeh ambo…”

Ada pesan menenangkan, tetapi sekaligus tersirat beban. Seorang anak di rantau berusaha meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian. Ini mencerminkan realitas banyak perantau: menyembunyikan kesulitan demi menjaga hati orang tua di kampung.

Kemudian muncul janji yang sangat khas dalam budaya Minangkabau:

> “Di hari rayo nan ka tibo, denai pulang jo minantu bundo
Jo oto baru, kileknyo rancak, sirah warnanyo…”

Janji pulang membawa “minantu” (calon pasangan) dan mobil baru bukan sekadar romantisme atau kebanggaan material. Ini adalah simbol keberhasilan. Dalam perspektif sosial Minangkabau, pulang dari rantau sering kali identik dengan membawa hasil—baik dalam bentuk ekonomi, status sosial, maupun pencapaian pribadi.

Dengan kata lain, pulang bukan hanya soal kembali, tetapi tentang bagaimana seseorang kembali.

Lagu yang Melampaui Etnis

Meskipun berakar kuat pada budaya Minangkabau, “Taragak Pulang” berhasil melampaui batas etnis. Lagu ini digunakan oleh berbagai kalangan sebagai latar perjalanan mudik. Bahkan banyak yang tidak memahami seluruh liriknya tetap bisa merasakan emosinya.

Mengapa?

Karena esensi lagu ini bersifat universal: kerinduan pada rumah.

Setiap orang yang pernah jauh dari keluarga pasti memahami perasaan itu. Rindu pada masakan ibu, suasana rumah, suara orang tua, hingga hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, tetapi kini menjadi sangat berarti.

Di momen Idul Fitri, kerinduan itu mencapai puncaknya. Tradisi mudik di Indonesia bukan sekadar mobilitas massal, melainkan ritual emosional—kembali ke akar, memperbaiki hubungan, dan merayakan kebersamaan.

Viral dan Diperkuat oleh Banyak Versi

Kesuksesan “Taragak Pulang” juga didorong oleh banyaknya versi cover yang beredar. Penyanyi Minang seperti Boy Shandy dan Adim MF turut membawakan ulang lagu ini dengan warna masing-masing. Setiap versi menghadirkan nuansa berbeda, tetapi tetap mempertahankan inti emosinya.

Fenomena ini memperluas jangkauan lagu, menjadikannya semakin akrab di telinga masyarakat. Di era digital, potongan lagu ini juga banyak digunakan sebagai sound di berbagai platform, memperkuat posisinya sebagai lagu “wajib mudik”.

“Pulang” sebagai Makna yang Lebih Dalam

Pada akhirnya, “Taragak Pulang” bukan hanya tentang perjalanan fisik dari rantau ke kampung. Ia adalah perjalanan batin—tentang identitas, keluarga, dan tujuan hidup.

Pulang dalam lagu ini bisa dimaknai sebagai:

kembali kepada orang tua

kembali kepada akar budaya

atau bahkan kembali kepada diri sendiri

Bagi banyak perantau, kampung halaman adalah tempat di mana mereka bisa menjadi diri mereka yang paling utuh—tanpa tuntutan, tanpa topeng, tanpa beban pembuktian.

“Taragak Pulang” adalah bukti bahwa musik bisa menjadi jembatan antara pengalaman pribadi dan perasaan kolektif. Lagu ini berhasil menangkap sesuatu yang sangat spesifik—pengalaman perantau Minangkabau—namun menyampaikannya dengan cara yang universal.

Di tengah hiruk-pikuk perjalanan mudik setiap Idul Fitri, lagu ini hadir sebagai pengingat sederhana:
bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada satu tempat yang ingin ia tuju kembali—rumah.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa setiap kali lagu ini diputar, banyak orang diam sejenak… lalu tersenyum, atau bahkan meneteskan air mata.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *