Advertisement

Fenomena Aphelion

AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Setiap tahun, Bumi menjalani sebuah perjalanan panjang mengelilingi Matahari dalam jalur elips. Di sepanjang lintasan ini, terdapat dua titik penting: perihelion dan aphelion. Perihelion adalah titik terdekat Bumi dengan Matahari, sementara aphelion adalah titik terjauh. Fenomena aphelion ini sering kali memicu pertanyaan di kalangan masyarakat—apakah bumi akan lebih dingin? Apakah ini memengaruhi musim? Apakah berbahaya? Artikel ini akan membahas tuntas apa itu aphelion, kapan terjadinya, serta dampaknya terhadap kehidupan di Bumi.

Secara astronomis, aphelion adalah titik dalam orbit elips Bumi di mana jaraknya terhadap Matahari berada pada titik maksimum. Kata aphelion berasal dari bahasa Yunani:

“apo” yang berarti “jauh”,

dan “helios” yang berarti “Matahari”.

Bumi tidak mengelilingi Matahari dalam lingkaran sempurna, melainkan dalam bentuk elips (lonjong). Akibatnya, jarak antara Bumi dan Matahari tidak selalu sama. Saat aphelion, Bumi berada sekitar 152,1 juta kilometer dari Matahari. Sebagai perbandingan, saat perihelion (sekitar awal Januari), Bumi hanya berjarak sekitar 147,1 juta kilometer dari Matahari.

Aphelion terjadi setiap tahun sekitar awal bulan Juli. Pada tahun 2025, puncak aphelion jatuh pada 5 Juli 2025, meskipun waktu pastinya bisa bergeser sedikit setiap tahunnya karena pengaruh gravitasi planet-planet lain dan faktor astronomi lainnya.

1. Perubahan Cuaca? Tidak Signifikan

Salah satu kesalahpahaman umum adalah bahwa aphelion akan menyebabkan cuaca lebih dingin. Padahal, perubahan suhu di Bumi lebih banyak dipengaruhi oleh kemiringan sumbu Bumi (sekitar 23,5°) dibanding jaraknya ke Matahari.

Belahan Bumi utara (seperti Indonesia, Asia, Eropa, Amerika Utara) sedang mengalami musim panas saat aphelion terjadi.

Sebaliknya, belahan Bumi selatan (seperti Australia dan sebagian besar Amerika Selatan) mengalami musim dingin.

Artinya, jarak Bumi ke Matahari saat aphelion tidak menentukan musim atau suhu ekstrem secara langsung.

2. Radiasi Matahari Sedikit Lebih Lemah

Karena jarak lebih jauh, radiasi Matahari yang diterima Bumi sedikit berkurang—sekitar 6,7% dibanding saat perihelion. Namun, perbedaan ini tidak cukup besar untuk mengubah cuaca secara drastis. Lagipula, sebagian besar panas Bumi tetap dikendalikan oleh atmosfer, lautan, dan sumbu rotasi.

3. Durasi Hari dan Malam Bisa Sedikit Berubah

Di sekitar waktu aphelion, belahan Bumi utara memiliki siang yang lebih panjang. Sebaliknya, belahan Bumi selatan memiliki malam yang lebih panjang. Namun, perbedaan ini disebabkan oleh kemiringan Bumi, bukan jaraknya ke Matahari.

Tidak. Aphelion adalah bagian normal dari siklus orbit Bumi. Ini telah terjadi sejak Bumi pertama kali terbentuk, dan akan terus terjadi tanpa membahayakan kehidupan. Tidak ada ancaman fisik, bencana alam, atau kejadian luar biasa yang secara langsung disebabkan oleh fenomena ini.

Namun, karena minimnya pemahaman publik, sering muncul berita hoaks atau mitos yang mengaitkan aphelion dengan cuaca ekstrem, kiamat, atau badai Matahari. Maka dari itu, penting untuk meluruskan informasi ini secara ilmiah.

Fenomena aphelion adalah kejadian tahunan yang normal dan tidak membahayakan. Meskipun saat itu Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari, dampaknya terhadap iklim dan cuaca sangat kecil. Perubahan musim dan suhu di permukaan Bumi jauh lebih dipengaruhi oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi daripada oleh jarak dari Matahari.

Pemahaman yang benar mengenai fenomena-fenomena astronomi seperti ini sangat penting agar kita tidak mudah percaya pada mitos atau kabar yang menyesatkan. Justru, momen seperti aphelion bisa menjadi waktu yang tepat untuk memperdalam pengetahuan tentang ruang angkasa dan hubungan Bumi dengan Matahari.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *