AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Ketua Umum PKN, I Gede Pasek Suardika (GPS), melempar kritik pedas sekaligus refleksi mendalam atas pecahnya perang Iran vs AS-Israel. Pesannya jelas: Dunia sudah berubah, tapi apakah pertahanan kita masih “jalan di tempat”?
Poin “Pedas” Analisis GPS:
Rambo Sudah Pensiun: Perang modern bukan lagi soal otot kawat tulang besi atau jago bela diri. Ini soal frekuensi, sinyal, algoritma, dan Artificial Intelligence (AI).
Tentara Teknokrat vs Tentara Petani: GPS menyentil keras kebijakan yang masih menyibukkan tentara dengan urusan tanam padi, singkong, atau koperasi. “Saatnya kembali ke barak untuk riset! Jangan sampai tentara kita ahli nanam jagung, tapi gaptek soal drone berpeluru kendali,” tegasnya.
Syarat Masuk TNI Harus Dirombak? Lupakan soal tinggi badan atau mata minus sebagai syarat utama. Di era ini, kita butuh otak jenius yang menguasai Fisika, Kimia, dan Matematika untuk mengendalikan rudal dari jarak ribuan kilometer.
Ironi Drone Kita: Saat negara lain sudah kirim ribuan drone balistik, drone di kita baru sebatas buat ambil gambar pungli di lokasi wisata. Jauh tertinggal!
Sentilan untuk Netizen:
GPS juga menyoroti literasi kita yang rendah. Kita lebih suka bergunjing dan berkomentar daripada membaca dan meriset. Padahal, kunci kemenangan perang masa depan adalah SDM Intelektual Kelas Tinggi, bukan sekadar jago debat di medsos.
Indonesia negara kepulauan besar. Kalau kita tidak segera berbenah menciptakan teknologi intersep dan rudal penembus bunker, kita cuma bakal jadi penonton di tengah kecanggihan dunia.
Setuju nggak kalau syarat masuk TNI lebih mengutamakan skor Matematika & Coding daripada tes fisik lari muter lapangan? Tulis pendapatmu!

















Leave a Reply