AKTAMEDIA.COM | Pekanbaru – Di tengah riuhnya perdebatan dan silang pendapat yang kini mewarnai perjalanan KAMMI, ada satu suara yang sering kali luput didengar yaitu suara akar rumput. Suara kader-kader yang selama ini menghidupkan komisariat, menggerakkan pengabdian, menjaga dakwah kampus dan merawat cita-cita organisasi dengan kesederhanaan serta ketulusan.
Hari ini, sebagai bagian dari keluarga besar KAMMI, saya memandang kondisi yang sedang terjadi dengan perasaan yang tidak mudah diungkapkan. Ada kegelisahan yang tumbuh di banyak hati kader. Ada keprihatinan yang berdiam dalam ruang-ruang diskusi. Dan ada kerinduan yang mengendap untuk melihat KAMMI kembali menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh kadernya.
KAMMI dibangun bukan dengan batu bata kekuasaan, melainkan dengan pengorbanan, idealisme, dan semangat persaudaraan. Karena itu, ketika perbedaan pandangan berubah menjadi jarak, ketika ikatan persaudaraan mulai tergeser oleh sekat-sekat kelompok, maka sesungguhnya yang sedang terluka bukan hanya struktur organisasi, tetapi juga harapan banyak kader yang selama ini mencintai KAMMI dengan sepenuh hati.
Perpecahan selalu menyisakan cerita yang pahit. Tidak ada pihak yang benar-benar menang ketika persaudaraan harus membayar harga dari sebuah konflik. Sebab kemenangan sejati dalam gerakan adalah ketika perbedaan dapat dikelola menjadi kekuatan, bukan ketika perbedaan melahirkan keterpisahan.
Di tingkat pusat, wilayah, daerah, bahkan hingga komisariat, dampak dari ketidakstabilan organisasi mulai dirasakan. Sebagian kader menjadi bingung menentukan arah. Sebagian lainnya memilih diam karena lelah menyaksikan pertentangan yang tak kunjung menemukan titik temu. Sementara di luar sana, umat dan bangsa masih menunggu kontribusi nyata dari para pemuda yang dahulu dikenal sebagai agen perubahan.
Kita perlu jujur mengakui bahwa KAMMI hari ini sedang menghadapi ujian besar. Namun sejarah organisasi mengajarkan bahwa ujian bukanlah akhir perjalanan. Ujian adalah kesempatan untuk melakukan refleksi, memperbaiki diri, dan menemukan kembali ruh perjuangan yang mungkin mulai tertutup oleh berbagai kepentingan dan ego kelompok.
Sudah saatnya seluruh elemen KAMMI mengingat kembali alasan mengapa organisasi ini dilahirkan. KAMMI tidak didirikan untuk menjadi arena kontestasi yang melelahkan. KAMMI hadir untuk melahirkan pemimpin umat dan bangsa, membangun peradaban, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Karena itu, ada beberapa gagasan yang patut dipertimbangkan sebagai jalan keluar dari situasi yang sedang dihadapi.
Pertama, membangun Majelis Rekonsiliasi Kader yang melibatkan tokoh-tokoh senior, pendiri, dan kader lintas generasi sebagai ruang dialog yang jujur, terbuka, dan bermartabat. Persatuan tidak akan lahir dari saling mengalahkan, tetapi dari kesediaan untuk saling mendengarkan.
Kedua, melakukan Moratorium Konflik, yaitu menghentikan sementara narasi-narasi yang berpotensi memperlebar jurang perbedaan. Saatnya energi kader diarahkan untuk pelayanan masyarakat, pembinaan kader, dan agenda-agenda keumatan yang lebih produktif.
Ketiga, menggelar Silaturahmi Nasional Kader KAMMI dengan semangat persaudaraan. Pertemuan ini tidak berorientasi pada legitimasi kelompok tertentu, melainkan menjadi ruang untuk menyembuhkan luka, mengembalikan kepercayaan, dan memperkuat komitmen bersama terhadap masa depan organisasi.
Keempat, mengembalikan orientasi gerakan kepada karya dan kontribusi. KAMMI akan kembali besar bukan karena siapa yang paling kuat berbicara, melainkan karena siapa yang paling banyak memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.
Sebab pada akhirnya, organisasi ini tidak akan dikenang karena konflik yang pernah terjadi di dalamnya. KAMMI akan dikenang karena kemampuannya bangkit dari konflik tersebut dan menjadikannya pelajaran berharga untuk tumbuh lebih dewasa.
Hari ini, akar rumput tidak meminta siapa yang harus menang atau kalah. Akar rumput hanya ingin melihat KAMMI kembali utuh sebagai rumah perjuangan yang mampu menaungi seluruh kader tanpa kecuali.
Seperti pohon yang besar, KAMMI mungkin sedang diterpa badai. Beberapa ranting boleh jadi patah, beberapa daun mungkin gugur. Namun selama akar masih saling terhubung dan batangnya tetap kokoh, pohon itu akan tetap hidup dan kembali tumbuh.
Maka marilah kita menjaga akar itu.
Karena yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar nama organisasi, melainkan harapan generasi muda, amanah perjuangan, dan masa depan gerakan yang telah dibangun dengan air mata, pengorbanan, serta cinta dari begitu banyak kader di seluruh penjuru negeri.
KAMMI harus kembali menjadi rumah, bukan medan pertarungan. Menjadi pelita, bukan bara yang saling membakar. Menjadi jembatan persaudaraan, bukan tembok pemisah.
Dan sejarah akan mencatat, bahwa di tengah badai perpecahan, masih ada kader-kader yang memilih merawat persatuan daripada memperpanjang pertentangan.














Leave a Reply