AKTAMEDIA.COM – Bencana banjir dan longsor kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera. Rumah-rumah hanyut, akses jalan putus, fasilitas umum rusak, dan korban jiwa berjatuhan. Kepedihan itu menyisakan luka yang tidak hanya terlihat pada kerusakan fisik, tetapi juga pada ingatan masyarakat yang menjadi saksi betapa cepatnya alam dapat berubah menjadi ancaman.
Musibah ini hadir bukan di ruang kosong. Ia datang di tengah kehidupan yang terus berjalan, rutinitas yang tak pernah berhenti, serta peradaban yang semakin sibuk membangun. Namun ketika air bah menerjang, manusia dipaksa berhenti. Ia mengingatkan bahwa sekokoh apa pun struktur yang dibangun, setinggi apa pun prestasi yang dikejar, manusia tetap makhluk yang lemah ketika takdir mengetuk.
Dalam setiap musibah, selalu ada seruan untuk muhasabah—sebuah ajakan menengok kembali pilihan dan langkah yang telah dilalui. Fenomena banjir bandang dan tanah longsor bukan hanya akibat hujan lebat atau pergerakan tanah. Ia juga merupakan cermin dari akumulasi tindakan manusia dalam waktu panjang. Ekosistem yang terganggu, hutan yang ditebang tanpa kontrol ketat, pemukiman yang merangsek ke kawasan rawan bencana, hingga buruknya tata kelola drainase adalah serpihan fakta yang ikut menghantarkan bencana menjadi kenyataan.
Dalam konteks ini, musibah berubah menjadi peringatan. Bahwa pembangunan membutuhkan keseimbangan. Bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan daya dukung alam. Bahwa setiap izin lahan, reklamasi, atau pelebaran pemukiman membutuhkan pertimbangan ilmiah dan ekologis, bukan sekadar angka efisiensi jangka pendek.
Namun, di balik duka yang berat, selalu ada harapan. Kepedulian masyarakat terlihat jelas saat relawan berdatangan, posko bantuan dibuka, dan bantuan logistik mengalir. Tangan-tangan yang biasanya bergerak sendiri mulai saling menggenggam. Bencana membuat sekat sosial memudar. Yang tersisa adalah kemanusiaan.
Dari sudut pandang spiritual, musibah selalu menjadi momentum evaluasi diri. Banyak masyarakat yang mengaitkannya dengan doa, sabar, dan keyakinan bahwa semua ketentuan Allah memiliki hikmah. Kelapangan hati menerima cobaan menjadi kekuatan moral yang menggerakkan masyarakat untuk bangkit.
Namun muhasabah tidak boleh berhenti dalam rasa sedih atau sekadar membatin. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata: perbaikan lingkungan, konsistensi mitigasi bencana, edukasi masyarakat, dan kebijakan pembangunan yang berpihak pada keselamatan ekologis. Pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga swadaya, hingga individu harus menempatkan bencana ini sebagai momentum perubahan.
Karena musibah bukan sekadar peristiwa. Ia adalah pesan yang meminta jawaban.
Bencana mungkin datang tiba-tiba, tetapi bangkit darinya memerlukan usaha panjang. Ketika air mulai surut dan lumpur dibersihkan, pekerjaan besar baru dimulai: memperbaiki sistem dan budaya pengelolaan alam agar lebih bijak.
Pada akhirnya, duka yang menyelimuti Sumatera hari ini akan menjadi kenangan yang mahal jika darinya lahir kesadaran baru. Musibah memaksa manusia berhenti. Muhasabah mengajak manusia melangkah lebih baik.
Dan semoga dari peristiwa ini tumbuh kekuatan baru, bukan hanya untuk membangun kembali yang rusak, tetapi juga untuk mencegah bencana yang sama mengetuk pintu kehidupan di masa mendatang.

















Leave a Reply