Advertisement

Orang Minang: Berkarya, Berkompetisi dan Peranan Adat di Dunia yang Berubah

AKTAMEDIA.COM, PADANG – Sejauh mana pengaruh Minang terhadap globalisasi dan kontribusi Minangkabau di luar negeri? Apa yang paling berpengaruh?

Yang pertama, yang paling mungkin dan paling dekat, kuliner. Rendang Padang sembilan tahun berturut-turut menjadi makanan terenak, terlezat di dunia, secara internasional. Bisa ditest, diuji rendang yang ratusan macamnya. Rendang Solok, rendang Batusangkar, rendang Bukittinggi dan lain-lain berbeda rasanya. Coba ahli rasa bisa pilih mana yang terbaik rasanya, bisa jadi tidak ada apa-apanya KFC. Ini kelihatan rendangnya betul-betul kaya rempah, kaya rasa makanannya. Sembilan tahun menjadi makanan terenak, terlezat. Ada sejumlah masakan Padang seperti itu. Sekarang secara nasional sudah banyak dengan kemasan, itu bisa menghasilkan. Tetapi yang membisniskan orang lain, Cina, Malaysia. Namanya rendang Padang, tapi yang punya orang Malaysia, orang Cina. Restoran Padang itu, tidak semuanya yang punya orang Padang.

Itu pertama, yang paling memungkinkan dalam waktu dekat untuk global.

Kedua, menurut saya, pendidikan. Orang Minang itu mau sekolah, disekolahkan di mana-mana, yang bagus-bagus ya. Dia punya spirit untuk sekolah. Di Minang itu boleh menggadaikan harta pusaka untuk sekolah. Waktu saya masuk kantor gubernur tahun 1982, saya baru jadi pegawai. Itu pejabat-pejabat tinggi kantor gubernur Sumbar dari alumni UGM semua. Pak Hasan Basri Durin, Pak Surkani, Pak Kamal, Pak Karseno, Pak Fahmi, itu semua alumni UGM tamatan tahun 1957 – 1960-an. Bapak bisa bayangkan kapan mereka berangkat.

Jadi ketika awal Indonesia merdeka mereka sudah mencari ilmu, pergi ke situ karena UGM ketika itu dianggap paling republiken, paling nasional. Karena itu orang Padang suka. Kenapa bukan ke UI, tapi ke Yogya? Termasuk bapak saya. Karena itu nama saya Gamawan, itu mengingat Gama, karena bapak saya dari UGM. Jadi dia mau dengan kesulitan, yang luar biasa pergi dia ke situ. Berapa kali dulu ke Jakarta, kalau naik mobil, berapa kali naik rakit di sungai-sungai besar itu, baru sampai ke Jakarta.

Kalau ke Mekkah, ke Timur Tengah, belajar, bayangkan saja. Kamus Bahasa Arab Indonesia yang pertama membuat orang Padang juga, Batusangkar. Mengetik dengan mesin tik. Yang kita hargai semangatnya, orang lain juga banyak yang pintar, tapi kan semangatnya.

Buya Syafi’i Ma’arif, waktu tahun 2000 baru pertama kali listrik masuk ke kampungnya, di Sumpur Kudus. Saya membayangkan, tahun 82 saya membela perkara, saya di LBH, masih berjalan kaki sidang ke Sawahlunto. Pak Syafi’i mampir ke rumah saya waktu menjadi Bupati. ‘Ke mana Buya?’ ‘Pulang kampung, ini Herman Daniel, Direktur PLN, mau masukkan listrik ke kampung saya.’ Jadi baru tahun 2000 listrik masuk ke kampung beliau, tetapi beliau sudah sekolah ke Amerika.

Saya bilang itulah spirit untuk sekolah, untuk menuntut ilmu pengetahuan, tahun berapa itu. Walikota/Gubernur DKI pertama orang Padang juga. Tamatan Belanda. Dahlan, sebelum tahun 45 Gubernur Dahlan sudah tamat dari Belanda.

Tapi begini, kalau melihat seperti itu, apa mungkin kita masih bisa menghimpun tokoh dan pengusaha Minang untuk membantu mengembangkan pendidikan dan pariwisata?

Bisa, tapi saya belum melihat kiatnya. Karena begini, itu bukan sekarang saja, sejak Pak Azwar Anas sudah dicoba. Dulu Pak Latief, Fahmi Idris, Aminuzal Amin, Nasroel Chas. Itu kelompok itu sudah sejak dulu, ada PT. NDC. Tapi kalau sudah bersama, itu juga tidak pernah sukses, buat 32 BPR.

Jadi orang Minang itu tidak bisa teamwork, bisanya sendiri-sendiri. Memang karakternya begitu. Ada saudagar Minang, karena Pak JK sudah membuat saudagar Bugis maka saudagar Minang juga ada, tidak jalan. Tapi kalau pribadi-pribadi bisa. Jadi masing-masing, saya merasa lebih pintar dari Bapak, dan Bapak merasa lebih pintar dari saya, dan itu saya akan membuktikan dan Bapak juga akan membuktikan kepada saya. Karena itu ia hidup dalam tekanan untuk sukses, tapi tidak bisa kerja sama, saya jamin itu, sampai kapan pun akan begitu terus.

Bagaimana dengan generasi baru sekarang?

Orang Minang itu ketua saja. Semua ketua. Kalau kita ketemu di jalan. ‘Halo! Ketua.’ Semua ketua. Ini ketua pasar, ketua arisan, pokoknya ketua saja semua. Tidak mau kalah dengan temannya. Karena itu tidak mau bersatu, dia berkompetisi. Saya tidak pernah menulis sosiologi Minang, tapi saya paham betul, dan boleh berdebat dengan siapa saja karena saya bupati, lama, gubernur, sesudah itu kemudian birokrat, di organisasi.

Saya ke luar dari Padang itu dua saja, pertama lahir dibawa bapak saya ke Mataram, bapak saya bekerja di situ. Pulang kampung. Jadi menteri baru pindah lagi. Sisanya berada di Minang. Jadi kalau ceritera Minang, saya insya Allah. Saya sudah uji pendapat-pendapat saya ini, bicara di mana-mana.

Pak, dulu ibu Megawati menyampaikan bahwa orang Minang sekarang beda dengan orang Minang dulu. Bagaimana pendapat Bapak?

Kan saya balas, saya tulis. Dulu hebat itu dilihat dari perjuangan sekitar kemerdekaan. Sekarang hebat itu tidak dilihat dari situ saja. Spektrumnya sudah sangat luas. Kalau dulu siapa, kalau kita bicara PPKI atau yang lainnya orangnya itu-itu saja, tidak lebih dari 100 orang. Dulu ada 25 orang Minang dari100 itu, hebat, ada etnis kecil menguasai lembaga sebesar itu. Tapi sekarang kan beda. Dulu tidak perlu ada ahli nuklir, dulu tidak perlu ada macam-macam ahli. Sekarang itu diperlukan, karena itu tersebar di banyak hal, medan perjuangannya sudah lebih luas. Dulu ukuran hebat itu siapa yang memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Kan kita di seputar itu saja kita disebut hebat. Sekarang tidak bisa lagi, spektrumnya sudah sangat luas. Kita mengujinya bagaimana. Sekarang kita lihat, dari 100 dokter terhebat di Indonesia berapa orang Minang, dari 100 fisikawan hebat berapa orang Minang, itu.

Di Jerman ada profesor doktor orang Padang Panjang, di Universitas di Jerman, ‘Kenapa saya lebih hebat dari Habibie? Saya AFS, saya langsung diminta jadi dosen, saya guru besar di Jerman, saya ahli nuklir.’ Tapi orang ini dilecehkan di sana, dianggap bodoh saja. Orang Padang Panjang, beliau kalau boleh saya sebutkan namanya, yang terhormat Prof. Dr. Jarwis. Sekarang masih dipakai di Jerman.

Medan perjuangan itu sudah sangat luas, menurut saya tidak berkurang, malah bertambah. Dulu kita lihat, soal kemerdekaan saja, kebetulan sejumlah orang Minang sudah banyak yang bersekolah, Tan Malaka, H. Agus Salim, Hatta. Di antara mereka sekolah ke Belanda. Ketika perjuangan menghendaki cendekiawan untuk berpikir kebetulan sejumlah orang Minang sudah ada di antara sedikit orang Indonesia. Menurut saya tidak berkurang, malah bertambah, Cuma dalam kompetisi yang lebih luas.

Lalu, etnis lain juga memiliki orang pandai.

Iya, dan jumlah orangnya banyak. Mungkin waktu itu orang Jawa masih merasa dalam naungan kerajaan. Bukan orang pandainya tidak banyak, tapi nggak enak, segan, ewuh pakewuh. Orang Padang egaliter.

Ada sebuah buku orang tua sawah di Padang. Datang Gubernur Jenderal pakai penerjemah. Datang orang tua sawah itu, bertanya kepada juru bahasanya, ‘siapa ini?’ ‘Gubernur Jenderal,’ kata juru bicaranya. ‘Ada bawa rokok dia?’ ‘Ada,’ katanya. Dikeluarkan rokok. ‘Mintalah satu. Tolong dibakarkanlah sekalian.’ Karena dia egaliter. Nggak ada orang tinggi di Minang. Dia sudah merdeka sejak dulu, sikapnya merdeka, orang ini sama saja. Tuhan saja yang tinggi, satu.

Seperti kata orang Minang, ‘kalau kaya anda kami tidak meminta, kalau pandai anda, kami tidak bertanya.’

Tapi, orang Minang yang dihargai budi pekerti, akhlak, sama ibunya takut.

Sekarang ini menurut Pak Gamawan bagaimana dengan orang Minang yang sudah berkecimpung di politik? Egaliteriannya itu ada yang bilang sudah luntur untuk sebagian mereka, malah sudah menjadi feodal.

Oh ya. bisa, bisa karena dia sudah tidak hidup di lingkungan itu. Dia sudah menyesuaikan diri, dia lihat tetangganya, sudah berubah. Tidak seperti di Padang lagi.

Malah memanfaatkan Alam Takambang Menjadi Guru. Karena alamnya….

Menyesuaikan diri kalau mau sukses, Iya, karena dia tidak lahir di situ, dia tidak dalam lingkungan sosial seperti itu, dia hidup di dalam lingkungan sosial yang berbeda. Ya, pandai-pandai dia. Lebih hebat lagi dari orang Jawa hormatnya.

Tapi kalau di ranah Minang mungkin masih ya?

Kalau di Minang, iya.

Apakah memang sampai sekarang hukum adat kita itu, sedikit banyaknya menjadi penghambat bagi pembangunan? Mungkinkah ditafsir ulang hukum adat itu?

Kalau saya melihat sekarang, kekhawatiran itu tidak seperti dulu lagi. Karena sekarang, walaupun di dalam adat, tidak mungkin harta pusaka tinggi itu dibagi, dalam realisasinya sudah dibagi. Saya misalnya, satu nenek. Saya sudah bagi-bagi dengan tante saya. Ini hak ibu saya, ini hak tante saya. Ini hak kakak ibu saya. Tidak mugkin kita kerjakan bersama-sama karena kita tidak ada yang tinggal di kampung satu orang pun. Bagaimana mengerjakannya karena kita sudah di rantau semua. Akhirnya kita bagi-bagi lah. Supaya bermanfaat. Buat sertifikat atas nama masing-masing, sepakati.

Jadi itu harta pusaka tinggi, kan katanya bisa terkena “kutukan” melanggar harta pusako tinggi?

Saya lihat itu bagus juga, supaya lama hilangnya harto pusako tinggi itu. Kalau saya, saya nikmati saja. Real-nya tidak ada seperti itu.

Kalau seandainya orang itu, dia tinggal satu-satunya yang tinggal, yang menentukan, tidak ada lagi yang menentukan. Bagaimana itu?

Itu menjadi milik dia.

Mengenai adat tadi, kan kita punya datuk-datuk, fungsinya apakah seremonial saja?

Bapak tahu pusako kan? Ini kan sebuah sistem, sistem itu saling terkait. Kenapa ada datuk, kenapa ada penghulu, karena bukan hanya terkait fungsi sosial, tetapi juga fungsi ekonomi. Tanah itu kan dia yang menentukan. Ketika tanah itu tidak ada, ketika orang hidup tidak mengandalkan tanah, penghasilan sudah satu milyar sebulan, untuk apa itu tanahnya. Saya tidak bergantung ke tanah. Kalau sudah tidak bergantung ke tanah, peran penghulu itu apa? Berkurang, paling mengawinkan saja. Kalau saya tidak mau, tidak apa-apa, nikah saja di Jakarta. Siapa yang mau sajalah. Akhirnya pelan-pelan itu berubah terus. Jadi pusaka dan sang-saka berbeda. Dua hal berbeda. Ahirnya dalam sistem dia saling membesarkan, saling mengunci saling terkait baru dia efektif. Kalau dia tidak saling terkait, tidak efektif lagi. Sekarang, itu yang sudah berubah sehingga fungsi mamak itu sudah bergeser, terdegradasi.

Saya punya keponakan di Jakarta, saya bilang ke adik saya. ‘Si anu mau kawin ya? Kenapa tidak datang kepada saya?’ Paling dia bilang, ‘Minta maaf, Uda,’ dan disalahkan anaknya tidak mengerti adat istiadat, sudah dimarahi dia itu. Lalu kalau dilangsungkan juga, bagaimana, tanpa memberitahu saya. Saya menghukum dia dengan apa? Kalau di kampung saya bisa menghukum dia. Jangan naik ke rumah, jangan datang ke tanah pusaka, Jangan kubur di padang pekuburan. Takut keponakan sama saya. Kalau di sini saya tidak akan memakai tanah pusaka.

Apakah tidak sebaiknya yang menjadi datuk itu mereka yang tinggal di Sumatera Barat? Paling tidak di sekeliling Sumbar, seperti di Riau.

Karena fungsi datuk ini juga menjaga marwah keluarga. Kalau jenderal A yang jadi mamaknya, datuknya, orang kaum lain pikir dua kali ganggu sawahnya. Jadi fungsinya sudah banyak.(*)

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *