{"id":9901,"date":"2026-03-14T02:18:26","date_gmt":"2026-03-14T02:18:26","guid":{"rendered":"https:\/\/aktamedia.com\/?p=9901"},"modified":"2026-03-14T02:18:26","modified_gmt":"2026-03-14T02:18:26","slug":"beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/","title":{"rendered":"Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan"},"content":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PADANG PANJANG &#8211; Kemenakan itu adalah anak  saudara perempuan dari seorang laki-laki. Biarpun perempuan itu kakak atau adik dari si laki-laki tadi. Tapi ada murid saya bertanya, apa bedanya kemenakan dengan anak kemenakan ?, sebab di Minangkabau pusako tak pernah jatuh kepada anak, tetapi kepada kemenakan, hal ini belum  bisa saya jawab, mohon pak Saiful Guci jelaskan \u201d Ujar Bela Martinis seorang guru saat datang kerumah sambil Refleksi.<\/p>\n<p>\u201c Memang benar di Minangkabau bahwa tidak pernah pusako (pusaka) itu jatuh kepada anak, melainkan pusako itu turunnya  kepada kemenakan. Kemenakan itu terbagi tiga yaitu: 1). Kemenakan kandung. 2). Kemenakan kontan.3). Anak kemenakan.<\/p>\n<p>Yang dimaksud dengan \u201cKemenakan Kandung\u201d ialah  kemenakan sedarah atau sekaum menurut ilmu dan dalil adat, yaitu  sasasok, sajarami, sapandam, sapa kuburan, sasako, sapusako, sahutang, sapiutang seorang Mamak Kepala Waris. Inilah yang dikatakan &#8221; waris   batali darah&#8221;.   Adapun yang dikatakan sasasok dalah tanah bekas peladangan, sedangkan jerami adalah batang-batang padi yang sudah dipungut hasilnya. Kesimpulannya yang dikatakan sasasok ini boleh dikatakan sepeladangan, sedangkan sejerami ialah sesawah. Maka sepeladangan dan sesawah ini menyata kan bahwa orang itu sekaum betul-betul atau sedarah.                                            <\/p>\n<p>Yang dikatakan \u201cKemenakan Kontan\u201d ialah kemenakan yang bertali darah menurut ilmu dan dalil adat,  yakni sasasok, sajarami, sapandam, sapakuburan, tetapi telah dua Mamak Kepala Warisnya tetapi neniaknya bertemu diatasnya.Inilah yang dikatakan &#8220;Sawaris batali darah&#8221;. Manakala Sawaris yang berbusuk hanyir,maka ini dinamakan \u201cnan satampok\u201d (selebar telapak tangan). Tapi kalau tidak berbusuk hanyir, maka ini dinamakan \u201cnan sajangka\u201d.<\/p>\n<p>Yang dikatakan berbusuk hanyir ialah apabila Sawaris tadi merawat mamaknya dengan sungguh-sungguh dengan tidak bosan-bosan dan tidak merasan jijik sedikitpun, walaupun kotoran ataupun darah yang dikeluarkan dari dubur atau mulut -mamaknya itu namun tetap dirawatnya sebaik-baiknya dan dia menganggap dan merasa kotoran dan darah itu kotoran dan darahnya sendiri.  Inilah yang dikatakan berbusuk hanyir. <\/p>\n<p>Yang dikatakan \u201cAnak Kemenakan\u201d, ialah anak yang dijadikan kemenakan menurut saluran adat. Anak kemenakan itu terbagi tiga, yaitu: 1). Berasal dari bertali emas perak. 2). Berasal dari bertali budi baik. 3). Anak benar-benar yang dijadikan kemenakan, yaitu anak yang berasal dari nagari lain.<\/p>\n<p>Yang dimaksud dengan \u201cAnak Kemenakan yang bertali emas perak\u201d, yaitu budak yang dibeli dizaman dahulunya,seiring dengan diperlakukan Undang-undang Penghapusan Perbudakan di Hindia Belanda, sebagaimana yang dimuat dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie 1859, No. 46 dan 47. Walaupun dinyatakan berlaku sejak 1 Januari 1860, namun Undang-undang tersebut baru mulai direalisasikan di Sumatra Barat tahun 1870-an. Sejak saat itu dilakukanlah pembebasan para budak dan juga orang berhutang, serta  dibentuklah \u201ckemenakan batali ameh perak\u201d dengan membayar 30-50 mas kepada suku tempat mereka bergabung untuk menjadi buah perut dari sebuah suku.<\/p>\n<p>Yang dimaksud dengan \u201cAnak Kemenakan Bertali Budi Baik\u201d, ialah kemenakan yang dijadikan menurut saluran adat.<br \/>\nKemenakan Bertali Budi Baik terbagi dua,yaitu:-<br \/>\n1. Berasal dari anak- semang (anak buah) yang berbudi-baik.<br \/>\n2. Berasal dari turunan darah (balahan).  <\/p>\n<p>Balahan kemenakan terbagi dua, yaitu : a). Basapiah Babalahan. b). Laweh Basibiran <\/p>\n<p>Turunan sedarah (balahan) dinamakan &#8221; Warisan&#8221;.  Manakala dijadikan kemenakan menurut saluran adat, yaitu sandi (sendi) lah dia tunggui, lapuklah dia kajangi, usang lah dia pabarui, hutang lah dia bayar, pecahan lah dia timbang, adat lah dia pakai dan sebagainya, maka-tempat takluknya ialah pada &#8221; Sawaris nan satampok (Sewaris yang setampok) &#8220;, karena sama-sama bertali darah, dinamakan &#8221; Selabu bertimbang punah &#8221; menurut adat.<\/p>\n<p>Apabila timbul kesulitan, dimasukkan Budi Caniago yang berbunyi &#8221; Mati batungkek (bertongkat) budi, hidup berkerelaan &#8220;.  Dengan ini pusako (pusaka) boleh dibagi, yaitu buntak bulieh (boleh) dikeping, panjang boleh dikerat, dengan menghunjamkan tongkat atau disebut ditokokkan lantak. Dan sako didudukkan menurut halur dan patutnya.<\/p>\n<p>Basapiah Babalahan<\/p>\n<p>Kata \u201cBasapiah Babalahan \u201c , yaitu  berasal dari dua kata \u201c Sapiah\u201d dan Babalah\u201d. Kata Sapieh ini berasal dari kata yang dimisalkan kepada keadaan padi.  Umpamanya serumpun padi disawah yang telah masak yang terdiri dari beberapa tangkai. Satu atau beberapa tangkai dari padanya-dipindahkan kesebuah rangkiang.<\/p>\n<p>Padi yang dipindahkan itu dinamakan Balahan dari padi yang serumpun disawah tadi.Kemudian padi yang bertangkai dalam rangkiang itu diambil sebahagian dari yang setangkai atau dari beberapa tangkai tadi dan dipindahkan ketempat lain.<\/p>\n<p>Padi yang dipindahkan sekarang ini menjadi balahan (belahan) pula dari padi yang ada dalam rangkiang tersebut. Jadi inilah yang menjadi sapiah namanya dari padi yang awalnya serumpun di dalam sawah tersebut. Kesimpulannya sapiah adalah balahan dari pada balahan.<\/p>\n<p>Kata-kata balahan ini berasal dari &#8220;Balah&#8221;(belah),misalnya sebuah limau dibelah dua. Yang sebelah dinamakan balahan (belahan)  dari yang sebelah lagi. Jadi yang dimaksud dengan balahan (belahan ialah orang yang dahulunya berasal dari satu kaum, umpamanya salah  seorang dari kaum itu yang pindah atau pergi kenagari lain dan menetap disana.Lama kelamaan orang yang pergi itu telah menjadi orang nagari itu benar-benar.    <\/p>\n<p>Adat telah dipakainya, limbago telah dituangnya dinagari itu. Dia telah kembang biak dan telah turun-temurun dinagari itu, hingga ada kalanya telah memakai Sako dan Pusako pula disana. Ada kalanya dia masih ada hubungan juga dengan familinya yang ada dinagari asalnya dan ada pula diantaranya yang tidak ada lagi hubungannyan yaitu telah putus hubungannya hingga yang mana benar sandi (sendi) asalnya dahulu kala sudah tidak diketahuinya lagi.<\/p>\n<p>Maka keturunan dari orang yang pergi itulah yang dinamakan Balahan (belahan) dari kaumnya yang masih ada dinagari asalnya.Begitu pula sebaliknya, kaumnya yang tinggal dinagari asalnya menjadi balahan (belahan) pula dari orang yang pergi kenagari lain tadi.<\/p>\n<p>Balahan (belahan) itu tidak bertentu berada pada suatu nagari saja, bahkan ada dibeberapa buah nagari, yaitu berasakut dengan banyaknya orang yang meninggalkan nagarinya waktu dahulu dan bersangkut dengan banyaknya nagari  tempat mereka menetap atau merantau masa itu.<\/p>\n<p>Apabila orang yang basapiah babalahan ini ingin mendirikan  galar Sakonya ditempat nagari yang baru, maka diambil dari nagari asalnya, umpanya Dt. Bandaro  (di Anu) dan balahannya Dt. Bandaro (disitu) artinya gelar sakonyo tetap Dt.Bandaro mungkin saja ditambah sisipan \u201cnan\u201d<\/p>\n<p>Laweh Basibiran maksudnya  sebuah suku yang ada di sebuah nagari telah membelah dua yang disebut juga dengan istilah \u201cManguntiang Siba Baju\u201d atara anak kemanakan masih mempunyai hubungan. Umpanya Datuak Bandaro Hitam maka sibirannya bisa menjadi Datuak Hitam saja.<\/p>\n<p>Tingkatan Kemenakan<br \/>\nKemanakan itu ada tiga macam tingkatannya , yaitu :<br \/>\na. Kemanakan sepanjang adat, yaitu kemenakan  bertali darah, itulah kemenakan yang menerima sako dan pusako dari mamaknya.<br \/>\nb. Kemanakan menurut  adat, yaitu kemanakan dalam kampung dan dia memangil \u201cmamak\u201d kepada kita, dan tidak boleh menerima sako dan pusako dari mamaknya menurut adat.<br \/>\nc. Kemanakan diadatkan, yaitu kemenakan pangil-pangilan saja, dia panggil \u201cmamak\u201d tapi tidak sanagari tidak boleh menerima pusaka dari mamaknya.<\/p>\n<p>Pengertian ataupun penamaan tingkatan kelompok kemenakan  ini tidaklah sama pada semua nagari, terdapat perbedaan penamaan, namun hanya sebatas itu. Pada umumnya pengertian istilah sebagai berikut:<\/p>\n<p>a. Samande: anak-anak yang lahir dari seorang ibu disebut samande. Mande = Ibu, atau disebut juga dengan amak, amai, ayai, biyai, bundo, andeh, mama, ummi, induak, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>b. Sajurai: artinya sama berasal dari satu perut seorang nenek, yang biasa disebut juga dengan uwo, nenek, tuo. Biasanya nenek beserta semua anak cucunya menempati sebuah rumah gadang di lingkungan rumah-rumah biasa lainnya.<\/p>\n<p>c. Saparuik: saparuik artinya sama berasal dari perut seorang gaek yang sama. Gaek = ibunya nenek.<\/p>\n<p>d. Sakaum : Sakaum artinya kelompok yang segaris keturunan  menurut garis ibu, dan setiap orang sekaum pasti sesuku (satu suku).<\/p>\n<p>e. Sasuku: artinya sama berasal dari seorang niniek yang sama. Niniek inilah yang menempati jenjang tertinggi dari susunan sesuku. Dari niniek inilah suku itu bermula atau berasal, kendatipun generasi di atas niniek itu nenek moyang kita juga. Suku dipimpin oleh seorang  pangulu dan satu pusako.<\/p>\n<p>f. Sapayuang: Yang dikatakan sepayuang adalah sama dengan  seperlindungan. Pepatah menyebut, dakek mancari indu, jauah mancari suku. Artinya anak kemenakan yang bertali ameh perak, dan anak kemenakan hubungan induk semang dan anak kemenakan dari nagari lain, ingin mengaku bermamak menurut saluran adat  umpamanya  ingin bermamak kepada Dt. Bandaro suku Guci , jika (kalau) daging lah balapah (berlepah) darah lah bercacah oleh Minik Mamak yang patut-patut dalam suku Dt. Bandaro, baruIah orong-orang itu bersuku guci dabawah perlindungan Dt. Bandaro. Kemudian lagi setelah menjadi orang suku Guci Dt. Bandaro, dilapahnya pula daging, dicacah darah terhadap nagari, dijamu orang yang patut-patut menurut adat dalam nagari, adat di pakai, limbago dituangnya pula, maka barulah pula orang-orang tersebut diterima oleh orang nagari yang boleh dibaok \u201csahilie samudiak\u201d, sedangkan sebelumnya dia masih disebut  orang dalam nagari pula baru. Maka semua orang-orang itu bernama orang dibawah Payung Dt. Bandaro suku Guci. Jadi inilah yang dinamakan &#8221; Sapayuang &#8221;<\/p>\n<p>g. Salabu. Salabu artinya, walaupun orang-orang itu ada datang dari negari yang satu umpamanya, tetapi tidak sekaum dinagari asalnya, yaitu tidak sedarah, sekarang mereka  sama-sama \u201cmalakok\u201d pada suku yang sama dan  berada dibawah Payung.Dt.Bandaro , maka orang-orang itu dinamakan juga &#8221; Salabu &#8220;.  Tapi walaupun mereka itu Salabu, mereka itu &#8221; Baa ruang &#8221; namanya. Ketentuan adat berbunyi &#8221; Sunguh salabu bak kepencong (buah Simauang), tapi baa ruang bak durian &#8220;. Sungguhpun mereke Sapayung, tapi tidak sama keturunannya, dan mereka ini tidaklah sepusako karena tidak sekaum.<\/p>\n<p>h. Serumpun. Serumpun adalah dapatlah juga dikatakan sama dengan Sapayuyung. Dalam Sarumpun itu ada banyak asal kedatangannya, umpamanya ada yang datang dari nagari A, nagari B, nagari C, nagari D dan lain sebagainya, sekarang mereka telah berkumpul  menjadi satu dibawah Payung Dt. Bandaro.<\/p>\n<p>Walaupun dianya telah menjadi satu rumpun yang besar karena telah beranak cucu belaka hingga berkembang biak, tapi mereka disebut tidak saurek (seakar), kerena asal kedatangannya dari nagari yang berlain-lain. Ini disebut : &#8220;Sarumpun lai, saurek indak&#8221;  (serumpun ada,seakar tidak).<\/p>\n<p>I.   Sakampuang: Sakampuang bila kelompok ini bertempat tinggal atau bertetangga dengan kelompok atau suku lain, maka himpunan kelompok ini disebut sekampung. Jadi sekampung bukan merupakan satu garis keturunan, tetapi lebih berorientasi  kepada Lokasi Pemukiman.<\/p>\n<p>j.    Saparinduan: saparinduan atau seperinduan sama artinya dengan semande (satu ibu). Istilah ini orientasinya lebih mencerminkan garis keturunan matrilinial. Di Minangkabau orang bisa saja seperinduan namun tidak sebapak, misalnya karena ibunya menikah dua kali dan melahirkan anak-anak dari suami yang berbeda. Anak-anak tidak sebapak, tetapi tetap seperinduan dalam arti garis keturunannya. Sebaliknya istilah sebapak atau seayah di Minangkabau bukanlah istilah dalam garis keturunan, karena orang Minangkabau tidak menganut sistem kekerabatan Patrilinial ataupun Parental, tetapi Matrilinial.<\/p>\n<p>Ditulis kembali di Pemandian Kasiah Bundo<br \/>\nOleh Saiful Guci, Pulutan 1 Maret 2025<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PADANG PANJANG &#8211; Kemenakan itu adalah anak saudara perempuan dari seorang laki-laki. Biarpun perempuan itu kakak atau adik dari si laki-laki tadi. Tapi ada murid saya bertanya, apa bedanya kemenakan dengan anak kemenakan ?, sebab di Minangkabau pusako tak pernah jatuh kepada anak, tetapi kepada kemenakan, hal ini belum bisa saya jawab, mohon pak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":39,"featured_media":9905,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"enabled":false},"version":2}},"categories":[30],"tags":[257,3117,3116],"class_list":["post-9901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-humaniora","tag-adat-minangkabau","tag-anak-kemenakan","tag-kemenakan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan - www.aktamedia.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan - www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"AKTAMEDIA.COM, PADANG PANJANG &#8211; Kemenakan itu adalah anak saudara perempuan dari seorang laki-laki. Biarpun perempuan itu kakak atau adik dari s\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-14T02:18:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"716\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Steven\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Steven\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/\",\"name\":\"Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan - www.aktamedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg\",\"datePublished\":\"2026-03-14T02:18:26+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg\",\"width\":720,\"height\":716},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\",\"name\":\"www.aktamedia.com\",\"description\":\"News &amp; Journal Reference\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\",\"name\":\"Steven\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"caption\":\"Steven\"},\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan - www.aktamedia.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan - www.aktamedia.com","og_description":"AKTAMEDIA.COM, PADANG PANJANG &#8211; Kemenakan itu adalah anak saudara perempuan dari seorang laki-laki. Biarpun perempuan itu kakak atau adik dari s","og_url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/","og_site_name":"www.aktamedia.com","article_published_time":"2026-03-14T02:18:26+00:00","og_image":[{"width":720,"height":716,"url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Steven","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Steven","Estimasi waktu membaca":"1 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/","url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/","name":"Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan - www.aktamedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg","datePublished":"2026-03-14T02:18:26+00:00","author":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#primaryimage","url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg","contentUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg","width":720,"height":716},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/14\/beda-kemenakan-dan-anak-kemenakan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/aktamedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Beda Kemenakan Dan Anak Kemenakan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website","url":"https:\/\/aktamedia.com\/","name":"www.aktamedia.com","description":"News &amp; Journal Reference","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3","name":"Steven","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","caption":"Steven"},"url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260314_090847.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9901"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9901\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9906,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9901\/revisions\/9906"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}