{"id":9784,"date":"2026-03-09T12:14:58","date_gmt":"2026-03-09T12:14:58","guid":{"rendered":"https:\/\/aktamedia.com\/?p=9784"},"modified":"2026-03-09T12:14:58","modified_gmt":"2026-03-09T12:14:58","slug":"sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/","title":{"rendered":"Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau"},"content":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, BATUSANGKAR &#8211; Dalam struktur adat Minangkabau, kepemimpinan kaum berada di tangan seorang penghulu yang bergelar Datuak. <\/p>\n<p>Ia adalah pemimpin adat yang bertanggung jawab membimbing anak kemenakan, menjaga harta pusaka, serta memutuskan berbagai persoalan kaum melalui musyawarah. <\/p>\n<p>Namun dalam perkembangan masyarakat Minangkabau, terdapat pula sistem kepemimpinan yang dikenal dengan istilah \u201cdatuak kembar\u201d atau \u201cpinang balah duo.\u201d Sistem ini merupakan bentuk pembagian kepemimpinan dalam satu kaum yang memiliki dua orang datuak dengan kedudukan sejajar.<\/p>\n<p>Makna Filosofis \u201cPinang Balah Duo\u201d<\/p>\n<p>Istilah pinang balah duo secara harfiah berarti buah pinang yang dibelah menjadi dua bagian. Dalam kiasan adat Minangkabau, ungkapan ini melambangkan dua bagian yang berasal dari satu sumber yang sama. Walaupun terpisah menjadi dua, keduanya tetap berasal dari satu batang dan memiliki hakikat yang sama.<\/p>\n<p>Pepatah adat Minangkabau menggambarkannya sebagai berikut:<\/p>\n<p>Pinang dibalah duo,<br \/>\nSamo gadang samo tinggi,<br \/>\nSaciok bak ayam, sadanciang bak basi.<\/p>\n<p>Maknanya, kedua datuak tersebut memiliki kedudukan yang sama tinggi, tidak saling mengungguli, dan harus selalu sejalan dalam setiap keputusan. Kesatuan sikap ini penting agar kaum tetap terpelihara keharmonisannya.<\/p>\n<p>Latar Belakang Munculnya Sistem Datuak Kembar<\/p>\n<p>Sistem datuak kembar tidak muncul tanpa sebab. Ia biasanya lahir dari dinamika sosial dalam suatu kaum. Beberapa faktor yang sering melatarbelakangi munculnya sistem ini antara lain:<\/p>\n<p>1. Perkembangan jumlah anggota kaum<br \/>\nDalam adat Minangkabau yang menganut garis keturunan ibu (matrilineal), sebuah kaum bisa berkembang sangat besar. Ketika jumlah anggota semakin banyak dan wilayah tempat tinggal semakin luas, maka kepemimpinan sering dibagi agar urusan kaum dapat ditangani lebih efektif.<\/p>\n<p>2. Pemekaran kaum dari satu induk<br \/>\nAda kalanya sebuah kaum terpecah menjadi dua kelompok yang masih berasal dari satu garis keturunan. Dalam kondisi ini, dua datuak diangkat untuk memimpin masing-masing kelompok, tetapi keduanya tetap diakui sebagai bagian dari satu asal-usul.<\/p>\n<p>3. Kesepakatan ninik mamak<br \/>\nDalam beberapa kasus, para ninik mamak dan anggota kaum bermusyawarah untuk mengangkat dua penghulu agar tanggung jawab kepemimpinan lebih ringan dan keputusan adat dapat diambil dengan lebih bijaksana.<\/p>\n<p>4. Penyelesaian konflik internal<br \/>\nTerkadang sistem datuak kembar juga menjadi solusi adat untuk meredakan konflik dalam kaum. Dengan membagi kepemimpinan, kedua pihak tetap mendapatkan tempat dalam struktur adat tanpa memutuskan hubungan kekerabatan.<\/p>\n<p>Kedudukan dan Peranan Datuak Kembar<\/p>\n<p>Dalam sistem ini, kedua datuak memiliki kedudukan yang sejajar. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Hal ini tercermin dalam pepatah adat:<\/p>\n<p>Duduak samo randah, tagak samo tinggi.<\/p>\n<p>Artinya ketika duduk mereka sama rendah, ketika berdiri mereka sama tinggi. Kedua datuak memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kaum dan anak kemenakan.<\/p>\n<p>Beberapa tugas utama mereka antara lain:<\/p>\n<p>Membimbing dan melindungi anak kemenakan<\/p>\n<p>Menjaga dan mengatur harta pusaka kaum<\/p>\n<p>Menyelesaikan sengketa dalam keluarga atau kaum<\/p>\n<p>Mewakili kaum dalam musyawarah adat nagari<\/p>\n<p>Menjaga kelangsungan adat dan nilai budaya Minangkabau<\/p>\n<p>Dalam mengambil keputusan, kedua datuak harus selalu bermusyawarah. Keputusan yang diambil secara sepihak dapat menimbulkan perpecahan dalam kaum.<\/p>\n<p>Nilai Kepemimpinan dalam Sistem Ini<\/p>\n<p>Sistem datuak kembar mencerminkan filosofi kepemimpinan Minangkabau yang sangat menekankan musyawarah, keseimbangan, dan kebersamaan. Tidak ada kekuasaan absolut dalam adat. Setiap keputusan harus melalui pertimbangan bersama.<\/p>\n<p>Nilai-nilai yang tercermin dalam sistem ini antara lain:<\/p>\n<p>Musyawarah dan mufakat sebagai dasar pengambilan keputusan<\/p>\n<p>Keseimbangan kekuasaan, sehingga tidak ada dominasi satu pihak<\/p>\n<p>Tanggung jawab kolektif dalam memimpin kaum<\/p>\n<p>Menjaga persatuan dan keharmonisan keluarga besar<\/p>\n<p>Dengan adanya dua datuak, setiap persoalan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang sehingga keputusan yang diambil biasanya lebih matang.<\/p>\n<p>Tantangan dalam Sistem Datuak Kembar<\/p>\n<p>Walaupun memiliki banyak kelebihan, sistem ini juga memiliki tantangan tersendiri. Jika kedua datuak tidak mampu menjaga kekompakan, maka dapat timbul berbagai masalah dalam kaum.<\/p>\n<p>Beberapa risiko yang mungkin terjadi antara lain:<\/p>\n<p>perpecahan di kalangan anak kemenakan<\/p>\n<p>munculnya kelompok-kelompok yang saling berlawanan<\/p>\n<p>melemahnya wibawa kepemimpinan adat<\/p>\n<p>sulitnya mencapai kesepakatan dalam musyawarah<\/p>\n<p>Oleh karena itu adat menuntut agar datuak kembar selalu bersikap saciok bak ayam, sadanciang bak basi, yaitu kompak, sejalan, dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan pendapat.<\/p>\n<p>Penutup<\/p>\n<p>Sistem datuak kembar atau pinang balah duo merupakan salah satu bentuk kearifan dalam adat Minangkabau yang menunjukkan fleksibilitas sistem kepemimpinan tradisional. Walaupun secara umum satu kaum dipimpin oleh satu penghulu, dalam kondisi tertentu dua datuak dapat diangkat untuk memimpin bersama.<\/p>\n<p>Keberadaan sistem ini menunjukkan bahwa adat Minangkabau tidak kaku, tetapi mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat. Yang paling penting bukanlah jumlah pemimpinnya, melainkan kemampuan menjaga persatuan kaum, membimbing anak kemenakan, serta menegakkan nilai-nilai adat yang bersendikan syarak dan syarak bersendikan Kitabullah.<\/p>\n<p>Dengan demikian, selama kedua datuak mampu berjalan seiring dan sejalan, sistem pinang balah duo justru dapat memperkuat kehidupan adat dan mempererat hubungan kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, BATUSANGKAR &#8211; Dalam struktur adat Minangkabau, kepemimpinan kaum berada di tangan seorang penghulu yang bergelar Datuak. Ia adalah pemimpin adat yang bertanggung jawab membimbing anak kemenakan, menjaga harta pusaka, serta memutuskan berbagai persoalan kaum melalui musyawarah. Namun dalam perkembangan masyarakat Minangkabau, terdapat pula sistem kepemimpinan yang dikenal dengan istilah \u201cdatuak kembar\u201d atau \u201cpinang balah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":39,"featured_media":9785,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"enabled":false},"version":2}},"categories":[30],"tags":[257,3080,3081],"class_list":["post-9784","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-humaniora","tag-adat-minangkabau","tag-datuak-kembar","tag-pinang-balah-duo"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"AKTAMEDIA.COM, BATUSANGKAR &#8211; Dalam struktur adat Minangkabau, kepemimpinan kaum berada di tangan seorang penghulu yang bergelar Datuak. Ia adala\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-09T12:14:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"554\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"716\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Steven\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Steven\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/\",\"name\":\"Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg\",\"datePublished\":\"2026-03-09T12:14:58+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg\",\"width\":554,\"height\":716},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\",\"name\":\"www.aktamedia.com\",\"description\":\"News &amp; Journal Reference\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\",\"name\":\"Steven\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"caption\":\"Steven\"},\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","og_description":"AKTAMEDIA.COM, BATUSANGKAR &#8211; Dalam struktur adat Minangkabau, kepemimpinan kaum berada di tangan seorang penghulu yang bergelar Datuak. Ia adala","og_url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/","og_site_name":"www.aktamedia.com","article_published_time":"2026-03-09T12:14:58+00:00","og_image":[{"width":554,"height":716,"url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Steven","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Steven","Estimasi waktu membaca":"1 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/","url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/","name":"Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg","datePublished":"2026-03-09T12:14:58+00:00","author":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage","url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg","contentUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg","width":554,"height":716},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/09\/sistem-datuak-kembar-atau-pinang-balah-duo-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/aktamedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sistem Datuak Kembar atau \u201cPinang Balah Duo\u201d dalam Adat Minangkabau"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website","url":"https:\/\/aktamedia.com\/","name":"www.aktamedia.com","description":"News &amp; Journal Reference","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3","name":"Steven","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","caption":"Steven"},"url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260309_191045.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9784"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9784\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9786,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9784\/revisions\/9786"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}