{"id":5154,"date":"2025-06-18T16:03:34","date_gmt":"2025-06-18T16:03:34","guid":{"rendered":"https:\/\/aktamedia.com\/?p=5154"},"modified":"2025-06-18T22:30:40","modified_gmt":"2025-06-18T22:30:40","slug":"konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/","title":{"rendered":"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca"},"content":{"rendered":"<h1><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png\" alt=\"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca\" \/><\/h1>\n<p><strong>AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU<\/strong> &#8212; Kekayaan spiritual dalam perspektif tasawuf Islam dan filosofi Seneca menunjukkan kesamaan mendasar dalam memandang kemiskinan material sebagai jalan menuju kekayaan hakiki, meskipun keduanya berasal dari tradisi epistemologis yang berbeda.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/wisata.viva.co.id\/pendidikan\/19779-seneca-jika-engkau-hidup-selaras-dengan-alam-engkau-tidak-akan-pernah-miskin-tetapi-jika-engkau-hidup?page=3\">https:\/\/wisata.viva.co.id\/pendidikan\/19779-seneca-jika-engkau-hidup-selaras-dengan-alam-engkau-tidak-akan-pernah-miskin-tetapi-jika-engkau-hidup?page=3<\/a><\/p>\n<p>Dalam konteks modernitas yang ditandai oleh materialisme dan konsumerisme, manusia menghadapi paradoks antara pencapaian materi dan kepuasan spiritual. Seneca, filsuf Stoik Romawi, pernah menyatakan bahwa hidup selaras dengan alam akan menghindarkan seseorang dari kemiskinan sejati, sementara hidup menurut ekspektasi orang lain justru menciptakan ketergantungan dan penderitaan (Graver, 2023). Konsep ini memiliki resonansi kuat dengan ajaran tasawuf Islam yang mengembangkan konsep <em>faqr<\/em> (kemiskinan spiritual atau pengosongan diri) sebagai jalan menuju kekayaan hakiki di hadapan Allah.<\/p>\n<p>Dalam tradisi tasawuf, konsep kekayaan (<em>ghina<\/em> atau kecukupan spiritual) tidak dipahami dalam dimensi material, melainkan sebagai kondisi spiritual ketika seorang <em>salik<\/em> (pencari spiritual atau pejalan menuju Allah) mencapai tingkat <em>fan\u0101&#8217;<\/em> (pelenyapan diri atau pelebur ego) dan <em>baq\u0101&#8217;<\/em> (kekal dalam Allah atau keabadian spiritual). Al-Ghazali dalam <em>Ihya &#8216;Ulum al-Din<\/em> menjelaskan bahwa kekayaan sejati terletak pada <em>qan\u0101&#8217;ah<\/em> (merasa cukup atau kepuasan hati) dan pembebasan dari ketergantungan terhadap selain Allah (Kars, 2022). Konsep ini sejalan dengan pemahaman Seneca tentang <em>autarkeia<\/em> (kemandirian spiritual atau swasembada jiwa) yang membebaskan manusia dari belenggu keinginan eksternal dan ekspektasi sosial (Taylor &amp; L\u00f3pez-Farjeat, 2016).<\/p>\n<p>Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada fondasi epistemologisnya. Tasawuf Islam membangun konsep kekayaan spiritual berdasarkan wahyu (<em>al-wahy<\/em> atau penyingkapan Ilahi) yang dialogis dengan akal (<em>al-&#8216;aql<\/em> atau daya pikir), sedangkan Seneca mendasarkan filosofinya pada observasi alam dan rasionalitas manusia (Ayatollahy, 2023). Dalam tasawuf, <em>faqr<\/em> (kemiskinan spiritual atau pengosongan diri) dipahami sebagai kondisi teosentrik di mana seorang sufi mengosongkan diri dari segala selain Allah untuk mencapai <em>ma&#8217;rifah<\/em> (pengenalan spiritual atau gnosis), sementara Seneca memahami kemiskinan spiritual sebagai kondisi antroposentrik yang membebaskan individu dari <em>path\u0113<\/em> (emosi destruktif atau nafsu yang merusak) untuk mencapai <em>ataraxia<\/em> (ketenangan jiwa atau kedamaian batin).<\/p>\n<p>Analisis komparatif menunjukkan bahwa kedua tradisi ini menghadapi tantangan serupa dalam menghadapi modernitas. Tasawuf kontemporer menghadapi kritik dari kalangan modernis Muslim yang menganggap sufisme sebagai penghalang kemajuan material, sementara stoikisme Seneca dikritik karena dianggap elitis dan tidak praktis bagi masyarakat modern (Zarrabi-Zadeh, 2022). Namun, keduanya menawarkan solusi alternatif terhadap krisis spiritual modern melalui reorientasi nilai dari <em>having<\/em> (pemilikan materi atau orientasi kepemilikan) menuju <em>being<\/em> (keberadaan hakiki atau eksistensi autentik), dari akumulasi material menuju transformasi spiritual.<\/p>\n<p>Sintesis kedua tradisi ini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan spiritualitas kontemporer yang mampu menjawab tantangan globalisasi dan materialisme modern. Konsep <em>zuhd<\/em> (asketisme atau penjauhan diri dari duniawi) dalam tasawuf dapat diperkaya dengan pemahaman Seneca tentang <em>premeditatio malorum<\/em> (antisipasi terhadap kesulitan atau persiapan mental menghadapi cobaan), sementara konsep Seneca tentang kemandirian spiritual dapat diperdalam dengan dimensi teosentrik sufisme yang menekankan <em>tawakkul<\/em> (ketergantungan kepada Allah atau penyerahan diri sepenuhnya) sebagai sumber kekuatan sejati (Fatkhuri et al., 2024).<\/p>\n<p>Implementasi praktis dari sintesis ini mencakup pengembangan metode spiritual yang mengintegrasikan latihan <em>mur\u0101qabah<\/em> (meditasi sufi atau pengawasan hati) dengan teknik stoik <em>evening reflection<\/em> (refleksi malam atau introspeksi harian), serta penerapan prinsip <em>fan\u0101&#8217; f\u012b al-duny\u0101<\/em> (mati terhadap dunia atau pelepasan dari keterikatan duniawi) yang diperkaya dengan pemahaman Seneca tentang <em>memento mori<\/em> (ingatlah kematian atau kesadaran akan kefanaan). Pendekatan integratif ini dapat menghasilkan spiritualitas yang tidak hanya membebaskan individu dari ketergantungan material, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan.<\/p>\n<p>Studi komparatif antara tasawuf Islam dan filosofi Seneca mengungkapkan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada akumulasi materi, melainkan pada pembebasan dari belenggu keinginan dan pencapaian keselarasan dengan prinsip-prinsip universal, baik yang dipahami sebagai hukum alam maupun kehendak Ilahi. Kedua tradisi ini menawarkan jalan alternatif menuju kehidupan yang bermakna di tengah krisis spiritual modernitas, dengan menekankan transformasi internal sebagai kunci kekayaan hakiki.<\/p>\n<p><em><strong>Penulis adalah mahasiswa pascasarjana S3 prodi Hukum Keluarga Islam UIN Suska Riau<\/strong><\/em><\/p>\n<h2>Daftar Pustaka<\/h2>\n<p>Ayatollahy, H. (2023). Islamic approach to philosophy of religion compared with the western one. <em>Journal of Philosophical Theological Research<\/em>, 25(3), 63-82.<\/p>\n<p>Fatkhuri, F., Truna, D. S., &amp; Hannah, N. (2024). The path to spirituality: A critique of Meredith B. McGuire&#8217;s view on spirituality and materiality. <em>Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism<\/em>, 10(2), 335-356. https:\/\/doi.org\/10.20871\/kpjipm.v10i2.349<\/p>\n<p>Graver, M. (2023). <em>Seneca: The literary philosopher<\/em>. Cambridge University Press.<\/p>\n<p>Kars, A. (2022). A &#8216;Sufi&#8217; epistle on spiritual poverty, and its authors: Authenticity, authority, and genre in textual reproduction. <em>Journal of Islamic Studies<\/em>, 33(1), 45-73. https:\/\/doi.org\/10.1093\/jis\/etab076<\/p>\n<p>Taylor, R. C., &amp; L\u00f3pez-Farjeat, L. X. (Eds.). (2016). <em>The Routledge companion to Islamic philosophy<\/em>. Routledge. https:\/\/doi.org\/10.4324\/9781315708928<\/p>\n<p>Zarrabi-Zadeh, S. (2022). Sufism in the modern world: Challenges and adaptations. <em>Religions<\/em>, 13(4), 342. https:\/\/doi.org\/10.3390\/rel13040342<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU &#8212; Kekayaan spiritual dalam perspektif tasawuf Islam dan filosofi Seneca menunjukkan kesamaan mendasar dalam memandang kemiskinan material sebagai jalan menuju kekayaan hakiki, meskipun keduanya berasal dari tradisi epistemologis yang berbeda. https:\/\/wisata.viva.co.id\/pendidikan\/19779-seneca-jika-engkau-hidup-selaras-dengan-alam-engkau-tidak-akan-pernah-miskin-tetapi-jika-engkau-hidup?page=3 Dalam konteks modernitas yang ditandai oleh materialisme dan konsumerisme, manusia menghadapi paradoks antara pencapaian materi dan kepuasan spiritual. Seneca, filsuf Stoik Romawi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"enabled":false},"version":2}},"categories":[29],"tags":[1663,1661,1662],"class_list":["post-5154","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-filosofi-seneca","tag-konsep-kaya","tag-tasawuf"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca - www.aktamedia.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca - www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU &#8212; Kekayaan spiritual dalam perspektif tasawuf Islam dan filosofi Seneca menunjukkan kesamaan mendasar dalam memandang k\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-18T16:03:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-06-18T22:30:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"muslih pakiah mudo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"muslih pakiah mudo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/\",\"name\":\"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca - www.aktamedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png\",\"datePublished\":\"2025-06-18T16:03:34+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-18T22:30:40+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/cf6bd4fb0189a0cfe3cc98af46425b08\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\",\"name\":\"www.aktamedia.com\",\"description\":\"News &amp; Journal Reference\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/cf6bd4fb0189a0cfe3cc98af46425b08\",\"name\":\"muslih pakiah mudo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/850430568472774210402942d242de537fb3a50667afaf7e8b1fda7aaeb8852b?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/850430568472774210402942d242de537fb3a50667afaf7e8b1fda7aaeb8852b?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"caption\":\"muslih pakiah mudo\"},\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/ikkapekanbaru123gmail-com\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca - www.aktamedia.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca - www.aktamedia.com","og_description":"AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU &#8212; Kekayaan spiritual dalam perspektif tasawuf Islam dan filosofi Seneca menunjukkan kesamaan mendasar dalam memandang k","og_url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/","og_site_name":"www.aktamedia.com","article_published_time":"2025-06-18T16:03:34+00:00","article_modified_time":"2025-06-18T22:30:40+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png","type":"","width":"","height":""}],"author":"muslih pakiah mudo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"muslih pakiah mudo","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/","url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/","name":"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca - www.aktamedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png","datePublished":"2025-06-18T16:03:34+00:00","dateModified":"2025-06-18T22:30:40+00:00","author":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/cf6bd4fb0189a0cfe3cc98af46425b08"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#primaryimage","url":"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png","contentUrl":"https:\/\/bing.com\/th\/id\/BCO.180009fd-0ead-4e7f-8e86-b2ba5924b729.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2025\/06\/18\/konsep-kaya-dalam-tasawuf-dan-filosofi-seneca\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/aktamedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Konsep Kaya Dalam Tasawuf Dan Filosofi Seneca"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website","url":"https:\/\/aktamedia.com\/","name":"www.aktamedia.com","description":"News &amp; Journal Reference","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/cf6bd4fb0189a0cfe3cc98af46425b08","name":"muslih pakiah mudo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/850430568472774210402942d242de537fb3a50667afaf7e8b1fda7aaeb8852b?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/850430568472774210402942d242de537fb3a50667afaf7e8b1fda7aaeb8852b?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","caption":"muslih pakiah mudo"},"url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/ikkapekanbaru123gmail-com\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5154"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5154\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5161,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5154\/revisions\/5161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}