{"id":10508,"date":"2026-05-05T03:12:16","date_gmt":"2026-05-05T03:12:16","guid":{"rendered":"https:\/\/aktamedia.com\/?p=10508"},"modified":"2026-05-05T03:12:16","modified_gmt":"2026-05-05T03:12:16","slug":"cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/","title":{"rendered":"Cupak Rabah  (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari)"},"content":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, adat bukan sekadar aturan yang tertulis atau kesepakatan sosial semata. Ia adalah sistem nilai yang hidup, tumbuh, dan dijaga bersama dari generasi ke generasi. Adat menjadi penuntun arah, pengukur langkah, serta penyeimbang antara hak dan kewajiban dalam kehidupan bakorong jo banagari. Salah satu konsep penting dalam menjaga keseimbangan itu adalah apa yang dikenal dengan istilah cupak.<\/p>\n<p>Secara lahiriah, cupak hanyalah alat takar tradisional yang terbuat dari ruas bambu. Ia digunakan untuk mengukur beras atau bahan pokok lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam pandangan adat, cupak menjelma menjadi simbol yang jauh lebih dalam\u2014ia adalah ukuran norma, batas perilaku, dan standar keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n<p>Pepatah adat mengatakan:<br \/>\n\u201cCupak papek, gantang piawai, barih indak buliah dilampaui.\u201d<br \/>\nMaknanya jelas: ukuran sudah ditentukan, aturan telah digariskan, dan batas telah ditetapkan. Tidak boleh ada yang melampaui, mengurangi, apalagi mengubahnya sesuka hati. Inilah fondasi keteraturan dalam nagari\u2014bahwa setiap individu, dari rakyat biasa hingga penghulu, tunduk pada garis adat yang sama.<\/p>\n<p>Cupak sebagai Ukuran Moral dan Sosial<\/p>\n<p>Dalam praktik kehidupan, cupak menjadi cerminan keseimbangan antara individu dan kaum, antara kebebasan dan tanggung jawab. Selama seseorang berjalan sesuai dengan ukuran adat, maka ia berada dalam posisi yang lurus\u2014cupaknyo tagak. Artinya, perilakunya selaras dengan nilai yang dijunjung bersama.<\/p>\n<p>Namun hidup tidak selalu lurus. Ada kalanya seseorang tergelincir, lalai, atau bahkan dengan sengaja melanggar aturan. Di sinilah konsep cupak diuji. Ketika terjadi pelanggaran, maka bukan hanya individu yang tercoreng, tetapi juga kaumnya. Dalam adat Minangkabau, tanggung jawab bersifat kolektif\u2014satu orang berbuat, kaum ikut menanggung.<\/p>\n<p>Kondisi ini dikenal dengan istilah:<br \/>\n\u201cCupak kaumnyo taereng\u201d atau bahkan \u201ccupak rabah.\u201d<\/p>\n<p>Cupak Taereng: Pelanggaran yang Masih Dapat Diluruskan<\/p>\n<p>Cupak taereng menggambarkan keadaan di mana pelanggaran yang terjadi masih tergolong ringan. Ia diibaratkan seperti alat takar yang miring\u2014belum jatuh, tetapi sudah tidak lurus. Ketidakseimbangan sudah terlihat, meskipun belum menghancurkan keseluruhan tatanan.<\/p>\n<p>Dalam istilah adat, kondisi ini disebut sebagai:<br \/>\n\u201crabuak bagantiak\u201d<br \/>\ndan keadaan kaum disebut:<br \/>\n\u201ckuma basasah.\u201d<\/p>\n<p>Artinya, kesalahan telah terjadi dan menimbulkan dampak, tetapi masih bisa diperbaiki dengan cara yang proporsional. Kaum yang bersangkutan diwajibkan membayar hutang adat sesuai ketentuan yang berlaku. Pembayaran ini bukan sekadar denda, melainkan simbol pemulihan\u2014mengembalikan keseimbangan yang sempat terganggu.<\/p>\n<p>Dalam filosofi adat, hukuman bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah pemulihan marwah dan penegakan kembali keseimbangan.<\/p>\n<p>Cupak Rabah: Ketika Adat Benar-Benar Dilanggar<\/p>\n<p>Berbeda dengan cupak taereng, kondisi cupak rabah menggambarkan pelanggaran yang berat. Ini bukan sekadar miring, tetapi sudah jatuh\u2014ukuran yang seharusnya menjadi pedoman sudah tidak lagi berfungsi.<\/p>\n<p>Pelanggaran dalam kategori ini biasanya menyentuh hal-hal prinsipil dalam adat, seperti:<\/p>\n<p>kawin sasuku<\/p>\n<p>pelanggaran besar oleh penghulu<\/p>\n<p>perbuatan yang merusak tatanan sosial kaum<\/p>\n<p>Dalam ungkapan adat disebut:<br \/>\n\u201cgajah tadorong jo gadiangnyo.\u201d<br \/>\nArtinya, orang besar yang seharusnya menjadi contoh justru menjadi pelanggar.<\/p>\n<p>Ketika cupak rabah, dampaknya tidak hanya pada individu, tetapi merusak martabat kaum secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemulihannya pun tidak sederhana. Kaum tersebut diwajibkan mambayia hutang adat dalam bentuk yang lebih berat, sesuai dengan ketentuan lembaga adat setempat.<\/p>\n<p>Proses ini bukan hanya soal membayar, tetapi juga:<\/p>\n<p>mengakui kesalahan<\/p>\n<p>memulihkan nama baik<\/p>\n<p>menegakkan kembali kehormatan kaum<\/p>\n<p>Hutang Adat sebagai Mekanisme Keseimbangan<\/p>\n<p>Konsep hutang adat seringkali disalahpahami sebagai hukuman semata. Padahal, dalam filosofi Minangkabau, hutang adat adalah mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan.<\/p>\n<p>Ia berfungsi sebagai:<\/p>\n<p>alat kontrol sosial, agar masyarakat tidak bertindak semena-mena<\/p>\n<p>media pendidikan, agar generasi muda memahami batas adat<\/p>\n<p>jalan pemulihan, agar yang salah dapat kembali ke jalan yang benar<\/p>\n<p>Dengan adanya hutang adat, setiap pelanggaran memiliki konsekuensi yang jelas. Namun pada saat yang sama, adat juga membuka ruang untuk memperbaiki diri. Tidak ada yang langsung dibuang\u2014yang ada adalah proses untuk ditegakkan kembali.<\/p>\n<p>Adat Salingka Nagari: Fleksibilitas dalam Ketegasan<\/p>\n<p>Meskipun prinsip cupak bersifat umum, penerapan hutang adat tidaklah seragam. Setiap nagari memiliki ketentuan sendiri yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan kesepakatan masyarakatnya.<\/p>\n<p>Inilah yang disebut:<br \/>\n\u201cadat salingka nagari.\u201d<\/p>\n<p>Prinsip ini menunjukkan bahwa adat Minangkabau memiliki keseimbangan antara ketegasan dan fleksibilitas. Aturan tetap dijaga, tetapi penerapannya mempertimbangkan konteks lokal.<\/p>\n<p>Dengan demikian, adat tidak menjadi kaku, tetapi tetap hidup dan relevan dalam setiap zaman.<\/p>\n<p>Penutup: Menjaga Cupak Tetap Tegak<\/p>\n<p>Pada akhirnya, konsep cupak mengajarkan bahwa hidup dalam masyarakat membutuhkan ukuran\u2014batas yang jelas antara yang boleh dan yang tidak. Ketika ukuran itu dijaga, maka kehidupan akan berjalan harmonis.<\/p>\n<p>Namun ketika cupak mulai miring, apalagi jatuh, maka keseimbangan akan terganggu. Di sinilah pentingnya kesadaran kolektif untuk saling mengingatkan, memperbaiki, dan menegakkan kembali nilai adat.<\/p>\n<p>Pepatah mengingatkan kita:<br \/>\n\u201cAdat indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh.\u201d<br \/>\nAdat tidak akan hilang oleh waktu, selama ia tetap dijaga dan dihormati.<\/p>\n<p>Maka tugas kita bukan hanya memahami, tetapi juga menjaga agar cupak tetap tegak\u2014agar kehidupan bakorong jo banagari tetap seimbang, beradat, dan bermartabat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, adat bukan sekadar aturan yang tertulis atau kesepakatan sosial semata. Ia adalah sistem nilai yang hidup, tumbuh, dan dijaga bersama dari generasi ke generasi. Adat menjadi penuntun arah, pengukur langkah, serta penyeimbang antara hak dan kewajiban dalam kehidupan bakorong jo banagari. Salah satu konsep penting dalam menjaga keseimbangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":39,"featured_media":10511,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"enabled":false},"version":2}},"categories":[30],"tags":[1918,3259,3260],"class_list":["post-10508","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-humaniora","tag-budaya-minangkabau","tag-cubak-rabah","tag-hutang-adat"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cupak Rabah (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari) - www.aktamedia.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cupak Rabah (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari) - www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, adat bukan sekadar aturan yang tertulis atau kesepakatan sosial semata. Ia adala\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-05T03:12:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"481\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Steven\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Steven\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/\",\"name\":\"Cupak Rabah (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari) - www.aktamedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg\",\"datePublished\":\"2026-05-05T03:12:16+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg\",\"width\":720,\"height\":481},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cupak Rabah (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\",\"name\":\"www.aktamedia.com\",\"description\":\"News &amp; Journal Reference\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\",\"name\":\"Steven\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"caption\":\"Steven\"},\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cupak Rabah (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari) - www.aktamedia.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cupak Rabah (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari) - www.aktamedia.com","og_description":"AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, adat bukan sekadar aturan yang tertulis atau kesepakatan sosial semata. Ia adala","og_url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/","og_site_name":"www.aktamedia.com","article_published_time":"2026-05-05T03:12:16+00:00","og_image":[{"width":720,"height":481,"url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Steven","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Steven","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/","url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/","name":"Cupak Rabah (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari) - www.aktamedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg","datePublished":"2026-05-05T03:12:16+00:00","author":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#primaryimage","url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg","contentUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg","width":720,"height":481},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/cupak-rabah-hutang-adat-dalam-keseimbangan-nagari\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/aktamedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cupak Rabah (Hutang Adat dalam Keseimbangan Nagari)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website","url":"https:\/\/aktamedia.com\/","name":"www.aktamedia.com","description":"News &amp; Journal Reference","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3","name":"Steven","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","caption":"Steven"},"url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_20260505_100831.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10508","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10508"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10508\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10509,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10508\/revisions\/10509"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10511"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10508"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10508"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10508"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}