{"id":10409,"date":"2026-04-20T13:41:32","date_gmt":"2026-04-20T13:41:32","guid":{"rendered":"https:\/\/aktamedia.com\/?p=10409"},"modified":"2026-04-20T13:41:32","modified_gmt":"2026-04-20T13:41:32","slug":"njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/","title":{"rendered":"\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d  Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau"},"content":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam khazanah petatah-petitih adat Minangkabau, ungkapan \u201cNjan diaru juo tabek urang\u201d bukan sekadar rangkaian kata kiasan, melainkan pedoman sosial yang mengatur batas perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Kiasan ini hidup dan dipakai dalam berbagai situasi, terutama ketika terjadi persoalan dalam suatu kaum atau suku yang berpotensi melibatkan pihak luar.<\/p>\n<p>Makna Harfiah dan Filosofis<\/p>\n<p>Secara bahasa:<\/p>\n<p>Njan diaru berarti jangan diaduk<\/p>\n<p>Tabek urang berarti kolam atau empang milik orang lain<\/p>\n<p>Jika dimaknai secara langsung:<\/p>\n<p>&gt; \u201cJangan mengaduk-aduk kolam milik orang lain.\u201d<\/p>\n<p>Namun dalam makna kiasan adat:<\/p>\n<p>&gt; Jangan mencampuri urusan kaum atau suku lain, apalagi tanpa hak dan kewenangan.<\/p>\n<p>Kata \u201ctabek\u201d (kolam) melambangkan wilayah, ruang, atau sistem internal suatu kaum. Mengaduk kolam orang lain berarti masuk ke ranah yang bukan miliknya, yang bisa mengeruhkan keadaan yang sebelumnya mungkin masih jernih.<\/p>\n<p>Struktur Sosial Minangkabau dan Batas Kewenangan<\/p>\n<p>Adat Minangkabau memiliki sistem kekerabatan yang jelas dan terstruktur:<\/p>\n<p>Kaum dipimpin oleh niniak mamak<\/p>\n<p>Suku memiliki perangkat adatnya masing-masing<\/p>\n<p>Persoalan diselesaikan secara berjenjang melalui musyawarah<\/p>\n<p>Prinsip penting dalam adat adalah:<\/p>\n<p>&gt; \u201cBajanjang naiak, batanggo turun\u201d<br \/>\nArtinya, setiap persoalan diselesaikan melalui tahapan yang telah ditentukan, tidak boleh dilangkahi.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, ungkapan \u201cNjan diaru juo tabek urang\u201d menjadi pengingat bahwa:<\/p>\n<p>Setiap kaum memiliki kedaulatan dalam mengurus masalahnya<\/p>\n<p>Pihak luar tidak boleh masuk tanpa permintaan atau kesepakatan<\/p>\n<p>Intervensi tanpa batas dapat merusak tatanan adat<\/p>\n<p>Bahaya Intervensi Tanpa Wewenang<\/p>\n<p>Dalam praktik kehidupan sosial, seringkali muncul situasi di mana pihak luar merasa perlu ikut campur. Niatnya mungkin baik, tetapi dalam perspektif adat, hal ini bisa menimbulkan dampak negatif:<\/p>\n<p>1. Memperkeruh Masalah<\/p>\n<p>Masalah yang awalnya kecil bisa menjadi besar karena banyaknya pihak yang terlibat tanpa koordinasi.<\/p>\n<p>2. Merusak Otoritas Niniak Mamak<\/p>\n<p>Kehadiran pihak luar yang mengambil peran dapat dianggap melemahkan posisi pemimpin adat dalam kaum tersebut.<\/p>\n<p>3. Menimbulkan Konflik Antar Suku<\/p>\n<p>Intervensi bisa dianggap sebagai bentuk tidak menghormati batas adat, sehingga memicu gesekan baru.<\/p>\n<p>4. Mengaburkan Tanggung Jawab<\/p>\n<p>Jika terlalu banyak pihak ikut campur, maka menjadi tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas penyelesaian masalah.<\/p>\n<p>Kapan Intervensi Diperbolehkan?<\/p>\n<p>Adat Minangkabau tidak menutup diri sepenuhnya terhadap bantuan pihak luar. Namun ada syarat yang harus dipenuhi:<\/p>\n<p>Ada permintaan resmi dari kaum yang bersangkutan<\/p>\n<p>Melalui kesepakatan dalam musyawarah adat<\/p>\n<p>Tetap menghormati struktur dan hierarki adat yang ada<\/p>\n<p>Artinya, intervensi bukan dilarang sepenuhnya, tetapi harus dilakukan dengan adat dan etika.<\/p>\n<p>Nilai-Nilai yang Terkandung<\/p>\n<p>Ungkapan ini mengajarkan beberapa nilai penting:<\/p>\n<p>1. Tahu Diri<\/p>\n<p>Setiap individu harus memahami posisi dan batasannya dalam masyarakat.<\/p>\n<p>2. Menghormati Kedaulatan Kaum<\/p>\n<p>Setiap kaum memiliki hak penuh atas urusannya sendiri.<\/p>\n<p>3. Menjaga Keharmonisan<\/p>\n<p>Dengan tidak mencampuri urusan orang lain, potensi konflik bisa diminimalkan.<\/p>\n<p>4. Menjunjung Tinggi Musyawarah<\/p>\n<p>Segala sesuatu harus diselesaikan melalui jalur yang telah ditetapkan dalam adat.<\/p>\n<p>Relevansi di Masa Kini<\/p>\n<p>Di era modern, ungkapan ini tetap relevan, bahkan semakin penting. Dalam berbagai persoalan sosial, organisasi, hingga politik lokal:<\/p>\n<p>Banyak konflik terjadi karena intervensi yang tidak pada tempatnya<\/p>\n<p>Batas kewenangan sering dilanggar demi kepentingan tertentu<\/p>\n<p>Nilai \u201ctahu diri\u201d mulai tergerus oleh ambisi dan kepentingan pribadi<\/p>\n<p>Oleh karena itu, kearifan lokal seperti \u201cNjan diaru juo tabek urang\u201d perlu terus dihidupkan sebagai pedoman etika sosial.<\/p>\n<p>Ungkapan \u201cNjan diaru juo tabek urang\u201d bukan hanya larangan sederhana, tetapi merupakan prinsip besar dalam menjaga keseimbangan sosial dalam adat Minangkabau. Ia mengajarkan bahwa:<\/p>\n<p>&gt; Setiap persoalan ada tempatnya, setiap keputusan ada pemiliknya, dan setiap orang ada batasnya.<\/p>\n<p>Dengan memahami dan mengamalkan nilai ini, masyarakat dapat menjaga keharmonisan, memperkuat struktur adat, serta menghindari konflik yang tidak perlu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam khazanah petatah-petitih adat Minangkabau, ungkapan \u201cNjan diaru juo tabek urang\u201d bukan sekadar rangkaian kata kiasan, melainkan pedoman sosial yang mengatur batas perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Kiasan ini hidup dan dipakai dalam berbagai situasi, terutama ketika terjadi persoalan dalam suatu kaum atau suku yang berpotensi melibatkan pihak luar. Makna Harfiah dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":39,"featured_media":10411,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"enabled":false},"version":2}},"categories":[29],"tags":[3239,257,2046],"class_list":["post-10409","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-njan-diaru-juo-tabek-urang","tag-adat-minangkabau","tag-etika-psikolog"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam khazanah petatah-petitih adat Minangkabau, ungkapan \u201cNjan diaru juo tabek urang\u201d bukan sekadar rangkaian kata\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-20T13:41:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1043\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Steven\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Steven\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/\",\"name\":\"\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg\",\"datePublished\":\"2026-04-20T13:41:32+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg\",\"width\":720,\"height\":1043},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\",\"name\":\"www.aktamedia.com\",\"description\":\"News &amp; Journal Reference\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\",\"name\":\"Steven\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"caption\":\"Steven\"},\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","og_description":"AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam khazanah petatah-petitih adat Minangkabau, ungkapan \u201cNjan diaru juo tabek urang\u201d bukan sekadar rangkaian kata","og_url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/","og_site_name":"www.aktamedia.com","article_published_time":"2026-04-20T13:41:32+00:00","og_image":[{"width":720,"height":1043,"url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Steven","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Steven","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/","url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/","name":"\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg","datePublished":"2026-04-20T13:41:32+00:00","author":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage","url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg","contentUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg","width":720,"height":1043},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/04\/20\/njan-diaru-juo-tabek-urang-batas-kewenangan-dan-etika-intervensi-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/aktamedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"\u201cNjan Diaru Juo Tabek Urang\u201d Batas Kewenangan dan Etika Intervensi dalam Adat Minangkabau"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website","url":"https:\/\/aktamedia.com\/","name":"www.aktamedia.com","description":"News &amp; Journal Reference","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3","name":"Steven","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","caption":"Steven"},"url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG_20260420_203548.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10409","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10409"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10409\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10410,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10409\/revisions\/10410"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10411"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10409"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10409"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10409"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}