{"id":10103,"date":"2026-03-23T05:56:21","date_gmt":"2026-03-23T05:56:21","guid":{"rendered":"https:\/\/aktamedia.com\/?p=10103"},"modified":"2026-03-23T05:56:21","modified_gmt":"2026-03-23T05:56:21","slug":"batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/","title":{"rendered":"Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau"},"content":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam khazanah budaya Minangkabau, pepatah bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan pedoman hidup yang diwariskan turun-temurun. Salah satu ungkapan yang sarat makna adalah \u201cBatahun duduak jo guru, ba musim tagak jo mamak.\u201d Kalimat ini menggambarkan bagaimana proses pembentukan manusia ideal menurut pandangan adat Minangkabau: tidak cukup hanya berilmu, tetapi juga harus beradat.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125137-300x232.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"232\" class=\"alignnone size-medium wp-image-10104\" srcset=\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125137-300x232.jpg 300w, https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125137.jpg 713w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Makna Lahiriah dan Batiniah<\/p>\n<p>Secara harfiah, ungkapan ini berarti seseorang menghabiskan waktu bertahun-tahun duduk bersama guru untuk menuntut ilmu, serta bermusim-musim berdiri bersama mamak (paman dari garis ibu) untuk mendapatkan bimbingan adat. Namun, di balik makna sederhana ini, tersimpan filosofi yang dalam: pendidikan sejati adalah perpaduan antara ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter sosial budaya.<\/p>\n<p>Guru melambangkan dunia pendidikan formal maupun nonformal\u2014tempat seseorang belajar membaca, menulis, berpikir logis, dan memahami ilmu pengetahuan. Sementara itu, mamak adalah simbol dari struktur adat Minangkabau yang berperan dalam mendidik kemenakan tentang nilai, etika, tanggung jawab, dan jati diri sebagai bagian dari kaum.<\/p>\n<p>Peran Guru: Mencerdaskan Pikiran<\/p>\n<p>Dalam tradisi Minangkabau, guru memiliki posisi yang sangat dihormati. Ia bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing yang membuka cakrawala berpikir. \u201cDuduak jo guru\u201d menggambarkan proses panjang dan sabar dalam menuntut ilmu. Tidak ada jalan pintas menuju kepandaian; semua membutuhkan waktu, ketekunan, dan kerendahan hati.<\/p>\n<p>Ilmu yang diperoleh dari guru membekali seseorang dengan kemampuan untuk memahami dunia, menghadapi perubahan zaman, serta berkontribusi dalam kehidupan modern. Tanpa ilmu, seseorang akan kesulitan menempatkan diri dalam dinamika sosial yang terus berkembang.<\/p>\n<p>Peran Mamak: Membentuk Karakter dan Adat<\/p>\n<p>Berbeda dengan guru, mamak dalam adat Minangkabau memiliki tanggung jawab moral dan sosial terhadap kemenakannya. Ia adalah penjaga nilai-nilai adat, pengarah kehidupan, sekaligus tempat bertanya dalam urusan sosial dan keluarga.<\/p>\n<p>Ungkapan \u201ctagak jo mamak\u201d mengandung arti kesiapan untuk terjun dalam kehidupan nyata. \u201cTagak\u201d (berdiri) melambangkan tindakan, tanggung jawab, dan keberanian mengambil peran. Di sinilah seseorang diuji, bukan hanya oleh pengetahuan yang dimilikinya, tetapi oleh kebijaksanaan dalam bersikap.<\/p>\n<p>Mamak mengajarkan bagaimana menjaga marwah kaum, menghormati adat, menyelesaikan konflik, dan hidup bermasyarakat. Ia membentuk kepribadian yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika.<\/p>\n<p>Keseimbangan Ilmu dan Adat<\/p>\n<p>Falsafah ini menegaskan bahwa manusia ideal menurut pandangan Minangkabau adalah mereka yang mampu menyeimbangkan antara ilmu dan adat. Ilmu tanpa adat bisa melahirkan kesombongan dan kehilangan arah, sementara adat tanpa ilmu bisa menyebabkan ketertinggalan dan ketidakmampuan menghadapi perubahan.<\/p>\n<p>Keseimbangan ini juga tercermin dalam prinsip hidup Minangkabau: \u201cadat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.\u201d Artinya, adat bersandar pada ajaran agama, dan agama menjadi landasan utama dalam kehidupan. Guru dan mamak, dalam konteks ini, menjadi dua pilar yang saling melengkapi dalam membentuk manusia seutuhnya.<\/p>\n<p>Relevansi di Era Modern<\/p>\n<p>Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, nilai-nilai dalam ungkapan ini tetap relevan. Pendidikan formal semakin maju, tetapi sering kali diiringi dengan krisis karakter. Di sinilah pentingnya peran keluarga dan lingkungan adat sebagai penyeimbang.<\/p>\n<p>Peran \u201cmamak\u201d hari ini mungkin tidak selalu dalam bentuk tradisional, tetapi bisa hadir dalam sosok orang tua, tokoh masyarakat, atau siapa pun yang menjadi panutan dalam nilai dan moral. Sementara itu, \u201cguru\u201d tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan juga hadir dalam berbagai bentuk pembelajaran modern.<\/p>\n<p>\u201cBatahun duduak jo guru, ba musim tagak jo mamak\u201d adalah refleksi kearifan lokal Minangkabau yang mengajarkan bahwa perjalanan hidup tidak hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi bijak. Ilmu membentuk cara berpikir, sementara adat membentuk cara bersikap.<\/p>\n<p>Dalam dunia yang terus berubah, falsafah ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari seberapa tinggi ilmu yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa baik seseorang menjaga nilai, etika, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam khazanah budaya Minangkabau, pepatah bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan pedoman hidup yang diwariskan turun-temurun. Salah satu ungkapan yang sarat makna adalah \u201cBatahun duduak jo guru, ba musim tagak jo mamak.\u201d Kalimat ini menggambarkan bagaimana proses pembentukan manusia ideal menurut pandangan adat Minangkabau: tidak cukup hanya berilmu, tetapi juga harus beradat. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":39,"featured_media":10105,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"enabled":false},"version":2}},"categories":[10],"tags":[3177,3176],"class_list":["post-10103","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-khazanah","tag-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau","tag-batahun-duduak-jo-guru"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam khazanah budaya Minangkabau, pepatah bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan pedoman hidup yang diwariskan t\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"www.aktamedia.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-23T05:56:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"708\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"996\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Steven\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Steven\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"1 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/\",\"name\":\"Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg\",\"datePublished\":\"2026-03-23T05:56:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg\",\"width\":708,\"height\":996},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/\",\"name\":\"www.aktamedia.com\",\"description\":\"News &amp; Journal Reference\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3\",\"name\":\"Steven\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png\",\"caption\":\"Steven\"},\"url\":\"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","og_description":"AKTAMEDIA.COM, PADANG &#8211; Dalam khazanah budaya Minangkabau, pepatah bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan pedoman hidup yang diwariskan t","og_url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/","og_site_name":"www.aktamedia.com","article_published_time":"2026-03-23T05:56:21+00:00","og_image":[{"width":708,"height":996,"url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Steven","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Steven","Estimasi waktu membaca":"1 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/","url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/","name":"Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau - www.aktamedia.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg","datePublished":"2026-03-23T05:56:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#primaryimage","url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg","contentUrl":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg","width":708,"height":996},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/2026\/03\/23\/batahun-duduak-jo-guru-ba-musim-tagak-jo-mamak-falsafah-pendidikan-utuh-dalam-adat-minangkabau\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/aktamedia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Batahun Duduak jo Guru, Ba Musim Tagak jo Mamak: Falsafah Pendidikan Utuh dalam Adat Minangkabau"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#website","url":"https:\/\/aktamedia.com\/","name":"www.aktamedia.com","description":"News &amp; Journal Reference","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/aktamedia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/67dfddad3a60b5d2e174ec8e3bd8d7f3","name":"Steven","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/aktamedia.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/71dacdf1066bf87765fca44f1bf24b46dd012a3c011f521c66c45997177d4eb2?s=96&r=g&d=https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/plugins\/userswp\/assets\/images\/no_profile.png","caption":"Steven"},"url":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/profile\/fadli-asman\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/aktamedia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/IMG_20260323_125154.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10103","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10103"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10103\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10106,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10103\/revisions\/10106"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10105"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10103"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10103"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aktamedia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10103"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}