AKTAMEDIA.COM, TEHERAN – Eskalasi konflik Israel dan Iran memasuki babak paling serius dalam satu dekade terakhir. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dipastikan telah dipindahkan dari Teheran ke lokasi aman di luar ibu kota, menyusul serangan militer besar-besaran Israel pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026 waktu setempat.
Seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi kepada Reuters bahwa Khamenei tidak berada di Teheran sejak gelombang serangan dimulai. Sejumlah laporan internasional menyebutkan, ia dievakuasi ke bungker bawah tanah yang dibentengi ketat. Dalam situasi darurat ini, putra ketiganya, Masoud Khamenei, dilaporkan mengambil alih pengelolaan tugas-tugas harian non-strategis di lingkaran kepemimpinan.

Ledakan keras terdengar di berbagai titik pusat Teheran sejak dini hari, termasuk di sekitar fasilitas strategis negara. Media Iran melaporkan serangan menargetkan Direktorat Intelijen Garda Revolusi Iran (IRGC), Kementerian Pertahanan, serta infrastruktur militer dan intelijen lain. Selain Teheran, serangan juga dilaporkan menghantam Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, wilayah yang selama ini dikaitkan dengan aktivitas pertahanan dan program strategis Iran.
Menanggapi situasi tersebut, otoritas Iran segera menutup wilayah udara nasional selama enam jam sebagai langkah pengamanan. Saluran televisi pemerintah, Islamic Republic of Iran News Network (IRINN), mengonfirmasi serangan melalui teks berjalan di layar. Siaran IRINN sempat mengalami gangguan audio sekitar pukul 06.30 GMT sebelum kembali mengudara dengan menayangkan rekaman demonstrasi pro-pemerintah dan arsip pidato Khamenei yang menyerukan persatuan nasional menghadapi apa yang disebut sebagai agresi asing.
Di pihak lain, militer Israel secara terbuka mengakui telah melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran. Operasi ini awalnya diberi sandi “Shield of Judah”, meski dalam beberapa jam kemudian sejumlah pejabat Israel menyebut nama operasi diperbarui menjadi “Lion’s Roar”. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan serangan tersebut bertujuan menetralisir ancaman langsung terhadap keamanan nasional Israel.
Pemerintah Israel menetapkan status darurat nasional Home Front Emergency dan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan sipil. Militer Israel juga mengirim peringatan nasional kepada seluruh warga agar tetap berada dekat ruang perlindungan, mengantisipasi serangan balasan berupa rudal atau drone dari Iran.
Sejumlah media Amerika Serikat dan Israel melaporkan bahwa operasi ini dilakukan dalam koordinasi aktif dengan militer AS. Serangan terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan dirinya “tidak senang” dengan arah perundingan nuklir Iran dan menuduh Teheran tidak bernegosiasi dengan itikad baik. Dalam beberapa pekan terakhir, AS juga diketahui meningkatkan kehadiran militernya di kawasan, termasuk pengerahan dua kelompok tempur kapal induk.
Hingga laporan ini diturunkan, belum ada data resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan infrastruktur. Namun, para analis internasional menilai konflik ini telah melampaui fase ketegangan diplomatik dan berpotensi memicu dampak luas, mulai dari stabilitas kawasan Timur Tengah hingga pasar energi global.

















Leave a Reply