AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Kemarahan Presiden B. J. Habibie terhadap Bank Indonesia terjadi dalam konteks krisis moneter 1997–1998 yang mengguncang ekonomi Indonesia secara besar-besaran.
📌 Latar Belakang
Saat Habibie menjabat sebagai presiden (1998–1999) menggantikan Soeharto, Indonesia sedang berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk:
Nilai rupiah anjlok tajam.
Banyak bank kolaps.
Kepercayaan publik terhadap sistem perbankan menurun drastis.
🔥 Penyebab Ketegangan dengan Bank Indonesia
1. Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)
Bank Indonesia mengucurkan dana besar kepada bank-bank bermasalah melalui program BLBI. Namun dalam praktiknya, banyak dana yang disalahgunakan oleh pemilik bank.
Habibie menilai pengawasan dan kebijakan BI saat itu lemah sehingga menimbulkan kerugian negara yang sangat besar.
2. Masalah Independensi dan Kebijakan Moneter
Saat awal masa jabatan Habibie, BI belum sepenuhnya independen (UU BI yang memberi independensi penuh baru lahir tahun 1999).
Terjadi perbedaan pandangan soal:
Penanganan perbankan bermasalah
Pengendalian inflasi
Stabilitas nilai tukar rupiah
3. Krisis Kepercayaan Publik
Habibie menghadapi tekanan politik dan sosial yang luar biasa. Ia membutuhkan stabilitas cepat, sementara kebijakan moneter BI dinilai belum cukup tegas memulihkan kepercayaan pasar.
🎯 Sikap Habibie
Habibie dikenal sebagai sosok tegas dan rasional. Ia mendorong:
Reformasi sistem perbankan
Restrukturisasi bank-bank bermasalah
Pembentukan kebijakan baru yang lebih transparan
Pada masa pemerintahannya pula lahir Undang-Undang Bank Indonesia Tahun 1999 yang mempertegas independensi BI agar tidak mudah diintervensi politik, sebagai bagian dari reformasi besar pasca-krisis.
📝 Kesimpulan
Kemarahan Habibie terhadap Bank Indonesia bukan sekadar emosional, tetapi lahir dari:
Besarnya dampak krisis ekonomi
Dugaan lemahnya pengawasan dana BLBI
Tuntutan publik akan perbaikan sistem
Justru dari ketegangan itu lahir reformasi penting dalam tata kelola moneter Indonesia.
















Leave a Reply