AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Menjelang bulan suci Ramadan, suasana kantor biasanya mulai terasa berbeda. Selain meningkatnya semangat ibadah dan persiapan menyambut puasa, ada satu tren menarik yang kian populer di kalangan pekerja kantoran: makan bersama beralas daun pisang.
Tradisi sederhana ini bukan sekadar soal makan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, kekompakan, dan rasa syukur sebelum memasuki bulan penuh berkah.
🌿 Kembali ke Tradisi, Tinggalkan Sekat Formalitas
Di tengah budaya kerja modern yang serba cepat dan individual, makan bersama beralas daun pisang menghadirkan suasana yang lebih hangat dan egaliter. Tidak ada sekat jabatan—atasan dan bawahan duduk sejajar, menikmati hidangan yang sama dalam satu hamparan daun pisang panjang.
Konsep ini mirip dengan tradisi “makan bajamba” dalam budaya Minangkabau, di mana makanan disajikan bersama dalam satu wadah besar sebagai simbol persatuan dan musyawarah.
🍚 Kenapa Daun Pisang?
Penggunaan daun pisang bukan tanpa alasan:
1. Aroma alami yang menambah selera makan.
2. Ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik dan styrofoam.
3. Nuansa tradisional yang memberi kesan hangat dan sederhana.
4. Hemat biaya, cocok untuk acara kebersamaan kantor.
Biasanya menu yang disajikan berupa nasi putih hangat, ayam goreng, ikan bakar, sambal, lalapan, rendang, hingga aneka gorengan.
🤝 Momen Mempererat Silaturahmi
Menjelang Ramadan, kegiatan ini sering dijadikan ajang:
Syukuran sebelum puasa
Perpisahan rekan kerja
Doa bersama
Rapat santai dengan konsep kekeluargaan
Suasana santai membuat komunikasi lebih cair. Konflik kecil yang mungkin ada di kantor pun bisa mencair lewat canda dan kebersamaan.
🌙 Makna Spiritual Menjelang Ramadan
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama. Tradisi makan bersama ini menjadi cara sederhana untuk:
Saling memaafkan
Menguatkan kerja tim
Menumbuhkan empati
Memulai Ramadan dengan hati yang bersih
✨ Lebih dari Sekadar Tren
Walau terlihat sederhana, makan bersama beralas daun pisang mencerminkan kerinduan akan nilai gotong royong dan kebersamaan yang mulai jarang ditemui di lingkungan kerja modern.
Tren ini membuktikan bahwa di balik gedung-gedung perkantoran dan rutinitas profesional, nilai tradisi dan budaya tetap punya tempat istimewa—terutama menjelang Ramadan.













Leave a Reply