Advertisement

Aisyah Aminy : Singa Betina Minang yang Mengukir Sejarah Politik Perempuan di Senayan

KATAMU.COM, JAKARTA – Hj. Aisyah Aminy, S.H., adalah salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah politik Indonesia modern. Lahir pada 1 Desember 1931 di Padang Panjang, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pedagang terkemuka yang menanamkan nilai kemandirian, ketegasan, dan keberanian sejak dini. Karakter inilah yang kelak membentuknya menjadi figur politik tangguh yang disegani kawan maupun lawan di panggung parlemen nasional.

Pendidikan hukumnya ditempuh di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, tempat ia meraih gelar Sarjana Hukum. Semasa mahasiswa, Aisyah aktif dalam organisasi seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang memperkaya wawasan intelektual dan memperkuat fondasi ideologisnya. Sebelum terjun penuh ke dunia politik, ia dikenal sebagai advokat independen yang vokal dalam memperjuangkan keadilan dan hak-hak masyarakat.

Karier politik Aisyah Aminy dimulai pada era Orde Baru. Ia tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (1967–1969), lalu menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (1977–1987), dan selanjutnya duduk sebagai anggota DPR RI dari 1987 hingga 2004 melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Rentang pengabdiannya yang panjang—lebih dari dua dekade di parlemen—menjadikannya salah satu legislator perempuan dengan masa bakti terlama dalam sejarah Indonesia.

Di gedung parlemen, Aisyah dikenal sebagai orator ulung yang tegas dan berani. Julukan “Singa Betina dari Senayan” melekat padanya karena keberaniannya menyuarakan kritik dan pandangan politik secara lugas, terutama dalam isu-isu keadilan sosial, hak perempuan, dan kepentingan rakyat kecil. Dalam berbagai perdebatan penting, ia kerap tampil sebagai figur sentral yang mempertahankan argumentasi dengan dasar hukum dan moral yang kuat.

Selain kiprahnya di legislatif, Aisyah Aminy juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Ia pernah terlibat dalam Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) serta di Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Perannya di berbagai lembaga tersebut menunjukkan komitmennya tidak hanya pada politik praktis, tetapi juga pada pembelaan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan berbasis moral dan agama.

Warisan Aisyah Aminy bukan sekadar deretan jabatan dan masa bakti panjang, melainkan teladan tentang keteguhan perempuan Minangkabau dalam kancah politik nasional.

Dari Padang Panjang hingga Senayan, ia membuktikan bahwa perempuan mampu berdiri sejajar, bersuara lantang, dan berkontribusi besar dalam menentukan arah perjalanan bangsa. Namanya tetap dikenang sebagai simbol keberanian, integritas, dan dedikasi dalam sejarah parlemen Indonesia.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *