Advertisement

Tradisi Balimau Di Pariaman

AKTAMEDIA.COm, PARIAMAN – Harum Rendang & Ritual Balimau: Mengintip Tradisi Unik Warga ‘Piaman Laweh’ yang Tak Lekang Oleh Waktu Sambut Ramadan

Aroma rempah yang menyeruak dari tungku-tungku kayu dan riuh rendah suara warga di tepian sungai menjadi pertanda jelas: Ramadan sudah di depan mata. Di wilayah ‘Piaman Laweh’—sebutan untuk Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman—adat dan agama berjalan beriringan dalam menyambut bulan suci melalui serangkaian tradisi yang telah terjaga selama berabad-abad.

Bagi masyarakat setempat, persiapan Ramadan bukan sekadar urusan fisik, melainkan tentang menyucikan jiwa dan mempererat tali persaudaraan. Inilah empat tradisi ikonik yang menghidupkan suasana Piaman jelang bulan puasa.

1. Tradisi Marandang: ‘Kewajiban’ Harum di Dapur Warga
Jika Anda melintasi pemukiman warga sehari sebelum puasa, hidung Anda akan dimanjakan dengan aroma santan kental yang diaduk bersama rempah-rempah pilihan. Itulah tradisi Marandang. Bagi warga Piaman, memasak Rendang adalah simbol kesiapan lahir batin dalam menyambut bulan mulia.

Rendang yang dimasak secara tradisional dengan kayu bakar ini bukan hanya untuk konsumsi pribadi, melainkan bekal utama untuk sahur pertama dan hidangan istimewa bagi tamu yang datang bersilaturahmi. Aroma Rendang di tiap sudut rumah seolah menjadi pengingat bahwa masa penuh keberkahan telah tiba.

2. Ziarah Kubur dan Doa di Malam Nisfu Sya’ban
Religiusitas masyarakat Piaman juga terpancar dari ramainya tempat pemakaman jelang Ramadan. Warga datang berbondong-bondong untuk berziarah, membersihkan makam leluhur, dan mendoakan kerabat yang telah tiada.

Suasana semakin khidmat saat malam Nisfu Sya’ban tiba. Surau dan masjid di seluruh pelosok nagari dipenuhi jamaah yang melantunkan zikir dan doa. Momen ini menjadi titik balik bagi warga untuk merefleksikan diri dan memohon ampunan sebelum memasuki gerbang Ramadan.

3. Balimau: Simbol Penyucian Diri di Aliran Sungai
Puncak kemeriahan terjadi tepat sehari sebelum puasa, di mana ribuan warga tumpah ruah ke sungai atau pemandian alam dalam tradisi Balimau. Menggunakan perasan jeruk nipis (limau) dan wewangian alami seperti kembang tujuh rupa, ritual mandi ini memiliki makna simbolis yang mendalam.

“Ini adalah cara kami secara turun-temurun untuk membersihkan diri secara lahiriah, agar saat memulai puasa esok hari, hati dan badan sudah dalam keadaan suci,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat.

4. Makan Bajamba: Meluruhkan Gengsi, Memupuk Kebersamaan
Sebagai penutup rangkaian persiapan, tradisi Makan Bajamba sering kali digelar di masjid atau balai adat. Duduk bersila membentuk lingkaran mengitari satu talam besar, tidak ada sekat antara pejabat, tokoh adat, maupun warga biasa.

Semua menyantap hidangan yang sama dengan cara yang sama. Tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan di Piaman Laweh, memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang merasa sendirian saat memasuki bulan suci Ramadan.

Fakta Khas Piaman Jelang Ramadan:
Identitas: Wilayah Padang Pariaman & Kota Pariaman dikenal sebagai sentra penjaga tradisi Minang yang kuat.

Ritual Utama: Marandang, Ziarah Kubur, Balimau, dan Makan Bajamba.

Nilai: Menekankan pada penyucian diri dan penghapusan sekat sosial melalui kebersamaan.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *