Advertisement

Paham Adat Minangkabau: Jangan Hanya Pandai Bersilat Lidah dalam Alua Pasambahan, Tetapi Mampu Mengamalkan Adat Secara Benar

AKTAMEDIA.COM, PADANG – Adat Minangkabau bukan sekadar warisan budaya yang dipertontonkan dalam upacara adat, baralek, atau forum musyawarah. Ia adalah sistem nilai, pedoman hidup, dan falsafah yang membentuk jati diri orang Minang.

Namun hari ini, sering kita jumpai fenomena di mana seseorang begitu fasih bersilat lidah dalam alua pasambahan, pandai merangkai kato nan ampek, lihai memainkan kiasan dan petatah-petitih, tetapi dalam kehidupan nyata belum tentu mencerminkan nilai adat itu sendiri.

Padahal, adat tidak berhenti pada kepiawaian berbicara. Adat menuntut keselarasan antara kato jo parabuatan — antara ucapan dan tindakan.

Adat Bukan Sekadar Retorika

Dalam tradisi Minangkabau, kemampuan berpasambahan memang dihargai tinggi. Seorang penghulu atau ninik mamak diharapkan cerdas dalam bertutur kata, halus dalam menyampaikan maksud, dan bijak dalam memilih ungkapan. Bahasa adat penuh dengan perumpamaan, sindiran halus, dan struktur yang teratur.

Namun, jika kepiawaian itu tidak dibarengi dengan akhlak dan tanggung jawab, maka ia hanya menjadi hiasan kosong.

Falsafah Minangkabau mengajarkan:

> “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”

Artinya, adat bersumber dan berpijak pada ajaran agama. Maka adat bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga mengandung nilai moral dan spiritual. Orang yang benar-benar paham adat akan menjaga kejujuran, keadilan, dan amanah dalam setiap langkahnya.

Memahami “Alua jo Patuik”

Dalam adat dikenal istilah alua jo patuik — aturan dan kepantasan. Segala sesuatu ada jalurnya, ada tata caranya. Dalam musyawarah ada urutannya, dalam berbicara ada sopannya, dalam mengambil keputusan ada pertimbangannya.

Namun memahami alua jo patuik bukan hanya tahu susunan kata dalam pasambahan. Lebih dari itu, ia adalah kesadaran untuk:

Tidak melangkahi yang lebih tua

Tidak merendahkan yang lebih muda

Tidak memutuskan perkara tanpa musyawarah

Tidak menggunakan adat demi kepentingan pribadi

Orang yang benar-benar paham adat akan berhati-hati dalam bertindak karena ia sadar bahwa setiap perbuatannya membawa nama kaum dan suku.

Raso jo Pareso: Inti dari Pengamalan Adat

Adat Minangkabau sangat menekankan raso jo pareso — rasa dan periksa. Rasa adalah kepekaan hati; pareso adalah pertimbangan akal. Keduanya harus berjalan seimbang.

Seseorang boleh saja benar secara adat formal, tetapi jika ia tidak memiliki rasa — tidak peka terhadap dampak ucapannya, tidak peduli pada luka hati orang lain — maka ia belum sepenuhnya memahami adat.

Raso jo pareso mengajarkan bahwa sebelum berbicara, kita bertanya pada hati; sebelum bertindak, kita menimbang akibatnya.

Adat Hidup dalam Tindakan Sehari-hari

Adat bukan hanya milik panggung seremonial. Ia hidup dalam kehidupan harian:

Dalam cara seorang mamak membimbing kemenakan

Dalam sikap urang sumando menjaga martabat keluarga istrinya

Dalam musyawarah kaum yang menjunjung mufakat

Dalam kejujuran berdagang dan bekerja

Pepatah mengatakan:

> “Kato nan bana indak buliah diputar, janji nan sakali diucap indak buliah diubah.”

Ini menegaskan bahwa integritas adalah bagian dari adat. Sekali berjanji, harus ditepati. Sekali berkata benar, jangan diputar-balikkan demi kepentingan.

Tantangan Zaman Modern

Di era modern, tantangan semakin besar. Media sosial memberi ruang bagi siapa saja untuk berbicara tentang adat. Banyak yang mengutip pepatah, memposting petatah-petitih, bahkan tampil sebagai tokoh adat. Namun pertanyaannya: apakah nilai itu sudah benar-benar diamalkan?

Adat Minangkabau bersifat dinamis, tetapi prinsip dasarnya tetap: keadilan, musyawarah, tanggung jawab, dan kehormatan. Jika adat hanya dijadikan simbol atau alat legitimasi, maka ruhnya akan hilang.

Menjadi Orang Minang yang Utuh

Menjadi orang Minangkabau yang utuh berarti:

1. Mengerti adatnya.

2. Menghayati maknanya.

3. Mengamalkannya dalam kehidupan.
Pandai bersilat lidah adalah kelebihan. Tetapi lebih mulia lagi jika kepandaian itu diiringi keteladanan. Sebab adat bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dijalankan.

Sebagaimana falsafah:

> “Alam takambang jadi guru.”
Adat mengajarkan kita belajar dari kehidupan. Belajar rendah hati, belajar adil, belajar menjaga marwah.

Karena pada akhirnya, kemuliaan seseorang di Minangkabau tidak diukur dari indahnya kata-kata dalam pasambahan, tetapi dari lurusnya sikap dan teguhnya pendirian dalam menjalankan adat secara benar.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *