Advertisement

Mengenang Prof. Hasjim Djalal, Arsitek Kedaulatan Laut Indonesia

AKTAMEDIA.COM, JAKARTA – Sang Penjaga Samudra dari Ampek Angkek: Mengenang Prof. Hasjim Djalal, Arsitek Kedaulatan Laut Indonesia

Indonesia baru saja melepas salah satu putra terbaiknya ke peristirahatan terakhir. Prof. Dr. Hasjim Djalal, M.A., sang maestro hukum laut internasional dan diplomat tangguh yang menjadi saksi sekaligus aktor sejarah kedaulatan maritim Indonesia, kini telah tiada.

Lahir dari tanah berbatu di Ampek Angkek, Agam, Sumatera Barat, Hasjim Djalal adalah perwujudan nyata dari pepatah Minang: Karatau madang di hulu, babuah babungo balun; Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun. Ia pergi merantau dengan otak, dan pulang membawa kedaulatan laut bagi negaranya.

Dari Kaki Gunung Singgalang ke Meja Perundingan Dunia
Lahir pada 25 Februari 1934, Hasjim muda tidak pernah membayangkan bahwa tanda tangannya kelak akan ikut menentukan batas wilayah laut dunia. Ia mengukir prestasi gemilang sebagai orang Indonesia pertama yang menyabet gelar Master of Law dari Universitas Virginia, Amerika Serikat.

Pendidikan ini bukan sekadar gelar bagi Hasjim; itu adalah “senjata” untuk bertempur di meja diplomasi. Saat itu, kedaulatan laut Indonesia masih goyah dan belum sepenuhnya diakui dunia. Hasjim-lah yang menjadi salah satu otak di balik perjuangan panjang pengakuan konsep Negara Kepulauan (Archipelagic State). Tanpa dedikasinya, mungkin ribuan mil laut di antara pulau-pulau kita masih dianggap “laut bebas” oleh negara asing.

Karier Diplomatik yang Melintas Benua
Sepanjang masa pengabdiannya, Hasjim Djalal adalah “Ujung Tombak” Indonesia di luar negeri. Rekam jejaknya mencakup posisi-posisi krusial:

Duta Besar RI untuk PBB (1981–1983): Di mana ia mulai mengukuhkan pengaruh Indonesia.

Duta Besar RI di Kanada dan Jerman: Menjalin hubungan strategis dengan kekuatan ekonomi dunia.

Duta Besar Keliling: Menjadi utusan khusus yang dipercaya oleh berbagai era kepemimpinan, dari Presiden Soeharto hingga BJ Habibie.

Dunia internasional mengenalnya bukan hanya sebagai diplomat, tapi sebagai otoritas tertinggi dalam hukum maritim. Buku-bukunya, seperti Indonesian Struggle for the Law of the Sea, hingga kini masih menjadi “kitab suci” bagi para mahasiswa dan pakar hukum internasional di seluruh dunia.

Estafet Diplomasi: Warisan untuk Generasi
Keberhasilan Hasjim Djalal tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia berhasil mendidik anak-anaknya menjadi sosok yang berpengaruh bagi bangsa. Darah diplomasinya mengalir deras pada sang putra, Dino Patti Djalal, yang sukses mengikuti jejaknya menjadi diplomat ulung.

Hingga usia senjanya, Hasjim tetap menjadi rujukan utama pemerintah. Sebagai penasihat senior kementerian, suaranya tetap lantang menyuarakan hak-hak maritim Indonesia, bahkan saat ia menjabat sebagai Presiden Otoritas Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority).

Penghormatan Terakhir di TMP Kalibata
Minggu, 12 Januari 2025, menjadi hari berkabung nasional bagi dunia diplomasi. Hasjim Djalal dilepas dengan upacara militer penuh khidmat di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Di bawah langit Jakarta, para tokoh bangsa dan duta besar negara sahabat menundukkan kepala, memberikan penghormatan terakhir kepada pria yang telah memastikan “halaman rumah” laut kita tetap aman.

Menteri Luar Negeri Sugiono, saat melepas beliau, menegaskan bahwa Hasjim Djalal adalah teladan integritas bagi seluruh diplomat muda Indonesia. (Wikipedia)

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *