AKTAMEDIA.COM, PADANG – legenda penikahan orang bunian dan manusia.
Secara sosiologis, narasi pernikahan ini sering digunakan untuk menjelaskan fenomena orang hilang yang tidak ditemukan jasadnya. Masyarakat memilih percaya bahwa orang tersebut tidak mati, melainkan “diambil” menjadi menantu oleh orang bunian dan hidup bahagia di dimensi lain.
Jangan Takabur: Dilarang sombong atau menantang keberadaan mahluk halus. Kalimat seperti “Saya tidak takut” dianggap mengundang mereka untuk menampakkan diri.
Jangan Berteriak/Memanggil Nama: Di dalam hutan, dilarang memanggil nama asli teman dengan keras. Orang bunian dipercaya bisa “merekam” nama tersebut untuk memanggil korban agar menjauh dari rombongan.
Permisi (Minta Izin): Selalu ucapkan “Permisi, anak cucu mau lewat” atau dalam bahasa Minang “Izin maminjam jalan” saat melewati tempat yang terasa angker atau pohon besar
.Tanda-tanda Anda Sedang “Diajak”
Biasanya diawali dengan mencium bau masakan yang sangat enak, bau kemenyan, atau melihat seorang gadis/pemuda cantik sendirian di tengah hutan yang mengajak Anda mampir ke rumahnya. Jika Anda mengikuti ajakan tersebut, saat itulah Anda dianggap telah setuju untuk masuk ke alam mereka
.Beberapa kejadian di Sumatera Barat sering dikaitkan secara langsung dengan interaksi orang bunian, di mana korban yang hilang ditemukan dalam kondisi tidak masuk akal secara medis atau logika.Berikut adalah beberapa laporan dan cerita saksi mata yang paling fenomenal.
Hilangnya Pendaki di Gunung Singgalang
Salah satu kasus yang sering dibahas adalah pendaki yang hilang dan ditemukan dalam kondisi linglung.
Kesaksian: Korban mengaku melihat perkampungan megah dengan penduduk yang ramah dan ditawari makanan lezat.
Realita: Saat ditemukan oleh tim SAR, korban sebenarnya berada di tepian jurang atau semak berduri yang sangat berbahaya, namun dalam penglihatannya, ia sedang berada di dalam rumah yang nyaman. Indozone mencatat fenomena ini sebagai pola “disembunyikan” yang umum di gunung tersebut.Kisah Hilangnya Galih di Hutan Palupuh
Pada tahun 2021, seorang warga bernama Galih hilang di hutan Palupuh, Agam.
Kronologi: Setelah pencarian berhari-hari, ia ditemukan di lokasi yang sudah berkali-kali dilewati tim pencari.
Kesaksian: Ia mengaku mendengar suara orang memanggilnya dan melihat keramaian, namun ia tidak bisa bersuara atau melihat tim SAR yang mencarinya. Fenomena “hijab gaib” ini sering dilaporkan di Harian Haluan saat meliput kejadian mistis di pedalaman Minang.Fenomena “Dibawa” ke Alam Sebelah di Solok
Dalam beberapa kasus di wilayah Solok, ada laporan saksi yang mengaku melihat orang yang hilang sedang berjalan bersama “sosok tinggi besar” atau masuk ke dalam sebuah pintu di batang pohon besar yang kemudian menghilang.
Perbedaan Waktu: Korban yang berhasil kembali sering merasa hanya pergi selama 1-2 jam, padahal di dunia nyata keluarga telah mencarinya selama 3 hari atau lebih.Mengapa Mereka Kembali?
Menurut kepercayaan lokal, korban bisa kembali karena beberapa alasan:
Pencarian dengan Bunyi-bunyian: Warga sering memukul panci atau alat dapur (bakaba) sambil memanggil nama korban untuk “memecah” kesunyian alam bunian.
Tidak Memakan Makanan Bunian: Ada keyakinan bahwa jika manusia sempat memakan makanan di alam bunian, ia akan terjebak selamanya dan tidak bisa kembali ke alam manusia.Saat seseorang diyakini “disembunyikan” atau dibawa untuk dinikahi oleh orang bunian, masyarakat Minangkabau biasanya melibatkan Tukang Jariang atau Dukun Patah untuk melakukan ritual penjemputan.
Berikut adalah prosedur adat dan ritual yang umum dilakukan:
1. Ritual Bakaba (Bunyi-bunyian)
Ini adalah langkah pertama yang paling sering dilakukan warga desa secara bersama-sama.
Proses: Warga berkeliling di sekitar lokasi hilangnya korban sambil memukul alat dapur seperti panci, penggorengan, atau talempong.
Tujuan: Suara bising dipercaya dapat “memecah” kabut gaib atau gangguan pendengaran yang dibuat orang bunian, sehingga korban bisa mendengar panggilan keluarganya dan sadar dari pengaruh hipnotis alam gaib.
2. Ritual Manjapuik (Menjemput) dengan Syarat
Jika cara bising tidak berhasil, tetua adat atau dukun akan melakukan ritual komunikasi gaib. Beberapa syarat yang biasanya disiapkan antara lain:
Sesajen Tradisional: Menyiapkan nasi kunyit, ayam panggang, atau kopi hitam sebagai bentuk “tebusan” atau penghormatan kepada penghuni wilayah tersebut.
Sirih Pinang: Digunakan sebagai media pembuka percakapan (syarat adat) dengan “pemimpin” komunitas bunian di sana.
Media Pakaian: Dukun biasanya meminta baju terakhir yang dipakai korban atau pakaian milik orang tuanya untuk dijadikan penunjuk jalan secara metafisika.
3. Dialog Metafisika
Dukun akan melakukan meditasi di lokasi yang dianggap sebagai “pintu masuk” (seperti pohon besar atau lubang batu).
Negosiasi: Dukun akan bernegosiasi agar korban dilepaskan. Jika alasan orang bunian membawa manusia adalah untuk dinikahkan, dukun akan berusaha membatalkan “perjanjian” tersebut dengan argumen bahwa dunia mereka berbeda.
Tanda Keberhasilan: Korban biasanya akan ditemukan di tempat yang sudah berkali-kali dicari sebelumnya, sering kali dalam kondisi tertidur atau linglung di bawah pohon.
4. Ritual Pasca-Kembali (Tepung Tawar)
Setelah korban berhasil kembali, dilakukan ritual pembersihan untuk membuang pengaruh energi negatif:
Memandikan dengan Air Doa: Korban dimandikan dengan air yang dicampur jeruk nipis dan bunga-bungaan agar kesadarannya pulih total.
Larangan Bercerita: Biasanya korban dilarang menceritakan detail kehidupan di dalam alam bunian selama beberapa hari agar jiwanya tidak “tertarik” kembali ke sana.
Kisah-kisah ini terdokumentasi dalam berbagai kajian folklore Minangkabau sebagai bagian dari kearifan lokal dalam menjaga hubungan antara manusia dan alam
















Leave a Reply