Advertisement

‎Kata-Kata Sakral di Minangkabau Berakar Dari Adat Dan Agama

AKTAMEDIA.COM, PADANG – ‎Kata-kata sakral di Minangkabau berakar dari adat dan agama, dengan filosofi utama “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (Adat bersendi syariat, syariat bersendi Kitabullah). Ungkapan ini menempatkan al-Qur’an sebagai pedoman tertinggi. Selain itu, “Alam takambang jadi guru” menjadi dasar falsafah hidup yang menghormati alam.
‎”Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”: Adat berlandaskan hukum Islam, hukum Islam berlandaskan Al-Qur’an (fondasi utama hidup bermasyarakat).

‎”Alam takambang jadi guru”: Segala sesuatu yang terhampar di alam semesta dapat dijadikan pelajaran atau guru.
‎”Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang”: Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung (menghormati adat setempat).
‎”Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang”: Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing (menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan).
‎”Tagak samo tinggi, duduak samo randah”: Tegak sama tinggi, duduk sama rendah (kesetaraan sosial).

‎”Kusuik kasalasaian, karuah kajaniahan”: Kusut diselesaikan, keruh dijernihkan (musyawarah untuk mufakat).
‎”Nan elok diambiak paimbau, nan buruak dibuang”: Yang baik diambil/dicontoh, yang buruk dibuang.
‎”Sakali ota gadang, sakali picayo barubah”: Sekali ucapan besar (janji) diucapkan, sekali kepercayaan berubah (menggambarkan tanggung jawab atas perkataan).

‎1. Kato Nan Ampek
‎Kato Mandaki (Kata Mendaki): Digunakan saat berbicara kepada orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya (seperti orang tua atau guru).
‎Kato Manurun (Kata Menurun): Digunakan saat berbicara kepada orang yang lebih muda (seperti adik atau anak-anak).
‎Kato Mandata (Kata Mendatar): Digunakan antar sesama atau teman sebaya yang menuntut kehati-hatian meski kedudukannya sejajar.
‎Kato Malereng (Kata Melereng): Digunakan kepada orang yang disegani atau memiliki hubungan khusus (seperti dengan ipar atau mertua).

‎2. Filosofi Kebijaksanaan & Perantauan
‎”Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun”: Mengajarkan pemuda Minang untuk merantau demi mencari pengalaman dan bekal hidup sebelum bisa berguna bagi kampung halamannya.
‎”Aluih baso jo basi”: Prinsip utama dalam bergaul yang mengutamakan tutur kata lemah lembut dan tata krama yang sangat halus.
‎”Baribu nan tidak lipuah, jajak nan indak hilang”: Sesuatu ajaran atau nilai yang tetap berkesan dan abadi meskipun zaman telah berganti.

‎3. Ketegasan Hukum & Adat
‎”Kusuik mampalerekan, karuah mampajaniahan”: Masalah yang rumit diselesaikan dengan ketelitian, dan perselisihan yang keruh harus dijernihkan hingga ke akar masalahnya.
‎”Nak tuah cari sapakaik, nak cilako bueklah silang”: Jika ingin beruntung carilah kesepakatan (mufakat), namun jika ingin celaka maka buatlah perselisihan.

‎”Nan kuriak kundi, nan merah sago; nan baik budi, nan indah baso”: Keindahan sejati seseorang bukan pada rupa, melainkan pada budi pekerti dan kehalusan bahasanya.

‎Ungkapan-ungkapan ini bukan sekadar kalimat, melainkan pedoman hidup yang diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga keharmonisan tatanan sosial masyarakat Minangkabau.

Steven
Author: Steven

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *