AKTAMEDIA.COM, PADANG – Sejarah Gasiang Tankurak di Minangkabau
Gasiang Tankurak adalah fenomena budaya dengan unsur mistis dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia. Berikut adalah sejarahnya:
Asal Usul
- Berasal dari keyakinan animisme dan dinamisme masyarakat Minangkabau pada zaman kuno, kemudian dianggap sebagai salah satu jenis sihir hitam yang paling kuat dan ganas oleh sebagian praktisi ilmu gaib. Konon berasal dari wilayah pesisir selatan pesisir barat Sumatera.
Cara Pembuatan
- Menurut Budayawan Khan Izar Chan, gasiang dibuat dari bagian dahi tengkorak orang yang terampil dalam ilmu spiritual atau meninggal secara tidak wajar serta telah dimakamkan selama 3 hingga 6 bulan. Untuk mendapatkannya, perlu melakukan ritual bernama “batarak” atau meditasi di dekat makam selama beberapa malam. Setelah mendapatkan petunjuk, makam digali untuk mengambil tulang dahi, yang kemudian dibersihkan dan melalui ritual khusus lainnya agar bisa digunakan.
Penggunaan
- Utamanya digunakan untuk sihir atau mengendalikan orang lain, seringkali oleh pria untuk membuat wanita yang menolak cintanya menjadi terobsesi bahkan gila. Biasanya dimainkan pada malam hari Kamis hingga Jumat, dengan mengucapkan mantra sambil memutarnya, terkadang disertai dengan membakar dupa. Efek pada korban dipercaya meliputi gelisah, rasa sakit, dan perilaku tidak normal seperti menjerit, menarik rambut, atau memanjat tembok, kondisi yang disebut “sijundai”. Namun, sebagian juga mengklaim bisa digunakan untuk penyembuhan atau jodoh.
Perkembangan
- Ketika agama Islam masuk ke Minangkabau sekitar abad ke-6 Masehi, praktik ini dikritik karena bertentangan dengan ajaran Islam dan dianggap sebagai penyembahan berhala, sehingga sempat merosot namun tidak hilang sama sekali dan masih diam-diam dipraktikkan oleh sebagian orang. Di masa modern, fenomena ini juga mengilhami karya budaya, seperti lagu “Gasiang Tankurak” ciptaan Syahrul Tarun Yusuf yang kembali populer di platform video pendek, dengan sebagian orang yang percaya liriknya diadaptasi dari sebagian mantra sebenarnya.Selain itu, lagu ini merupakan salah satu dari lebih dari 300 karya yang dibuat oleh Syahrul Tarun Yusuf sejak tahun 1960-an, dan pernah dipopulerkan oleh penyanyi minang ternama.
Beberapa bagian lirik lagu tersebut adalah “Indak kayu… mak janjang dika piang, asakan dapek urang den cinto, tolong tangkurak namonyo gasiang, na muah disuruah jo disarayo”.- “Indak kayu… mak janjang dika piang, asakan dapek urang den cinto, tolong tangkurak namonyo gasiang, na muah disuruah jo disarayo”
Tidak kayu, bukan juga kayu yang dibelah, asalkan bisa mendapatkan orang yang aku cinta, tolonglah Gasiang Tankurak, biarkan aku bisa memerintah dan memintai tolongnya.
- “Gasiang batali jo kain kapan, di patang kamih malam juma haik, gasiang tangkurak nan den nyanyikan, putu ihn yo gasiang putu ih makri paik”
Gasiang yang diikat dengan kain kafan, dilakukan pada sore Kamis hingga malam Jumat, Gasiang Tankurak yang aku nyanyikan, putuslah hubungan baiknya, putuslah rasa saling mengenalnya.
- “Jikok nyo lalok tolong jago kan, jikok nyo tagak suruah bajalan, di siko kini denai nantikan, tolonglah japu ik japu ik tab aok, suruah nyo suju ik di kaki denai”
Jika dia tidur tolong bangunkan, jika dia berdiri suruh berjalan, di sini aku menantinya, tolong jemput dan bawa dia kesini, suruh dia sujud di kaki aku.
- “Datang sijundai bia nyo gilo, siang jo malam, nyo caro denai”
Datanglah dengan keadaan gelisah hingga gila, siang dan malam dia mencari aku.
Lagu ini menggambarkan bagaimana seseorang yang merasa terluka karena cintanya ditolak kemudian menggunakan ritual Gasiang Tankurak untuk membuat sang pujaan hati terobsesi dan tunduk kepadanya, yang dalam budaya Minangkabau dianggap bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai positif.
















Leave a Reply