AKTAMEDIA.COM, BATUSANGKAR – Tingkuluak Sungayang, yang juga dikenal sebagai Tingkuluak Balapak, berasal dari Nagari Sungayang di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Penutup kepala ini merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya perempuan Minangkabau di wilayah tersebut.

Berikut adalah detail mengenai asal-usul dan maknanya :
1. Latar Belakang Wilayah
A. Nagari Sungayang : Merupakan salah satu nagari (desa adat) tertua di Tanah Datar yang kaya akan tradisi tenun.
Nama “Sungayang” sendiri diyakini berasal dari istilah “Sungai Bahiyang” yang berarti sungai tempat para dewa pada zaman dahulu kala.
B. Tradisi Tenun : Tingkuluak ini dibuat dari kain tenun khusus yang disebut Tenun Balapak, yang dicirikan oleh penggunaan benang emas atau perak yang padat di seluruh permukaan kain.
2. Makna dan Filosofi
A. Kekuatan Hati : Tingkuluak melambangkan kekuatan hati perempuan Minangkabau dalam mencapai tujuan baik, kegigihan, dan sifat pantang menyerah.
B. Status Sosial : Penggunaan Tingkuluak Balapak menunjukkan status kehormatan seorang perempuan. Seringkali dipakai oleh Bundo Kanduang (pemimpin perempuan) atau pengantin perempuan dan dalam upacara adat besar.
Tanggung Jawab : Bentuknya yang menyerupai tanduk atau memiliki berat tertentu melambangkan besarnya tanggung jawab yang dipikul seorang perempuan dalam sistem matrilineal Minangkabau.
3. Fungsi dalam Adat
A. Upacara Adat : Digunakan dalam prosesi pernikahan, pengangkatan penghulu, atau acara perayaan nagari lainnya.
B. Simbol Identitas : Menjadi pembeda identitas antara satu daerah dengan daerah lain di Minangkabau. Tingkuluak Sungayang memiliki ciri khas lipatan dan jenis kain yang berbeda dari Tingkuluak Koto Gadang atau daerah lainnya.
Bagi masyarakat setempat, menjaga kelestarian Tingkuluak Sungayang berarti merawat warisan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun melalui garis keturunan ibu.

















Leave a Reply