AKTAMEDIA.COM – Di balik sunyinya jalan lintas Sumatera, tersimpan sebuah kisah yang nyaris tak terdengar—kisah tentang keberanian seorang ibu muda bernama Sara. Perempuan asal Bukittinggi, Sumatera Barat itu menempuh perjalanan darat hampir sepuluh jam menuju Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Perjalanan itu bukan sekadar lintasan geografis, melainkan perjalanan batin yang penuh kegelisahan, harap, dan cinta seorang ibu kepada anaknya.
Tujuan Sara jelas dan tunggal: menjemput kembali putra bungsunya yang berusia tiga setengah tahun, yang telah terpisah darinya dan berada bersama sang ayah selama kurang lebih tiga bulan. Waktu yang bagi sebagian orang terasa singkat, namun bagi seorang ibu menjadi hari-hari panjang yang diisi rindu, cemas, dan doa tanpa putus.
Belilas, Kecamatan Siberida, menjadi tempat di mana harapan dan kenyataan kerap saling berbenturan. Sara datang dengan niat baik, berusaha menempuh jalan persuasif. Mediasi kekeluargaan difasilitasi oleh tokoh masyarakat setempat, dengan harapan masalah dapat diselesaikan secara damai dan beradab. Namun, komunikasi yang tidak berjalan lancar membuat upaya tersebut belum menemukan titik temu.
Akses informasi mengenai keberadaan sang anak pun dinilai sulit. Setiap upaya penjemputan kerap menemui kebuntuan. Dalam kondisi terdesak dan demi perlindungan hak anak, Sara akhirnya memilih jalur hukum dengan menyampaikan pengaduan ke kepolisian setempat, disertai pendampingan dari unsur masyarakat yang peduli.
Hari-hari berlalu dengan penuh ketidakpastian. Sara harus bolak-balik dari Bukittinggi ke Indragiri Hulu, mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya. Namun yang paling berat adalah beban batin—menunggu tanpa kepastian, sembari menahan rindu yang kian menumpuk.
Sebuah momen emosional terjadi ketika Sara menerima panggilan video dari kampung halaman. Anak sulungnya yang masih berusia sekitar lima tahun menatap layar dengan mata polos, menyampaikan kerinduan kepada ibunya dan adiknya. Suara kecil itu menjadi penguat yang luar biasa, menegaskan bahwa perjuangannya bukan hanya tentang satu anak, melainkan tentang keutuhan cinta seorang ibu bagi kedua buah hatinya.
Menjelang akhir proses yang panjang dan melelahkan, situasi akhirnya memasuki fase paling menentukan. Demi menghindari potensi konflik sosial dan menjaga keamanan semua pihak, penjemputan putra bungsu Sara dilakukan melalui sebuah operasi senyap menjelang tengah malam. Tanpa keramaian, tanpa sorotan, dan tanpa kegaduhan, langkah itu dipilih sebagai jalan paling aman dan bermartabat.
Dalam keheningan malam, dengan pendampingan terbatas dan koordinasi yang matang, Sara akhirnya kembali memeluk anaknya. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada perayaan—hanya air mata haru yang jatuh perlahan, menyatu dengan rasa lega yang tak terucap. Di saat kebanyakan orang terlelap, seorang ibu menemukan kembali bagian dari hidupnya yang sempat terpisah.
Setelah proses tersebut, Sara bersama putra bungsunya meninggalkan wilayah Indragiri Hulu dalam keadaan aman. Pihak keluarga menyampaikan rasa syukur yang mendalam, sekaligus terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa persoalan hak asuh anak pasca-perceraian masih menyimpan banyak tantangan. Ketika komunikasi orang dewasa gagal, anak kerap menjadi pihak yang paling rentan. Oleh karena itu, perlindungan hak anak serta kehadiran negara dalam memastikan proses hukum berjalan adil, aman, dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak menjadi hal yang sangat penting untuk terus diperkuat.
Di balik sunyi malam dan langkah-langkah tanpa suara itu, tersimpan satu pesan kuat: cinta seorang ibu tak pernah padam, bahkan ketika harus diperjuangkan dalam diam.
laporan reportase jurnalis aktamedia.com
















Leave a Reply