AKTAMEDIA.COM – Pekanbaru| 23 Januari 2026, Ada apa dengan MBG (Makan Bergizi Gratis)? Ada apa dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi)? Ada apa dengan BGN (Badan Bergizi Gratis)?
Ada apa. Ada apa. Ada apa?
Tidak ada apa-apa. Tidak dengan MBG, Tidak SPPG dan Tidak pula dengan BGN. Tidak ada apa-apa selain BGN sedang bertungkus lumus memperjuangkan program nasional. Lalu kenapa tidak dengan pendidikan gratis atau tidak dengan Guru Honoror? Kenapa makan gratis. Kenapa pegawai SPPG yang di angkat PPPK.
Sepanjang tahun 2025 Pemerintah telah mengangkat 1,6 Juta guru honorer menjadi PNS atau ASN PPPK. Pun pemerintah telah membangun 166 Titik Sekolah Rakyat yang menampung 15.954 siswa dengan fasilitas gratis . lengkap dengan sandang, pangan dan papan. Makanan, pakaian dan asrama gratis. Selain itu pemerintah telah mengalokasikan 17,2 Triliun untuk 1,2 Juta mahasiswa penerima beasiswa.
Apakah tidak adil bila Pemerintah mengangkat tiga orang PPPK yang terdiri dari Kepala SPPG, Akuntasi dan Ahli Gizi disetiap SPPG. Bukankah mereka juga anak-anak bangsa. Bukankah mereka juga ingin hidup layak seperti para guru yang memiliki gaji UMR, Gaji 13, Sertifikasi bahkan tunjangan. Sedangkan kompensasi dan insentif pegawai PPPK masih kalah dari itu.
Lalu bagaimana mengkontrol setiap SPPG bila pemerintah tidak menetapkan pegawainya disana. Dengan adanya perwakilan pemerintah, melalui PPPK kepala SPPG, Akuntasi dan Ahli Gizi. Maka dapat meminimalisir kecurangan diyayasan, Meningkatkan kualitas produksi dan mengawasi setiap kegiatan agar hal-hal yang tidak diinginkan seperti kegagalan produksi dan keracunan dapat dicegah dan diminimalisir. Sehinga pemilik yayasan tidak dapak leluasa untuk mencari keuntungan karena mata-mata pemerintah telah ditempatkan disana.
Pada tahun ini Pemerintah menetapkan anggaran MBG sebesar 335 Triliun. Bila anggaran seporsi MBG untuk anak bangsa sebesar 15.500. dengan rincian 10.500 untuk makanan. 3.000 ribu untuk operasional dan gaji karyawan. Sedangkan sisanya, 1.500 untuk keutungan pemilik yayasan. Maka 234,5 triliun uang akan beredar ditengah masyarakat yang di gunakan SPPG untuk membeli beras, sayuran dan buah-buahan dari petani dan pedagang. Telur dan daging dari peternak dan pedagang. Minyak, Gula dan sebagainya dari pedagang.
Lalu sebesar 67 triliun digunakan untuk gaji tukang masak, packing, cuci piring, supir, keamanan dan kebersihan. Bila sampai saat ini sudah ada 21.102 SPPG yang berdiri dengan rata-rata 40 orang pekerja maka 844.080 orang telah bekerja disana. Dan sisanya sebesar 33,5 Triliun untuk pemilik yayasan yang sebelumnya telah membangun gedung, memperbaiki sanitasi, membeli material, melengkapi peralatan dan perlengkapan.
Dalam laporan The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2025 mencatat 43,5 persen penduduk Indonesia tidak mampu membeli pangan sehat. Dengan adanya program MBG dapat mengurangi angka itu. Anak-anak bangsa yang biasanya tidak membawa bontot kesekolah karena tidak ada yang bisa dibawa dari rumah atau boleh jadi bisa membawanya dari rumah tapi hanya ikan asin atau telur ceplok dan atau hanya indomie. Kini melalui MBG mereka akan merasakan perasaan yang sama dengan kawan-kawan mereka sebab makanan mereka dengan yang lain sama. Dengan kadar dan gizi yang sama.
Lalu masihkah kita bandingkan satu profesi dengan profesi yang lain. Tidakkah kita melihat dari sudut pandang yang berbeda bahwa program ini adalah program besar dengan tantangan yang besar dan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar. Sungguh bila uang 15.000 itu diserahkan dalam bentuk uang ke orang tua mereka maka roda ekonomi tidak akan berputar secepat dan sehebat ini.
Itu sebabnya penulis mengatakan program ini adalah program besar dengan tantangan besar dan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar. Sebab bila diserahkan langsung, tidak ada bedanya dengan program BLT, PKH, BPNT dan E-Warung. Semua ada porsi dan jalannya masing-masing.
Penulis Muhammad Yunus
















Leave a Reply