AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU – Dalam zaman digital yang cepat ini, citra suatu organisasi bisa hancur dalam sekejap.
Gelombang viral di platform media sosial memungkinkan informasi, pandangan ,dan
Keluhan konsumen untuk tersebar dengan lebih luas dan cepat di bandingkan dengan
Zaman komunikasi konvensional. Dalam hal ini, hubungan masyarakat (PR) diharuskan
Untuk memiliki keterampilan dalam menangani krisis yang lebih fleksibel, cepat tanggap,dan terencana. Sebelum membahas strategi PR yang kontemporer, sangat penting untuk memahami alas an mengapa krisis bisa muncul dengan begitu mudah di era digital ini dan bagaimana organisasi dapat menghadapinya.
Komunikasi dalam situasi krisis adalah proses yang mengatur informasi dan respon Ketika sebuah institusi menghadapi kondisi yang dapat merugikan reputasi atau Kepercayaan masyarkat. Namun, di zaman media sosial, sifat krisis telah mengalami Perubahan yang signifikan. Krisis sekarang berkembang dengan lebih cepat,lebih Transparan, dan lebih sulit untuk dikendalikan karena masyarakat memiliki kekuatan
Untuk menyebarluaskan informasi lewat berbagai platform digital. Berdasrkan laporan Indonesia Digital 2024 yang diterbitkan oleh We Are Sosial, lebih dari 191 juta orang Indonesia aktif menggunakan media sosi.al setiap hari. Dengan jumlah pengguna yang Begitu besar, potensi penyebaran krisis digital menjadi semakin tinggi dan sulit Diprediksi. Sebuah keluhan daripelanggan, cuplikan video pendek, atau kesalahan kecil Yang direkam oleh publik dapat memicu reaksi yang luas dan menyebabkan tekanan Pada organisasi dalam waktu yang singkat.
Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM, 2023) Mengindikasikan bahwa banyak krisis yang dihadapi oleh organisasi modern berakar
dari media sosial. Ini menunjukkan pentingnya bagi PR untuk memiliki kepekaan tinggi
terhadap digital, termasuk kemampuan untuk memantau diskusi online, menganalisis
persepsi publik, dan menyiapkan tanggapan yang cepat serta tepat. Krisis digital di Indonesia dapat dilihat dari beberapa insiden layanan publik yang viral karena video
Keluhan pelanggan. Dalam waktu singkat, video ini bisa mendapatkan ribuan Komentar dan respon, yang kemudian mencptakan citra negative terhadap layanan Tersebut. Keadaan ini menegaskan bahwa organisasi tidak lagi menjadi satu-satunya
Pihak yang mengendalikan mengkomunikasi; publik kini memiliki peran yang lebih besar dalam membentuk opini.
Untuk mengatasi tantangan ini, tim PR harus dapat mengimplementasikan rencana Komunikasi darurat yang komperhensif. Tindakan yang cepat menjadi salah satu Komponen yang sangat penting karena keterlambatan sedikit bisa memperburuk Keadaan daan memberikan kesan bahwa organisasi tidak peduli dengan masalah yang
ada. Selain itu, pengawasan media sosial dengan intensif juga sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi potensi krisis lebih awal. Sumber resmi seperti Kominfo RI menekankan bahwa mengikuti perkembangan tren digital adalah langkah prokaktif Yang penting untuk menangani isu yang muncul . Di sisi lain, memberikan peryataan Publik dengan jelas dan jujur tak kalah krusial. Menurut jurnal Publik Relations Rivew (2023), respons yang tulus, terbuka dan disamaikan dengan rasa empati terbukti lebih berhasil dalam merendkan kemarahan masarakat.
Tidak hanya itu, hubungan yang positif antara organisasi dan masyarakat juga merupakan asset penting dalam menghdapi situasi krisis. Organisasi dengan reputasi
Yang baik dan Komunikasi yang rutin sebelumnya akan lebih cepat mendapatkan Kembali kepercayaan di bandingkan dengan yang jarang berinteraksi dengan audiensnya. Di samping itu, keberadaan tim krisis digital yang terlatih akan sangat Mendukung organisasi dalam merancang strategi komunikasi yang sesuai dengan perubahan di media sosial. Tim ini bertugas untuk memahami budaya digital, termasuk bahasa yang umum digunakan, humor online, hingga meme yang sering membentuk pandangan masyrakat. Dengan memmahami konteks tersebut, respons yang diberikan organisasi dapat menjadi lebih efektif dan diterima dengan lebih baik
oleh publik.
Di zaman yang penuh dengan konten viral dan digital, menghadapi krisis komunikasi
Merupakan suatu tantangan besar bagi praktis hubungan masyarkat. Kecepatan Dalam penyebaran informasi mengharuskan PR untuk bekerja dengan lebih hati-hati
Dan strategis dalam mengelola pesan yang di sampaikan. Dengan mengerti dinamika di komunikasi yang jujur dan terbuka, organisasi dapat mengurangi dampak krisis serta mempertahankan kepercayaan masyarakat. Di harapkan setiap organisasi dapat
Menangani krisis dengan cara yang professional dan menjadikanya kesempatan untuk
Memperkuat citra positif di mata publik.
Penulis : Bagas Nova ALfitra Hrp (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 5)
















Leave a Reply