Advertisement

Fenomena viral: Apa yang Membuat Kita Rentan Terhadap Tren di Dunia Maya?

AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU – Di zaman digital ini, konsep viral telah menjadi bagian dari rutinitas kita. Setiap hari, kita menyaksikan vidio, komentar, atau topik tertentu yang mendadak menjadi perbincangan hangat di beragam platform media sosial. Konten yang menjadi viral sering kali memberikan pengaruh terhadap pandangan publik, bahkan dapat membentuk cara orang melihat suatu kejadian. Fenomena ini sangat menarik untuk di pelajaari, karena tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga, menggambarkan dinamika komunikasi digital dan reaksi masyaarakat terhadap tren yang tengah populer. Dalam tulisan ini, penulis mengundang pembaca untuk memahami alasan dibalik konten yang bisa menjadi viral serta dampaknya terhadap pola pikir masyarakat di dunia digital.

Kata “viral” berasal dari konsep pemasaran viral dan penyebaran inovasi, yang menjelaskan bagaimana ide, komunikasi, atau barang menyebar dengan cepat. Di era media sosial, penyebaran konten terjadi dalam setiap detik, bukan lagi dalam hari atau minggu. Pengguna tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menyebarkannya. Proses penyebaran tidak linear, melainkan eksponsial. Ini menciptakan efek bola salju, dimana satu unggahan bisa meledak berkat interaksi awal yang kuat.

Fenomena viral terjadi ketika konten menyebar dengan cepat melalui interaksi pengguna, seperti suka, berbagi, atau komentar. Konten yang menjadi viral biasanya memiliki elemen emosional yang kuat, entah itu lucu, marah, sedih, atau mengharukan. Penelitian di bidang psikologi komunikasi menunjukkan bahwa emosi adalah faktor utama yang menentukan apakah seseorang akan membagikan informasi kepada orang lain. Ketika emosi seseorang terpicu, pengguna media sosial cenderung memberikan reaksi instan tanpa mempertimbangkan konteks dengan seksama.

Selain itu, algoritma media sosial memainkan peran penting dalam meningkatkan viralitas. Platform-platform seperti Instagram, TikTok, ata Youtube secara otomatis merekomendasikan konten yang mendapatkan banyak interaksi, sehingga konten tersebut sering muncul di beranda pengguna. Proses ini mempercepat penyebaran konten secara pesat. Teori agenda setting menjelaskan bahwa apa yang sering muncul di media akan dianggap penting oleh publik. Dengan kata lain, konten yang viral dapat mempengaruhi pandangan masyarakat meskipun informasi tersebut belum tentu memiliki dampak signifikan secara nyata.

Dalam pandangan ilmu komunikasi massa, bandwagon effect juga menjadi faktor mengapa masyarakat mudah mengikuti tren viral, Saat banyak orang membahas suatu hal, pengguna lainnya terdorong untuk ikut terlibat agar tidak merasa tersisih dari informasi. Hal ini terkait dengan fenomena psikologis yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut saat seseorang merasa tertinggal dari diskusi publik.

Namun, fenomena viral tidak selalu memberikan dampak yang positif. Informasi yang belum terverifikasi bisa cepat beredar dan mengakibatkan kesalahpahaman, bahkan konflik. Oleh karena itu, untuk memperkuat argumen dalam artikel ini, penulis mengacu pada beberapa sumber yang kredibel seperti penelitian mengenai komunikasi digital dan publikasi dari jurnal ilmiah. Sebuah artikel dari Journal of Communication menegaskan bahwa konten viral sering kali memiliki efek framing, yaitu cara penyampaian narasi yang mempengaruhi cara masyarakat memahami suatu isu dari perspektif tertentu. Sementara itu, data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan bahwa penyebaran hoaks meningkat selama periode tren viral tertentu, menandakan bahwa masyarakat sering membagikan informasi tanpa memverifikasi kebenarannya.

Secara keseluruhan, viralitas adalah fenomena yang rumit. Fenomena ini melibatkan interaksi manusia, teknologi, dan budaya digital. Masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi digital yang baik, terutama dalam memverifikasi informasi dan memahami konteks sebelum membagikannya kepada orang lain. Hal ini penting agar ruang digital tetap menjadi lingkungan yang sehat untuk berbagi informasi dan membentuk opini publik yang lebih bijaksana.

Melalui analisis ini, dapat disimpulkan bahwa fenomena viral tidak hanya dipengaruhi oleh algoritma platform media sosial, tetapi juga oleh reaksi emosional masyarakat serta budaya partisipasi digital yang semakin berkembang. Setiap orang memiliki kontribusi dalam menentukan arah diskusi publik di dalam ruang media sosial. Diharapkan, pembaca dapat menjadi pengguna yang lebih kritis, bijak, dan selektif dalam merespons tren yang viral. Dengan kemampuan literasi digital yang baik, kita dapat mengurangi penyebaran informasi yang salah sekaligus menciptakan ruang untuk diskusi yang lebih sehat di dunia maya.

 

Penulis : Maifrizal

 

Surya
Author: Surya

Redaktur Akta Media

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *