Advertisement

Kuliner Steam Style: Gaya Baru Gen Z Menikmati Makanan Tradisional Pekanbaru

AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU – Dalam beberapa tahun terakhir ini, Pekanbaru menunjukkan perubahan menarik dalam pola konsumsi kuliner anak muda khusus Generasi Z. Salah satu fenomena yang terlihat menonjol adalah meningkatnya popularitas makanan kukusan atau yang kini lebih dikenal dengan istilah Kuliner Steam Style. Tren ini berkembang seiring hadirnya berbagai pilihan makanan kukusan yang dikemas secara lebih modern dan estetik, sehingga tidak lagi dipandang sebagai makanan tradisional yang monoton, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang dekat dengan nilai-nilai generasi muda, khususnya Gen Z. Mereka adalah kelompok yang dikenal kritis dalam memilih konsumsi, mengikuti perkembangan digital serta mengutamakan estetika visual dalam aktivitas kesehariannya.

Kehadiran berbagai UMKM di Pekanbaru yang menawarkan makanan kukusan dengan cita rasa lokal maupun menu modern semakin menguatkan tren ini. Hidangan seperti steamed vegetable bowl, ubi kukus, kentang kukus, jagung rebus, telur rebus, labu kukus dan pisang kukus dihadirkan kembali melalui kemasan minimalis yang bersih dan ramah sosial media. Makanan kukusan tidak hanya menawarkan sensasi rasa yang lembut dan ringan, tetapi juga memberikan pengalaman visual yang sesuai dengan budaya digital Gen Z yang gemar membagikan aktivitas makan di Instagram atau TikTok. Dengan demikian, makanan kukusan kini bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup yang menggabungkan kesehatan, kenyamanan dan sisi estetika.

Tren ini tidak semata-mata terbentuk secara spontan. Pengaruh algoritma media sosial, kesadaran akan pola hidup sehat, serta meningkatnya minat terhadap slow living mendorong Gen Z untuk mulai melihat makanan kukusan sebagai pilihan yang lebih seimbang. Proses memasaknya yang lembut dan tidak menggunakan minyak berlebih selaras dengan pola konsumsi rendah kalori yang semakin umum di antara anak muda. Selain itu, makanan kukusan dianggap lebih mudah diterima tubuh, tidak membuat begah dan cocok dikonsumsi pada saat menjalani aktivitas padat sepanjang hari.

Fenomena ini makin tampak nyata ketika beberapa konsumen Gen Z di Pekanbaru memberikan pandangan mereka mengenai tren ini. Salah satunya adalah Nadya (21thn), seorang mahasiswa UIN SUSKA RIAU semester 5 yang mulai mengenal makanan kukusan melalui konten TikTok. Ia menuturkan “Awalnya aku coba makanan kukusan gara-gara lihat FYP TikTok, ada orang review makanan sehat yang low calorie tapi tetap enak. Terus aku coba beli ubi dan jagung kukus di salah satu UMKM di tepi jalan dekat kampus. Ternyata rasanya lembut, nggak berminyak dan bikin perut nggak begah. Sekarang jadi menu makan siang favorit aku tau. Selain sehat, tampilannya juga estetik banget, jadi enak difoto buat IG Story. Menurutku makanan kukusan bisa jadi gaya hidup baru anak muda, apalagi kalau dikemas modern seperti sekarang.” Pernyataan Nadya menunjukkan bahwa media sosial dan estetika visual menjadi dua faktor utama yang mendorong anak muda mencoba sekaligus mempertahankan preferensi terhadap makanan kukusan.

Berdasarkan pengalaman konsumen dan perubahan pola konsumsi ini, dapat disimpulkan bahwa makanan kukusan tradisional sedang mengalami revitalisasi melalui inovasi kemasan, penyajian dan pilihan menu. UMKM Pekanbaru berhasil menggabungkan nilai tradisional dengan sentuhan modern yang relevan dengan selera anak muda. Makanan kukusan kini bukan hanya pilihan yang sehat dan praktis, tetapi juga menjadi bagian dari identitas gaya hidup yang mengutamakan kesederhanaan, keseimbangan, serta estetika visual dalam keseharian.

Jika dilihat dari perkembangannya, Kuliner Steam Style memiliki potensi untuk terus berkembang dan berakar kuat di tengah budaya kuliner Gen Z. Selama inovasi dan adaptasi terus berjalan, makanan tradisional akan selalu menemukan ruang baru untuk dihargai dan dinikmati. Fenomena ini membuktikan bahwa tradisi dapat hidup berdampingan dengan modernitas dan bahkan berkembang menjadi tren baru yang merepresentasikan cara anak muda menikmati makanan dengan cara yang lebih sehat, estetik dan bermakna.

 

M. Alif Andika Putra

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Surya
Author: Surya

Redaktur Akta Media

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *