Advertisement

Tiga Kucing Jalanan

AKTAMEDIA.COM, Jakarta. Di tengah ibu kota yang nyaris tak pernah benar-benar terlelap, ada sebuah gang sempit yang terhimpit di antara dua gedung tua dengan cat mengelupas dan dinding yang lembap. Siang hari gang itu nyaris tak terlihat karena bising kendaraan menutup segala suara. Malam hari lampu jalan berkedip lelah, menyisakan cahaya kekuningan yang jatuh ke aspal basah. Di tempat seperti itulah tiga kucing jalanan bertahan hidup, tanpa alamat, tanpa nama, hanya ditandai oleh kebiasaan dan luka masing-masing.

Setiap pagi kucing oren datang lebih dulu. Ia memilih duduk di atas tutup got yang masih menyimpan sisa panas kota. Bulunya kusam dan matanya tenang, terlalu tenang untuk ukuran makhluk yang hidup di jalanan. Ia jarang mengeong dan nyaris tak pernah berebut. Bila orang lewat menatapnya, ia tak lari dan juga tak mendekat. Diam adalah bahasa yang ia pelajari dari kota yang terlalu ramai untuk benar-benar peduli.

Tak lama kemudian kucing hitam muncul dari arah halte. Tubuhnya besar, langkahnya mantap, dan tatapannya selalu curiga. Ada bekas luka di kakinya dan punggungnya yang seolah tak pernah benar-benar sembuh. Ia mengenal kota dengan baik, jam buang sampah, warung yang sering menyisakan lauk, dan tangan-tangan manusia yang mudah mengusir. Dari sanalah sifat agresif dan serakah itu tumbuh. Ia percaya bahwa siapa yang ragu akan kalah dan siapa yang kalah akan kelaparan.

Kucing kecil datang terakhir, biasanya dari balik pagar kos-kosan. Tubuhnya ringan dan geraknya cepat, seakan kota tak pernah mampu menjebaknya. Ia hafal celah sempit dan waktu yang tepat menyeberang jalan. Berbeda dari yang lain, ia tahu kapan harus maju dan kapan harus menunggu. Ia makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang berlebihan, seolah ia paham bahwa hidup tak selalu harus ditimbun untuk esok yang belum tentu.

Hari-hari mereka berjalan seperti itu hingga suatu waktu hujan turun lebih lama dari biasanya. Sejak siang langit gelap dan kota seolah kehilangan ritmenya. Warung kopi tutup lebih awal, aroma makanan menghilang, dan tempat sampah kosong lebih lama. Menjelang sore mereka bertiga berteduh di bawah papan reklame yang miring, mendengar hujan menghantam seng dan aspal tanpa jeda.

Kucing hitam gelisah dan mondar-mandir. Ia mencoba menyeberang jalan namun suara klakson memaksanya kembali. Kucing kecil menggigil tapi matanya tetap awas membaca kemungkinan. Kucing oren duduk diam, memejamkan mata, seperti sedang mengingat sesuatu yang jauh dan samar, mungkin rumah yang tak pernah ia temukan kembali.

Saat malam hampir turun, seorang perempuan berhenti di ujung gang. Bajunya basah dan wajahnya lelah. Ia mengeluarkan sebungkus nasi dari tas plastik, menaruhnya di dekat dinding, lalu pergi tanpa menoleh. Tak ada kata dan tak ada perhatian lebih. Kota memang jarang memberi waktu untuk hal-hal semacam itu.

Kucing hitam bergerak paling cepat. Plastik robek dan nasi tumpah ke genangan air. Ia menggeram, berusaha menguasai semuanya, namun hujan membuat nasi itu bercampur tanah. Kekacauan itu justru membuatnya panik. Di sela-sela keributan, kucing kecil bergerak lincah, mengambil bagian yang masih kering secukupnya. Ia tak memakannya sendiri, melainkan mendorongnya pelan ke arah kucing oren.

Kucing oren membuka mata dan menatapnya sejenak. Ia makan perlahan, tanpa tergesa, seolah setiap suap adalah hal yang patut dihormati. Kucing hitam akhirnya berhenti. Nafasnya berat dan tubuhnya basah. Untuk pertama kalinya ia duduk tanpa merebut apa pun.

Malam itu mereka tidur berdekatan di bawah papan reklame. Lampu kota memantul di genangan air dan membentuk cahaya yang patah-patah. Suara kendaraan masih terdengar, namun di gang sempit itu ada jeda kecil, seolah kota sedang menarik napas.

Hari-hari setelahnya tak banyak berubah. Kota tetap keras dan acuh. Namun ada sesuatu yang bergeser pelan. Kucing hitam tak lagi selalu maju paling depan. Kadang ia menunggu meski matanya tetap waspada. Kucing kecil tetap lincah dan sederhana. Kucing oren tetap pendiam, tetapi sesekali ia menoleh, memastikan dua yang lain masih ada.

Tak ada akhir bahagia yang dramatis di tengah ibu kota. Tak ada rumah baru atau tangan manusia yang menetap. Yang ada hanya tiga kucing jalanan yang belajar bertahan dengan cara berbeda. Di antara beton dan aspal, mereka memahami bahwa hidup tidak selalu soal menang sendiri. Kadang cukup berbagi ruang, berbagi waktu, dan berbagi sisa-sisa harapan agar hari esok masih layak ditunggu.

Akbar Jihad
Author: Akbar Jihad

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang - Pemerhati Hukum, Pendidikan, dan Humaniora

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *