AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU – Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Riau terus berinovasi dalam pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi mahasantrinya. Tidak hanya melalui perkuliahan di dalam kelas, ADI Riau juga menerapkan pola pembelajaran luar ruang (outdoor learning) yang melibatkan interaksi langsung dengan objek studi.
Pada mata kuliah Enterpreneurship misalnya, mahasantri ditugaskan bertemu langsung dengan pelaku usaha, praktisi, dan penggiat UMKM agar mampu menyusun perencanaan bisnis mikro berbasis pengalaman riil dan studi lapangan.
Hal yang sama dilakukan pada mata kuliah Tamadun Melayu, di mana mahasiswa diajak belajar langsung tentang tradisi, sejarah, dan kebudayaan Melayu Riau. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan ialah kunjungan ke Museum Sang Nila Utama, yang dikenal sebagai museum kebudayaan terbesar dan menjadi kebanggaan masyarakat Riau.

Kegiatan tersebut didampingi langsung oleh Fuadi, M.Si, seorang tokoh muda Melayu dan ASN di Pemerintah Provinsi Riau, yang juga menjadi dosen pengampu mata kuliah tersebut.
Kunjungan ini merupakan bagian dari konsep Visiting Lecture, yakni perkuliahan berbasis kunjungan dan interaksi dengan tokoh, lembaga, maupun situs yang relevan dengan materi pembelajaran. Melalui metode ini, ADI Riau menghadirkan pengalaman belajar langsung di lapangan, bertemu ahli, serta melihat objek budaya secara nyata.
“Kunjungan Santri ADI ke Museum Sang Nila Utama diharapkan menambah wawasan terkait Kebudayaan Melayu serta menumbuhkan kebanggaan sebagai anak Melayu. Mereka juga dapat memahami kembali sejarah Riau secara langsung,” jelas Fuadi, M.Si.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasantri ADI Riau Kampus I Sukajadi. Pada tahun akademik 2025/2026, ADI Riau menampung 24 mahasantri yang terbagi pada dua lokasi kampus:
Kampus I
Jl. Cempaka Gang Surya No. 41, Sukajadi – Pekanbaru
Kampus II
Kompleks PPI Almuslimun Sikijang – Kabupaten Pelalawan
ADI Riau merupakan program studi Diploma yang disiapkan sebagai jenjang pendidikan awal bagi calon dai muda dan aktivis dakwah sebelum melanjutkan ke jenjang Strata 1 (S-1) di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir Jakarta.
Mahasantri baik di ADI maupun di STID mendapatkan beasiswa penuh hingga selesai pendidikan. Operasional pendidikan ini dibiayai dari penyaluran dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang dihimpun melalui Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Dewan Dakwah sebagai bagian dari komitmen dakwah dan pengaderan dai nusantara.
















Leave a Reply