Advertisement

Mindset TikTok dan Strategi Self-branding Gen Z di Dunia Digital

AKTAMEDIA.COM, Pekanbaru –  TikTok telah menjadi ruang baru tempat generasi muda membangun jati diri. Di platform yang serba cepat ini, kreativitas, hiburan, dan identitas saling bercampur. Tidak sekedar tempat berbagi video, TikTok kini menjadi ajang bagi Gen Z untuk menciptakan “versi terbaik” dari diri mereka – sebuah proses yang dikenal sebagai self-branding.

Fenomena ini tumbuh dari cara berpikir khas pengguna muda yang sering disebut Main Character Energy – mindset bahwa setiap orang adalah “tokoh utama” dalam hidupnya sendiri. Pandangan ini mendorong banyak anak muda untuk menampilkan diri secaraa percaya diri dan menarik di dunia maya. Tapi di balik tampilannya yang aesthetic, fenomena ini menyimpan dinamika social yang kompleks.

Menurut Kaye dan Quinn (2022) dalam media sosial seperti TikTok memberi kesempatan bagi orang untuk membentuk dan mengatur bagaimana mereka terlihat atau dikenal oleh orang lain. Setiap unggahan, filter dan caption bukan lagi sekedar ekspresi spontan, tapi bagian dari strategi citra. Bagi Gen Z, membentuk personal branding berarti menampilkan keunikan diri agar diakui oleh komunitas digitalnya.

 

TikTok menyediakan ruang yang ideal untuk hal ini. Algoritmanya yang cepat menangkap trend memberi kesempatan pada siapa saja untuk viral. Gen Z memanfaatkannya dengan membuat konten yang menggambarkan kepribadian, gaya hidup, atau nilai yang mereka yakini. Di titik inilah, mindset TikTok bukan lagi sekadar hiburan  melainkan alat untuk membangun identitas sosial dan bahkan karier digital.

Barker (2023) dalam New Media & Society menjelaskan bahwa fenomena ini disebut “aesthetic individualism”, yaitu dorongan anak muda untuk menunjukkan diri mereka secara autentik, tetapi tetap dengan tampilan yang menarik dan terkonsep. Dengan kata lain, Gen Z ingin terlihat alami dan jujur, namun tetap memperhatikan estetika dan kesan visual agar tampilannya tetap keren di dunia digital.

Video seperti “daily vlog” atau “get ready with me” bisa dianggap sebagai bentuk soft branding yaitu cara halus untuk memperlihatkan gaya hidup, kedisiplinan, atau kepribadian unik seseorang. Walaupun terlihat spontan, sebenarnya banyak konten tersebut direncanakan dengan matang agar sesuai dengan citra diri yang ingin ditampilkan dimedia social.

Jadi kesan “autentik” yang muncul di TikTok sering kali bukan sesuatu yang benar-benar alami, melainkan hasil dari strategi yang dipikirkan. Di platform ini, kemampuan menampilkan diri dengan cara yang menarik menjadi semacam “mata uang sosial” semakin menarik seseorang mengemas kehidupannya, semakin besar peluangnya untuk mendapat perhatian dan pengakuan dari audiens.

Perbedaan mendasar antara ekspresi diri dan self-branding ada pada tujuannya. Ekspresi diri biasanya dilakukan untuk membagikan perasaan atau pandangan pribadi secara spontan, sedangkan self-branding lebih terarah karena bertujuan membentuk citra diri yang konsisten dan menarik di mata publik.

Bagi Gen Z yang sudah terbiasa dengan konsep personal brand sejak usia muda, TikTok berfungsi layaknya portofolio digital yaitu tempat mereka menampilkan minat, kemampuan, dan gaya hidup yang mencerminkan identitas mereka. Seperti dijelaskan oleh Lim (2023), banyak anak muda kini menggunakan tren dan suara viral di TikTok sebagai strategi pemasaran diri, baik untuk mendapatkan pengakuan sosial maupun membuka peluang karier di dunia profesional.

Namun, mindset ini juga memiliki sisi bayangan. Dalam upaya menjaga citra, banyak anak muda merasa perlu selalu tampil menarik dan produktif, hingga terjebak dalam budaya perbandingan yang menimbulkan tekanan psikologis. Meski begitu, di balik dinamika tersebut, kemampuan Gen Z dalam membaca tren, mengatur persona, dan memahami audiens menunjukkan tingkat literasi digital yang tinggi. Mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa kehidupan daring bukan sekadar pelengkap, melainkan ruang nyata bagi pembentukan identitas dan relasi sosial di era digital, sebuah cerminan bahwa generasi ini tidak hanya menjadi pengguna media, tetapi juga pengarah arus budaya yang membentuk zamannya.

 

Oleh Karimah Yul Safitri – Mahasiswi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau

 

Surya
Author: Surya

Redaktur Akta Media

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *