Advertisement

Generasi Sanwich : Hidup Di Tengah Tekanan Ekonomi Dua Arah

AKTAMEDIA.COM, Pekanbaru – Pernahkah kamu merasa hidupmu berjalan hanya untuk bekerja, lalu uang hasil kerja itu langsung habis sebelum sempat dinikmati? Kalu iya, kamu mungkin bagian dari kelompok besar yang disebut Generasi Sandwich. di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, muncul istilah yang semakin terasa : Generasi Sandwich. Generasi sandwich adalah sebutan untuk orang-orang yang terjepit di antara dua tanggung jawab besar secara finansial yaitu menanggung kebutuhan orang tua di atas mereka dan anak-anak di bawah mereka pada saat yang sama. Istilah “sandwich” di pakai  karena posisi mereka seperti isi di tengah roti (tertekan dari dua sisi). Biasanya, generasi ini berada di usia produktif (sekitar 25-45 tahun). Mereka sudah bekerja dan punya penghasilan, tapi uang yang di dapat harus di bagi untuk : Membantu biaya hidup orang tua yang sudah tidak bekerja, dan membiayai kebutuhan keluarga sendiri seperti anak, rumah dan pendidikan. Antara Tanggung Jawab dan Tekanan Hidup

generasi sandwich di Indonesia, terutama dari generasi Z, dipaksa untuk berpikir lebih dewasa dan mengambil tanggung jawab keuangan lebih cepat daripada yang seharusnya. Survei terbaru oleh data indonesia pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 46,3% dari generasi z di Indonesia adalah bagian dari generasi sandwich, terutama di kota-kota besar dimana biaya hidup tinggi seperti Jakarta, Surabaya, Pekanbaru. Namun, di daerah pun tidak jauh berbeda, karena budaya saling menanggung masih kuat, dan banyak orang tua belum memiliki tabungan hari tua yang cukup. Fenomena ini mencerminkan pergeseran sosial yang signifikan, dimana tanggung jawab keuangan lebih banyak di bebankan pada anak mu da. Banyak anak muda saat ini berjuang keras tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk membantu keluarga. Di umur yang seharusnya bisa berkonsentrasi merencanakan masa depan, merka malah harus memikirkan biaya pendidkan adik, kebutuhan orang tua, cicilan rumah, hingga kebutuhan anak. “capek, namun tidak bisa berhenti,” begitu pengakuan banyak orang di media sosial.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga tergambar jelas dalam film Home Sweet Loan karya Visinema Pictures. Film ini menceritakan tentang Kaluna, seorang “Generasi Sandwich” yang terjebak antara tanggung jawab merawat orang tua dan kebutuhan masa depannya sendiri. Ia harus bekerja keras untuk membiayai keluarga sekaligus mencoba mewujudkan impiannya mwmiliki rumah, namun beban finansial dan tuntunan dari keluarga membuatnya merasa tertekan dan impiannya semakin sulit tercapai.Menghidupi orang tua jelas merupakan wujud pengabdian dan kasih sayang. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam banyak situasi, tekanan keuangan membuat kasih sayang berubah menjadi beban pikiran. Sebagian orang merasa tidak enak jika dapat membantu orang tua secara maksimal, sementara yang lain merasa kehilangan arah hidup karena semua pendapatannya habis untuk kebutuhan keluarga. Keadaan ini menimbulkan perasaan “terperangkap” tidak bisa bebas merencanakan masa depan, tetapi juga tidak sanggup melepaskan tanggung jawab yang sudah ada sejak kecil. Mereka ingin berbakti, tetapi juga menginginkan kehidupan yang damai. Banyak dari mereka yang hidup seperti mesin, bangun, kerja, kirim uang, ulangi lagi. Kehidupan yang terus berputar tanpa jeda, tanpa waktu untuk diri sendiri.

 

Sebaliknya, generasi sandwich sering kali merupakan kelompok yang paling rawan mengalami kelelahan mental (burnout). Bekerja keras dari pagi sampai malam untuk memenuhi dua sisi tanggung jawab membuat mereka kehilangan kesempatan untuk diri sendiri. Istirahat di pandang sebagai kemewahan, dan perasaan bersalah muncul setiap kali berusaha untuk beristrirahat. Akibatnya, stres yang berkepanjangan, mudah marah, sampai kehilangan arti kerja menjadi hal yang sering terjadi. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan adanya peningkatan gangguan kecemasan pada usia 25-40 tahun akibat stres ekonomi keluarga. Kondisi ini bukan salah siapa-siapa, banyak orang tua dulu hidup di zaman yang sulit, dimana menabung atau investasi bukan prioritas karena semua uang habis untuk bertahan hidup. Kini, ketika mereka menua, beban itu berpindah ke pundak generasi muda yang hidup di tengah ekonomi yang semakin berat.

Pertanyaan yang kian sering terdengar adalah : sampai kapan generasi ini harus menanggung segala beban sendirian? Budaya timur yang mengedepankan bakti anak sering kali menjadikan beban finansial ini terasa wajib, meskipun tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi, sebaliknya, kondisi sosial dan ekonomi yang tidak kuat menjadikan beban ini tidak ada solusi. Beberapa anak muda bahkan bekerja dua pekerjaan atau mengambil pekerjaan tambahan hanya agar bisa menutupi semua kebutuhan keluarga. Namun, dibalik itu semua, ada rasa bangga yang tidak bisa disangkal. Bangga karena masih bisa membantu, meski kadang harus menekan diri sendiri. Tekanan pada generasi sandwich bukan sekedar isu pribadi, melainkan juga persoalan struktural terkait cara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menciptakan sistem yang adil untuk generasi yang aktif bekerja. Contohnya, dengan memberikan akses perumahan yang terjangkau, asuransi untuk keluarga, pendidikan tentang keuangan, serta sistem pension yang lebih baik bagi lansia agar tidak sepenuhnya tergantung pada anak-anak.

Selanjutnya, apa yang dapat di lakukan untuk bertahan dalam keadaan ini ? Meskipun sulit, beberapa langkah kecil dapat memberikan bantuan yang bisa dijadikan titik mulai. Pertama, mempelajari cara menetapkan batas (boundaries) antara tanggung jawab dan kapasitas adalah hal yang penting. Pelajari mengenaai batasan kemampuan diri, menjadi berbakti kepada orang tua tidak harus mengorbankan seluruh masa depan.terkadang tindakan terbaik untuk keluarga adalah menjaga kesehatan diri sendiri agar dapat bertahan dalam waktu lama. Kedua, Berkomunikasi dengan jujur kepada keluarga mengenai situasi keuangan juga bukan tindakan durhaka, melainkan bentuk kejujuran yang sehat. Ketiga, temukan waktu untuk diri sendiri. Waktu istirahat bukanlah sesuatu yang mewah, melainkan sesuatu keperluan. Selain itu, memperoleh dukungan emosional baik dari pasangan, teman, atau komunitas dapat menghindarkan perasaan sendirian saat menghadapi tekanan ini. Karena faktanya jelas, kita tidak dapat membantu orag lain jika kita sendiri sudah hancur.

Generasi sandwich adalah simbol dari kasih sayang, tanggung jawab, dan ketahanan. Namun, mereka juga manusia yang memerlukan ruang untuk hidup, bukan sekedar bertahan. dan mungkin sudah saatnya, masyarakat mulai lebih menyadari bahwa berbakti tidak berarti mengorbankan jati diri sendiri. Karena pada akhirnya, generasi sandwich bukan hanya cerita tentang tekanan hidup, tapi juga tentang cinta yang bertahan di tengah segala keterbatasan. Tentang manusia yang terus berjuang, bukkan karena terpaksa, tapi karena ingin memastikan bahwa orang-orang yang mereka cintai tetap baik-baik saja.

Penulis : Syahwa Jovena (NIM : 12340324486)

Surya
Author: Surya

Redaktur Akta Media

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *