AKTAMEDIA.COM, Pekanbaru – Di tengah maraknya budaya nongkrong di kafe modern, muncul gelombang baru di Pekanbaru makin banyak anak muda terjun menjadi penjual kopi keliling. Mereka hadir di berbagai titik keramaian seperti: jalan besar pekanbaru, kawasan kampus serta ruang publik lain yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Dengan konsep yang sederhana bersenjatakan gerobak kecil, mereka menawarkan beragam menu kopi kekinian seperti: espresso, cappuccino, americano, matcha, tubruk aren, milo, thai tea, hingga kopi susu gula aren, dll, yang tersedia dalam versi panas maupun dingin. Harganya pun terjangkau oleh masyarakat umum maupun mahasiswa yaitu sekitar Rp8.000 hingga Rp12.000. Justru kesederhanaan inilah yang membuat usaha mereka semakin dekat dengan pembeli.
Dulu, pekerjaan berjualan identik dengan profesi “kelas bawah”. Namun kini, stigma tersebut mulai memudar. Para penjual muda tampil rapi, santai, dan penuh kreativitas. Mereka membawa semangat baru: jualan kopi dengan gaya.
Menariknya, banyak di antara mereka yang sebelumnya bekerja di kantor atau masih berstatus mahasiswa. Sebagian memilih berjualan kopi karena ingin mengelola waktu dengan lebih fleksibel. Yang lain melihat peluang ekonomi yang menjanjikan: modal kecil, potensi keuntungan stabil, dan pasar yang luas.
Budaya minum kopi di kalangan anak muda ikut menjadi pendorong utama berkembangnya tren ini. Kopi kini menjadi simbol pertemanan, kreativitas, dan gaya hidup. Dengan sistem keliling, penjual dapat berpindah tempat sesuai keramaian, sehingga peluang penjualan lebih besar.

Dari sisi pelanggan, membeli kopi keliling memberikan pengalaman yang lebih hangat dan personal. Proses penyajian yang sederhana, interaksi ringan, serta harga yang bersahabat membuat usaha ini semakin diminati. Banyak pelanggan kemudian membagikan pengalaman mereka di media sosial, menyebabkan popularitas penjual meningkat secara organik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda Pekanbaru tidak lagi terpaku pada pekerjaan yang berstatus tinggi. Mereka berani mencoba hal baru, bekerja mandiri, dan menciptakan peluang ekonomi lokal. Dalam skala kecil, gerakan ini turut menghidupkan usaha mikro dan membangun ekosistem ekonomi kreatif di kota.
Tak menutup kemungkinan, kehadiran penjual gerobak kopi keliling ini akan berkembang menjadi komunitas besar, bahkan melahirkan pelaku usaha yang lebih profesional di masa depan. Ketika kreativitas dan keberanian bertemu, peluang terlahir tanpa batas.
Kehadiran penjual kopi keliling di Pekanbaru menjadi bukti bahwa anak muda semakin realistis, adaptif, dan tidak gengsi untuk memulai usaha dari nol. Kopi keliling bukan hanya soal minuman, tetapi juga simbol semangat berkarya dan kemandirian. Fenomena ini bukan hanya menghadirkan warna baru di dunia kuliner lokal, tetapi juga memperlihatkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di pinggir jalan.
Penulis Artikel: Rahma Aulia – Mahasiswa UIN SUSKA
















Leave a Reply