AKTAMEDIA.COM, Pekanbaru – Dalam beberapa pekan terakhir, suhu udara di wilayah Riau, terutama di Kota Pekanbaru, meningkat signifikan hingga mencapai 36-37 derajat Celcius. Kondisi panas ekstrem ini dirasakan oleh seluruhh lapisan Masyarakat, mulai dari pelajar, pekerja lapangan, hingga pedangan kecil. Berdasarkan data dari BMKG, cuaca panas tersebut disebabkan oleh minimnya tutupan awan dan dominasi udara kering yang membuat sinar matahari langsung menyentuh permukaan tanah. Fenomena ini terjadi sejak awal Oktober 2025 dan diperkirakan masih akan berlangsung jingga awal November sekarang ini.
Cuaca Terik di siang hari membuat banyak warga memilih berdiam di rumah atau tempat berpendingin udara. Bagi pengendara motor di Pekanbaru, panasnya jalan raya terasa seperti uap dari kompor terbuka. “Kalau siang panas banget, kadang kepala langsung pusing,” ujar Lestari, seorang mahasiswa UIN Suska Riau, Kamis (6 November 2025). Ia mengaku semenjak panas ekstrem di kota Pekanbaru ini, ia merutinkan untuk selalu mengkonsumsi air putih baik di rumah maupun di luar rumah.

BMKG Stasiun Pekanbaru menjelaskan bahwa suhu panas beberapa hari terakhir dipicu oleh posisi semu matahari yanh sedang berada di sekitar wilayah Sumatra bagian tengaj. Dalam keterangan resminya, BMKG menyebut bahwa periode ini merupakan masa peralihan musim, Ketika udara cenderung lebih kering sehingga radiasi matahari mencapai permukaan dengan lebih intens. BMKG juga mengimbau Masyarakat untuk menjaga asupan cairan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, dan menggunakan pelindung diri seperti topi, payung, atau sunscreen untuk menghindari paparan berlebih.
Panas ekstrem ini turut memengaruhi aktivitas ekonomi Masyarakat. Berdasarkan laporan Riau Online (2025), pedagang minuman dan es buah di Kawasan Tuanku Tambusai serta Panam mengalami peningkatan penjualan yang signifikan. Masyarakat cenderung membeli minuman dingin dan es untuk meredakan rasa panas. Namun di sisi lain, pekerja lapangan seperti buruh dan pengemudi ojek online mengalami tantangan besar dalam menjalankan rutinitas di Tengah suhu yang menyengat.
Sementara itu, penuturan dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru (2025) mengingatkan bahwa cuaca panas dapat memicu resiko dehidrasi, kelelahan, dan gangguan kulit. Dalam unggahan di laman resminya, Dinkes menghimbau Masyarakat untuk tetap mengenakan pakaian longgar dan warna terang, serta memperbanyak konsumsi buah dan air putih. Meski begitu, semangat Masyarakat Riau tidak surut. Aktivitas belajar, bekerja, dan berdagang tetap berjalan, hanya dengan sedikit penyesuaian waktu dan cara agar tetap aman di bawah terik matahari.
Meski panas menyengat, Masyarakat Riau menunjukkan daya tahan dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Dari pedagang kecil hingga mahasiswa, semua berupaya menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang tak bisa dihindari. Cuaca ekstrem ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi isu jauh di luar negeri, melainkan nyata di depan mata kita sendiri.
Penulis: Zaara Ayu Syakila – Mahasiswa Fakultas Dakwah dan komunikasi
















Leave a Reply