AKTAMEDIA.COM, PADANG — Organisasi Ikatan Keluarga Kacang (IKKA) periode 2025-2030 yang akan dilantik pada 31 Agustus 2025 di Hotel Padang, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, mengusung visi strategis “Memupuk Rasa Berdunsanak, Bakampuang Untuk Kemajuan Nagari” dengan tiga misi utama: menjadi organisasi penghubung ranah dan rantau, mengintegrasikan pendidikan, agama dan budaya dalam pengembangan potensi nagari, serta meningkatkan produktivitas untuk menunjang perekonomian kampung halaman. Nagari yang dimaksud adalah Nagari Kacang, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Visi dan misi tersebut diperoleh penulis melalui wawancara tertulis dengan Ketua Umum Pengurus IKKA Pusat Periode 2025-2030, dr. H. Erwan Bardam, SpB, MARS, FICS, FINACS.
Dalam konteks pembangunan pedesaan kontemporer, modal sosial (social capital – jaringan hubungan sosial yang menghasilkan kepercayaan dan kerjasama dalam masyarakat) telah diakui secara luas sebagai faktor kunci yang dapat mengisi kesenjangan antara sumber daya fisik dan kinerja aksi kolektif (collective action – tindakan bersama untuk mencapai tujuan bersama) dalam komunitas (Wiesinger, 2007; Rivera et al., 2019). Organisasi ikatan keluarga seperti IKKA merepresentasikan bentuk konkret dari modal sosial yang menghubungkan komunitas diaspora dengan kampung halaman mereka, menciptakan jembatan antara peluang ekonomi perkotaan dan kebutuhan pembangunan pedesaan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa modal sosial tidak hanya melengkapi kekurangan pasar formal seperti kredit dan informasi, tetapi juga dapat memicu perubahan dalam struktur ekonomi lokal (Rivera et al., 2019; Suhaeb et al., 2023).
Misi pertama IKKA sebagai “organisasi penghubung ranah dan rantau” mencerminkan konsep modal sosial penghubung (bridging social capital – jaringan sosial yang menghubungkan kelompok berbeda dalam masyarakat) yang telah terbukti efektif dalam revitalisasi pedesaan. Studi empiris di berbagai negara menunjukkan bahwa hubungan antara migran perkotaan dengan komunitas asal mereka dapat menciptakan foundation yang kuat untuk pembangunan komunitas (Wiesinger, 2007). Dalam konteks Indonesia, fenomena “keterhubungan komunitas” (community connection – ikatan emosional dan identitas dengan komunitas asal) di kalangan perantau Minangkabau menunjukkan bagaimana ikatan emosional dan identitas dengan komunitas asal dapat dimobilisasi untuk pembangunan pedesaan. IKKA, dengan jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia, memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan transfer pengetahuan, teknologi, dan modal finansial dari daerah tujuan migrasi ke nagari asal.
Integrasi pendidikan, agama, dan budaya yang menjadi misi kedua IKKA sejalan dengan temuan penelitian tentang pentingnya preservasi (preservation – pelestarian) warisan budaya dalam pembangunan pedesaan berkelanjutan (sustainable rural development – pembangunan pedesaan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan generasi mendatang). Bansal et al. (2024) menekankan bahwa pelestarian warisan budaya komunitas adat (indigenous communities – masyarakat asli dengan budaya dan tradisi turun temurun) tidak hanya penting untuk identitas komunitas, tetapi juga sebagai fondasi (foundation – dasar atau landasan) untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dalam kasus Minangkabau, sistem nilai adat, praktik keagamaan, dan struktur sosial nagari memiliki ketahanan (resilience – kemampuan untuk pulih dan beradaptasi dari tekanan atau perubahan) yang telah teruji selama berabad-abad. Penelitian di Anhui, China, membuktikan bahwa pendekatan multisektoral (multisectoral approach – pendekatan yang melibatkan berbagai sektor) yang mengintegrasikan preservasi warisan budaya dengan pembangunan infrastruktur (infrastructure development – pembangunan sarana dan prasarana) dan peningkatan kapasitas (capacity building – pengembangan kemampuan dan keterampilan) menghasilkan peningkatan pendapatan per kapita (per capita income – pendapatan rata-rata per orang) sebesar 12.4% per tahun (World Bank, 2021).
Misi ketiga tentang peningkatan produktivitas ekonomi kampung halaman mendapat dukungan kuat dari literatur tentang kerangka kerja modal komunitas (community capital framework – kerangka untuk mengukur berbagai jenis modal dalam komunitas). Penelitian internasional menunjukkan bahwa modal sosial memiliki nilai yang signifikan di komunitas pedesaan dalam mendorong penciptaan lapangan kerja dan pembangunan ekonomi (Rivera et al., 2019). Temuan ini relevan dengan konteks IKKA, di mana jaringan sosial yang kuat antara perantau dan komunitas asal dapat menciptakan keterkaitan ke belakang dan ke depan (backward dan forward linkages – hubungan ekonomi yang saling mendukung antar sektor) yang mendorong ekonomi lokal. Pelantikan pengurus IKKA periode 2025-2030 yang dipimpin oleh dr. H. Erwan Bardam, SpB, MARS, FICS, FINACS, menunjukkan komitmen organisasi untuk melibatkan profesional berpengalaman dalam mengakselerasi pembangunan nagari.
Keberhasilan organisasi ikatan keluarga dalam pembangunan pedesaan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk mengaktifkan berbagai dimensi modal sosial: kepercayaan (trust – keyakinan pada integritas dan kemampuan orang lain), kerjasama (cooperation – bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama), rasa kebersamaan (sense of community – perasaan memiliki dan terikat dengan komunitas), dan kultur/tradisi (culture/tradition – nilai dan praktik yang diwariskan turun temurun) (Rivera et al., 2019). Dalam konteks IKKA, nilai-nilai Minangkabau seperti gotong royong, musyawarah mufakat, dan filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menyediakan foundation yang solid untuk membangun kepercayaan dan kerjasama. Penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa organisasi berbasis komunitas (community-based organizations – organisasi yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat lokal) yang mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan pendekatan pembangunan modern cenderung lebih berkelanjutan (sustainable – dapat bertahan dalam jangka panjang) dan efektif dalam mencapai tujuan pembangunan (Bansal et al., 2024).
Namun demikian, implementasi visi IKKA menghadapi tantangan yang perlu diantisipasi. Penelitian tentang marginalisasi pedesaan menunjukkan bahwa modal sosial bukanlah solusi universal dan dapat mengalami erosi dalam menghadapi perubahan struktural ekonomi dan sosial (Wiesinger, 2007). Globalisasi (globalization – proses integrasi ekonomi, politik, dan budaya secara worldwide), urbanisasi (urbanization – perpindahan penduduk dari desa ke kota), dan perubahan demografi (demographic changes – perubahan komposisi penduduk) dapat melemahkan ikatan tradisional dan mengurangi efektivitas organisasi berbasis komunitas. Oleh karena itu, IKKA perlu mengadopsi strategi adaptif (adaptive strategy – strategi yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan) yang dapat merespons perubahan lingkungan eksternal sambil mempertahankan nilai-nilai inti yang menjadi kekuatan organisasi.
Untuk mengoptimalkan dampak (impact – pengaruh atau efek yang dihasilkan) pembangunan, IKKA perlu mengimplementasikan pendekatan yang terstruktur dan terukur. Pertama, pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi (monitoring and evaluation – sistem pengawasan dan penilaian kinerja) yang dapat mengukur kemajuan (progress – perkembangan menuju tujuan) terhadap tiga misi organisasi. Kedua, penguatan pembangunan kapasitas (capacity building – proses mengembangkan kemampuan individu dan organisasi) bagi pengurus di berbagai tingkatan untuk memastikan implementasi (implementation – pelaksanaan) program yang efektif. Ketiga, pengembangan kemitraan strategis (strategic partnerships – kerjasama jangka panjang yang saling menguntungkan) dengan pemerintah daerah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil (civil society organizations – organisasi non-pemerintah yang bergerak untuk kepentingan publik) lainnya untuk memperluas dampak dan keberlanjutan (sustainability – kemampuan mempertahankan hasil dalam jangka panjang) program. Keempat, pemanfaatan teknologi digital (digital technology – teknologi berbasis komputer dan internet) untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antar cabang IKKA di seluruh Indonesia.
Modal sosial yang dimiliki IKKA melalui jaringan perantau Minangkabau merupakan aset berharga yang dapat dioptimalkan untuk pembangunan nagari. Dengan pendekatan yang tepat dan komitmen yang konsisten dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders – pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam suatu program atau kegiatan), visi “Memupuk Rasa Berdunsanak, Bakampuang Untuk Kemajuan Nagari” dapat menjadi katalis (catalyst – faktor pemicu perubahan) transformasi sosial ekonomi yang berkelanjutan. Keberhasilan IKKA dalam mengimplementasikan visinya tidak hanya akan memberikan manfaat bagi komunitas Kacang, tetapi juga dapat menjadi model replikasi (replication model – contoh yang dapat ditiru) bagi organisasi ikatan keluarga lainnya dalam mendukung pembangunan pedesaan di Indonesia. Semoga.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana S3 Prodi Hukum Keluarga Islam UIN Suska Riau
Daftar Pustaka
Bansal, P., Garg, I., & Sharma, G. D. (2024). Indigenous communities and sustainable development: A review and research agenda. Global Business and Organizational Excellence, 43(2), 45-62. https://doi.org/10.1002/joe.22237
Rivera, M., Knickel, K., Díaz-Puente, J. M., & Afonso, A. (2019). The role of social capital in agricultural and rural development: Lessons learnt from case studies in seven countries. Sociologia Ruralis, 59(1), 66-91. https://doi.org/10.1111/soru.12218
Suhaeb, F. W., & Kaseng, E. S. (2023). Contribution of the role of social capital in the development of rural communities. Social Landscape Journal, 4(1), 1-12. https://doi.org/10.56680/slj.v4i1.43905
Wiesinger, G. (2007). The importance of social capital in rural development, networking and decision-making in rural areas. Journal of Alpine Research, 95(4), 43-56. https://doi.org/10.4000/rga.354
World Bank. (2021). Integrating rural economic development with cultural heritage conservation in China. World Bank Group. Retrieved from https://www.worldbank.org/en/results/2021/04/01/integrating-rural-economic-development-with-cultural-heritage-conservation-in-china
















Leave a Reply