AKTAMEDIA.COM, PEKANBARU — Ketangguhan mental menjadi kebutuhan yang semakin mendesak dalam era modern yang dipenuhi ketidakpastian dan tekanan psikologis tinggi. Dua tradisi pemikiran klasik dari era dan geografis berbeda, yakni filosofi (filsafat) Stoik Epictetus (55-135 M) dan tasawuf Ibn Atha’illah As-Sakandari (1250-1309 M), menawarkan pendekatan yang mengejutkan serupa: membangun resiliensi (ketangguhan/daya tahan) melalui latihan progresif (bertahap/berkembang) yang dimulai dari hal-hal kecil sehari-hari.
Penelitian terkini dalam psikologi positif menunjukkan bahwa ketangguhan mental (psychological resilience/daya tahan psikologis) tidak lahir secara instan, melainkan terbentuk melalui proses latihan bertahap yang konsisten (Oh et al., 2022). Epictetus dalam karya Discourses-nya menekankan pentingnya “berlatih dalam hal-hal kecil sebelum menghadapi yang besar” sebagai fondasi pembentukan karakter stoik. Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam mengajarkan konsep riyadhah (latihan spiritual/olah batin) yang dimulai dari pengendalian diri dalam perkara-perkara remeh sebagai persiapan menghadapi ujian yang lebih besar (Irawan et al., 2021).
Kedua pemikir menunjukkan kesamaan fundamental (mendasar) dalam pendekatan mereka berdasarkan analisis komparatif. Pertama, keduanya mempraktikkan gradualisme dalam pembentukan karakter (pembentukan bertahap). Epictetus mengajarkan bahwa kekuatan jiwa harus dilatih secara bertahap, layaknya atlet yang tidak langsung bertanding di olimpiade tanpa latihan bertahun-tahun. Ibn Atha’illah menekankan bahwa suluk (perjalanan spiritual/jalan menuju Allah) harus dimulai dari mujāhadah (perjuangan melawan hawa nafsu) dalam hal-hal kecil seperti kejujuran dalam perkataan dan pengendalian amarah dalam situasi ringan (Kaya et al., 2022).
Keduanya mengembangkan teori latihan mikro untuk ketangguhan makro sebagai pendekatan kedua. Tradisi Stoik menerapkan latihan harian seperti premeditatio malorum (perenungan hal-hal buruk/latihan menghadapi kemungkinan terburuk) dan refleksi malam sebagai “gimnasium mental” untuk mempersiapkan diri menghadapi adversitas (kesulitan/tantangan hidup) sesungguhnya. Ibn Atha’illah mengajarkan praktik serupa melalui murāqabah (pengawasan diri/kontrol batin) dan muhāsabah (introspeksi/evaluasi diri) yang dilakukan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari untuk membangun kesadaran spiritual yang mendalam (Lomas et al., 2021).
Studi empiris (berdasarkan pengalaman/data) modern mendukung efektivitas pendekatan ini dengan bukti kuat. Meta-analisis (analisis gabungan) Kaya et al. (2022) terhadap 20 studi yang melibatkan mahasiswa menunjukkan korelasi signifikan antara mindfulness (kesadaran penuh/perhatian sadar) dan resilience (ketangguhan/daya tahan) dengan effect size (besaran efek/tingkat pengaruh) moderat (r = 0.465). Penelitian longitudinal (penelitian jangka panjang) Oh et al. (2022) menemukan bahwa 4 minggu latihan mindfulness terbimbing pada generasi milenial (generasi kelahiran 1981-1996) menghasilkan peningkatan signifikan dalam psychological well-being (kesejahteraan psikologis) dan resilience. Studi ini mengkonfirmasi bahwa latihan bertahap dalam mindfulness dapat meningkatkan kemampuan adaptasi dalam menghadapi adversitas (kesulitan/tantangan hidup) (Stapleton et al., 2023).
Perbedaan fundamental (mendasar) terdapat dalam orientasi akhir kedua pendekatan meskipun demikian. Stoikisme Epictetus bertujuan mencapai ataraxia (ketenangan jiwa/ketentraman batin) melalui pengendalian total atas persepsi dan respon terhadap stimulus eksternal (rangsangan dari luar), dengan fokus pada kebajikan sebagai satu-satunya kebaikan sejati. Tasawuf Ibn Atha’illah berorientasi pada fanā’ (peleburan diri/fana dalam Allah) dalam kesadaran ketuhanan, di mana latihan bertahap dimaksudkan untuk membersihkan jiwa (tazkiyah/penyucian jiwa) agar mampu menerima tajallī (manifestasi ilahi/penampakan Allah) (Irawan et al., 2021).
Kedua pendekatan menunjukkan relevansi yang sangat signifikan terhadap krisis psikologis kontemporer (masa kini). Pendekatan latihan progresif (bertahap/berkembang) ini menawarkan solusi praktis yang dapat diintegrasikan dalam program character education (pendidikan karakter) dan resilience training (pelatihan ketangguhan mental) dalam konteks mental health crisis (krisis kesehatan mental) yang melanda generasi milenial dan Gen-Z (generasi kelahiran 1997-2012). Systematic review (tinjauan sistematis) Lomas et al. (2021) terhadap 21 studi mindfulness-based positive psychology interventions (intervensi psikologi positif berbasis kesadaran penuh) menunjukkan efektivitas signifikan dalam meningkatkan eudaimonia (kesejahteraan eudaimonik/kebermakaan hidup), hedonia (kesejahteraan hedonik/kebahagiaan), dan variabel positif lainnya seperti resilience dan compassion (belas kasih).
Implementasi praktis dapat dilakukan melalui pengembangan kurikulum hybrid (terpadu) yang mengintegrasikan teknik-teknik Stoik seperti dichotomy of control (pemisahan antara yang dapat dan tidak dapat dikendalikan), negative visualization (visualisasi negatif/perenungan kemungkinan buruk), dan view from above (pandangan dari atas/perspektif kosmik) dengan praktik tasawuf seperti dhikr (zikir/mengingat Allah), muraqabah, dan riyadhah. Pendekatan ini dapat diterapkan dalam setting (lingkungan/konteks) pendidikan formal maupun program pengembangan diri di lingkungan kerja dengan adaptasi sesuai konteks budaya dan nilai-nilai lokal (Hsieh & Li, 2024).
Kesimpulannya, filosofi (filsafat) latihan diri Epictetus dan Ibn Atha’illah As-Sakandari menunjukkan konvergensi (pertemuan/kesamaan arah) yang menakjubkan dalam prinsip fundamental (mendasar) meskipun berasal dari tradisi dan konteks historis yang berbeda: ketangguhan sejati dibangun melalui konsistensi dalam hal-hal kecil, bukan melalui transformasi instan. Kedua pemikir ini mengingatkan kita bahwa excellence of character (keunggulan karakter) memerlukan deliberate practice (latihan yang disengaja/terstruktur) yang dilakukan secara berkelanjutan dalam era yang ditandai oleh pencarian solusi cepat (quick fixes/solusi instan). Integrasi wisdom (kebijaksanaan) klasik ini dengan penelitian psikologi kontemporer (masa kini) dapat menjadi foundation (fondasi) untuk pengembangan program pembentukan karakter yang lebih efektif dan sustainable (berkelanjutan) di abad ke-21.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana S3 prodi Hukum Keluarga Islamk UIN Suska Riau
Daftar Pustaka
Hsieh, C. C., & Li, S. (2024). A bibliometrics review of the journal mindfulness: Science mapping the literature from 2012 to 2022. Frontiers in Psychology, 15, 1378143. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1378143
Irawan, B., Nasution, I. F. A., & Coleman, H. (2021). Applying Ibn ʿArabī’s concept of tajallī: A Sufi approach to environmental ethics. Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism, 10(1), 21-36. https://doi.org/10.21580/tos.v10i1.7204
Kaya, C., Hermans, L., Erden, S., Hiçdurmaz, D., & İnci, F. (2022). The association between mindfulness and resilience among university students: A meta-analysis. Sustainability, 14(16), 10405. https://doi.org/10.3390/su141610405
Lomas, T., Medina, J. C., Ivtzan, I., Rupprecht, S., & Eiroa-Orosa, F. J. (2021). Mindfulness-based positive psychology interventions: A systematic review. BMC Psychology, 9(1), 132. https://doi.org/10.1186/s40359-021-00618-2
Oh, V. K. S., Sarwar, A., & Pervez, N. (2022). The study of mindfulness as an intervening factor for enhanced psychological well-being in building the level of resilience. Frontiers in Psychology, 13, 1056834. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1056834
Stapleton, A., Taylor, S., & Asmundson, G. J. G. (2023). The efficacy of mindfulness-based interventions in promoting resilience: A systematic review and meta-analysis of randomised controlled trials. Journal of Contextual Behavioral Science, 28, 20-34.














Leave a Reply